Tanaman padi di Lombok Barat. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB Fathul Gani menyebutkan alih fungsi lahan pertanian dalam kurun waktu 2021-2022 mencapai 10 ribu hektare. Menurutnya, hal ini menjadi persoalan serius yang harus disikapi Pemda kabupaten/kota.
Ia mengatakan alih fungsi lahan pertanian paling banyak di Pulau Lombok. Karena semakin banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi pembangunan perumahan. Sehingga penting bagi Pemda kabupaten/kota untuk melakukan pengendalian alih fungsi lahan pertanian.
Berdasarkan data BPS NTB, luas panen padi pada 2023 sekitar 288,37 ribu hektare. Luas panen padi mengalami kenaikan sebanyak 18,28 ribu hektare atau 6,77 persen dibandingkan luas panen padi di 2022 sebesar 270,09 ribu hektare.
Produksi padi di NTB pada 2023 diperkirakan sebesar 1,55 juta ton gabah kering giling (GKG), mengalami kenaikan sebanyak 93,87 ribu ton GKG atau 6,46 persen dibandingkan produksi padi di 2022 yang sebesar 1,45 juta ton GKG.
Dari jumlah tersebut, produksi beras pada 2023 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan sekitar 880,99 ribu ton, mengalami kenaikan sebanyak 53,47 ribu ton atau 6,46 persen dibandingkan produksi beras di 2022 yang sebesar 827,52 ribu ton.
Sedangkan pada 2022, luas panen padi mencapai 270,09 ribu hektare. Luas areal panen padi mengalami penurunan sebesar 6.120 hektare atau 2,22 persen dibandingkan tahun 2021 sebesar 276,21 ribu hektare.
Produksi padi di Provinsi NTB sepanjang Januari hingga Desember 2022 mencapai 1,45 juta ton GKG. Meskipun luas areal panen padi berkurang 6.120 hektare, tetapi produksi padi mengalami kenaikan sebanyak 33,39 ribu ton GKG atau 2,35 persen dibandingkan 2021 sebesar 1,42 juta ton GKG.
BPS NTB mencatat produksi padi tertinggi pada 2022 terjadi pada bulan Maret, yaitu sebesar 467,69 ribu ton GKG sementara produksi terendah terjadi pada bulan Januari, yaitu sekitar 27,41 ribu ton GKG.
Peningkatan produksi padi yang cukup besar pada 2022 terjadi di beberapa wilayah potensi penghasil padi seperti Sumbawa, Lombok Tengah, dan Lombok Barat.
BPS NTB mencatat sebanyak 225.483 petani milenial di provinsi NTB berdasarkan hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2023. Jumlah petani milenial di NTB sebesar 30,37 persen dari total petani sebanyak 742.343 orang.
Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan petani milenial adalah mereka yang berumur 19 - 39 tahun, baik menggunakan teknologi digital maupun tidak. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 4 Tahun 2019 tentang Pedoman Gerakan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pertanian Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045, petani milenial merupakan petani berusia 19 tahun sampai 39 tahun, atau petani yang adaptif terhadap teknologi digital.
"Data petani milenial dapat menjadi salah satu indikator tingkat regenerasi di sektor pertanian serta menunjukkan pemanfaatan teknologi digital yang diharapkan dapat menciptakan pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan," kata Wahyudin.
Wahyudin menyebutkan kabupaten/kota dengan petani milenial terbanyak di NTB adalah Kabupaten Lombok Timur sebanyak 55.597 orang atau sekitar 24,66 persen dari keseluruhan petani milenial umur 19–39 tahun di Provinsi NTB.
Sementara itu, kabupaten/kota dengan jumlah petani milenial terbanyak kedua dan ketiga adalah Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Bima dengan masing-masing sebanyak 48.818 orang (21,65 persen) dan 34.865 orang (15,46 persen).