Media sosial telah menjadi ruang pertemuan yang luas, tanpa batas usia, jarak, dan latar belakang. Di satu sisi, ia membuka peluang belajar, berjejaring, dan berekspresi. Namun di sisi lain, media sosial juga membuka celah bagi bentuk kejahatan psikologis yang semakin sulit dikenali, salah satunya adalah child grooming, yaitu proses manipulasi emosional terhadap anak atau remaja dengan tujuan eksploitasi.
Child grooming tidak selalu dimulai dengan ancaman atau tindakan mencurigakan. Justru, banyak kasus bermula dari percakapan yang tampak biasa, ramah, bahkan suportif. Pelaku sering menyamar sebagai teman, mentor, atau sosok yang peduli. Inilah yang membuat child grooming berbahaya, ia tumbuh perlahan dari komunikasi yang tampak tidak berbahaya.
Berikut 5 penyebab child grooming datang dari percakapan di media sosial.
