- Penguatan dialog budaya
- Mediasi persoalan sosial lewat tokoh adat
- Pembekalan warga sebelum migrasi
- Penegakan hukum tegas tanpa stigma etnis
- Kampanye narasi positif kontribusi warga Bali–NTT
Pulihkan Harmoni Bali–NTT, Wagub Johni Asadoma Temui Gubernur Bali

- Wagub NTT meminta maaf ke warga Bali
- Permintaan maaf disampaikan secara terbuka kepada Gubernur Bali dan masyarakat Bali
- Gubernur Bali mengapresiasi langkah terbuka Pemprov NTT dan menegaskan pentingnya menjaga hubungan sosial dan budaya antara Bali-NTT
Kupang, IDN Times - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma memboyong kepala daerah sedaratan Pulau Sumba untuk menyampaikan maaf ke warga Bali. Tindakan ini dilakukan rombongan Pemerintah NTT atas ketegangan sosial yang dilakukan sejumlah oknum warga NTT di Bali sekaligus untuk memulihkan hubungan warga NTT–Bali.
Rombongan ini terdiri dari Wagub Johni bersama Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali, Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonu Wulla, Wakil Bupati Sumba Tengah Marthinus Umbu Djoka, serta Sekda Sumba Barat Yermia Ndapa Doda, ditambah jajaran pejabat Pemprov NTT dan tokoh diaspora Flobamora di Bali.
1. Sampaikan maaf secara terbuka

Permintaan maaf ini disampaikan kepada Gubernur Bali I Wayan Koster di Denpasar, Jumat (30/1/2026), yang didampingi Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto, Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya, Danrem 163/Wirasatya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, Kajati Bali Chataringa Muliana, hingga para kepala daerah di Bali.
Dalam forum resmi itu, Johni Asadoma menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pemerintah dan masyarakat Bali. Ia menyebut momentum itu menjadi pembelajaran sekaligus untuk menghapus stigma negatif yang timbul akibat ulah sejumlah oknum yang bermasalah. Ia mengakui peristiwa yang melibatkan segelintir warga telah memicu ketidaknyamanan selama ini.
“Atas nama Pemerintah Provinsi dan seluruh masyarakat NTT, kami menyampaikan permohonan maaf atas terganggunya keharmonisan, ketenteraman, dan kenyamanan masyarakat Bali akibat ulah oknum tertentu,” tegas Johni.
2. Respons Gubernur Bali

Gubernur Bali I Wayan Koster mengapresiasi langkah terbuka Pemprov NTT yang datang langsung membangun dialog. Ia menekankan mobilitas warga antarwilayah adalah dinamika biasa dalam negara, namun harus diimbangi komunikasi dan saling pengertian.
“Kita harus bersama-sama mengantisipasi agar tidak ada hal sensitif yang memicu konflik sosial. Bali adalah destinasi dunia yang harus dijaga keamanan dan kenyamanannya,” ujar Koster.
Pada saat yang sama keduanya juga menegaskan hubungan Bali–NTT bukan sekadar administratif, melainkan ikatan sosial dan budaya yang sudah terjalin lama, sehingga harmoni harus dijaga bersama.
3. Gubernur Bali bertemu Gubernur NTT di Labuan Bajo

Wagub NTT sendiri telah melakukan kunjungan ke Bali sejak 28 Januari dengan memulai pertemuan dengan sporadis atau perantau NTT di Bali, lalu bertemu jajaran Pemkab Badung dan Karangasem, kemudian Gubernur Bali, dengan agenda serupa dan memohon maaf.
Sementara I Wayan Koster sendiri pada 28 Januari 2026 di Labuan Bajo, NTT, dan telah bertemu dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka. Keduanya juga telah menandatangani kesepakatan atau yang disebut Komitmen Harmoni Kehidupan Bali–NTT. Kesepakatan itu meliputi:

















