OJK Sebut Indeks Literasi Keuangan Warga NTB Peringkat ke-2 Nasional

Mataram, IDN Times - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan indeks literasi keuangan masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar 65,45 persen yang merupakan tertinggi ke-2 secara nasional di 2023. Ini disebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 49,68 persen.
“Dan inklusi keuangan NTB sebesar 82,34 persen di bawah rata-rata nasional 85,10 persen,” kata Kepala OJK NTB, Rico Rinaldy seperti dikutip dari ANTARA pada Minggu (28/1/2024).
1. Libatkan anak muda

Dengan kondisi tersebut, OJK berharap Provinsi NTB selalu meningkat konsisten dengan melibatkan anak muda dalam proses pencapaiannya. Peringkat NTB bukanlah hal terpenting, yang utama adalah nilai indeks yang dicapai setiap tahunnya selalu meningkat.
“Semoga indeks literasi keuangan NTB bisa terus meningkat,” kata Rico Rinaldy.
Untuk meningkatkan indeks literasi keuangan masyarakat tersebut, OJK memberikan pelatihan bagi relawan Gerakan Mengajar Desa. Gerakan tersebut diisi oleh para anak muda yang ingin memajukan negeri melalui program Ekspedisi Mengajar Desa Batch
"Peserta kegiatan itu adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di NTB," ujarnya.
2. Edukasi keuangan sangat penting

Ia mengatakan edukasi keuangan hingga ke masyarakat perdesaan sangat penting dilakukan. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilaksanakan OJK pada 2022, tercatat sebesar 85,10 persen responden telah menggunakan produk dan atau layanan jasa keuangan formal di berbagai industri keuangan.
“Di sisi lain, tingkat pemahaman masyarakat terhadap hal tersebut masih rendah, yaitu sebesar 49,68 persen,” kata Rico Rinaldy.
3. Hindari tawaran jasa investasi ilegal

Sementara itu, General Secretary Gerakan Mengajar Desa NTB, Baiq Yulia Rizkia Wulandari, mengatakan pihaknya sudah menetapkan dua desa yang menjadi destinasi dalam ekspedisi kali ini, yaitu Desa Bilok Petung dan Desa Sambik Elen, di Pulau Lombok.
Dengan Training of Trainers (ToT) itu, pihaknya berharap para volunteer dapat mengenali lembaga jasa keuangan yang legal, dan ragam produk layanan keuangan yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Selain itu, mengetahui cara menghindari berbagai penawaran investasi ilegal yang berpotensi merugikan masyarakat.
"Dengan bekal ilmu membuat seseorang mampu mengubah dunia, terutama di tangan anak muda Indonesia yang kreatif, inovatif, dan kolaboratif," ujarnya.



















