Lokasi tambang emas yang menelan korban jiwa di Lantung Sumbawa. (dok. Pemda Sumbawa)
Sebelumnya, Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot mengatakan pemasangan garis polisi telah dilakukan sebagai langkah untuk mengamankan lokasi kejadian sekaligus mendukung proses penanganan lebih lanjut. Dia meny.apikan bahwa penanganan terhadap korban telah dilakukan sejak laporan kejadian diterima pada Sabtu (5/9/2026) malam. Sekitar pukul 22.00 WITA, Dia menerima laporan dari Camat Lantung dan langsung mengoordinasikan jajaran terkait untuk turun ke lokasi.
Koordinasi dan penanganan berlangsung hingga sekitar pukul 02.00 WITA. Setelah seluruh korban ditemukan dan mendapatkan penanganan, korban meninggal dunia diantar ke rumah masing-masing. Sementara korban luka berat dirujuk ke Sumbawa untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Adapun korban dengan luka ringan diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing setelah mendapatkan penanganan.
Terkait aktivitas pertambangan di lokasi tersebut, Jarot menegaskan bahwa Pemda Sumbawa sebelumnya telah meminta agar kegiatan penambangan yang belum mengantongi izin dihentikan. Hal tersebut telah disampaikan saat kunjungan bersama jajaran Forkopimda ke sejumlah lokasi penambangan rakyat di Kecamatan Lantung pada bulan Juli 2026 lalu.
“Kunjungan Forkopimda bulan lalu sudah kami tegaskan agar kegiatan dihentikan sebelum izin diterbitkan, khususnya bagi yang belum memiliki izin,” tegasnya.
Pemda Sumbawa telah melaporkan kondisi tersebut kepada Gubernur NTB dan melakukan koordinasi dengan Dinas ESDM NTB. Kewenangan terkait perizinan pertambangan serta pengawasan melalui inspektur tambang berada pada pemerintah provinsi. Karena itu, Pemda Sumbawa menunggu arahan dan petunjuk lebih lanjut dari Pemprov NTB.
Aktivitas penambangan di kawasan Lantung memang dikenal berisiko tinggi. Sebelumnya, berbagai laporan menyebutkan tambang di wilayah ini beroperasi tanpa pengawasan ketat dengan kondisi tanah labil dan tebing curam yang rawan longsor.
Para penambang hanya mengandalkan peralatan sederhana seperti pahat dan linggis, serta minim perlengkapan keselamatan. Di tengah aktivitas penambangan terjadi longsor material tanah dan batu dari atas gunung yang menimpa beberapa penambang di bawah yang sedang beraktivitas.
Dalam insisen yang terjadi pada Sabtu malam (5/9/2026), sebanyak tiga orang meninggal dunia. Yaitu Saifullah (58) assl Pelita Moyo Hilir, Imansyah (19) asal Pelita Moyo Hilir dan Syarafuddin (44) asal Leweng.
Selain itu, ada enam korban luka-luka yaitu Suryana (43) asal Langam, Novan Widianto (25) assl Labangka, Muslimin (47) assl Kakiang, Samsul (45) Lantung Sepukur, Jihan Ramdani (25) asal Lantung Sepukur dan Farel (17) asal Pelita Moyo Hilir.