Lombok Bebas Rabies, 82 Korban Gigitan Anjing Gila di Sumbawa dan Bima

Mataram, IDN Times - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat sebanyak 82 kasus gigitan anjing gila atau rabies di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima periode Januari hingga Maret 2026. Korban gigitan anjing gila paling banyak di Kabupaten Sumbawa sebanyak 78 kasus, sedangkan Kabupaten Bima 4 kasus.
Kepala Disnakeswan NTB Muhammad Riadi dikonfirmasi IDN Times di Mataram, Jumat (24/4/2026) mengatakan kasus rabies masih terjadi di Pulau Sumbawa. Sedangkan Pulau Lombok, masih bebas dari kasus rabies meskipun ada bocah 11 tahun di Kabupaten Lombok Timur yang meninggal karena digigit anjing pada 13 April lalu. Dia memastikan bocah tersebut meninggal bukan digigit anjing rabies.
1. Kasus gigitan anjing gila paling banyak di Sumbawa

Riadi mengungkapkan bahwa kasus rabies paling banyak terjadi di Kabupaten Sumbawa. Sejak Januari hingga Maret 2026, pihaknya mencatat kasus gigitan anjing gila sebanyak 78. Dengan rincian pada Januari 21 kasus, Februari 29 kasus dan Maret 28 kasus.
Sedangkan di Kabupaten Bima tercatat total 4 kasus gigitan anjing gila. Pada Januari sebanyak 1 kasus dan Februari sebanyak 3 kasus. Sehingga jumlah kasus gigitan anjing gila di Sumbawa dan Bima sebanyak 82 kasus hingga Maret 2026.
"Kalau rabies ini kasus gigitannya yang naik. Untuk kasus rabiesnya kalau kita bandingkan dengan tahun lalu di kisaran itu, paling banyak di Sumbawa. Kalau di Pulau Lombok masih bebas kasus rabies," kata Riadi.
2. Kronologi bocah meninggal digigit anjing liar di Lombok Timur

Riadi menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa bocah 11 tahun meninggal dunia karena digigit anjing liar. Peristiwa itu terjadi di Desa Semaya, Kecamatan Sikur Lombok Timur. Pada waktu itu, ada dua orang anak mengejar layangan yang putus. Dua anak ini mengejar layangan sampai ke persawahan.
Ketika layangan sampai ke sawah anak tersebut bertemu dengan anjing yang baru melahirkan. Dengan kondisi tersebut terjadi gigitan. Jumlah anjing yang menggigit sebanyak 3 ekor, satu dilaporkan lagi menyusui.
Dengan kondisi sawah yang sepi menyebabkan terlambatnya pertolongan terhadap anak yang digigit anjing tersebut. Sehingga korban shock, mengalami banyak pendarahan dan akhirnya korban meninggal. Lokasi gigitan ada di leher dengan ada 4 tiitk lubang di leher. Dimana, ada pembuluh darah besar yang robek sehingga terjadi pendarahan.
Dari kejadian tersebut terjadinya gigitan karena ada tindakan provokasi dimana korban mendatangi anjing yang lagi memiliki anak dan menyusui. Sehingga anjing mempertahankan diri dengan merespons dan menggigit korban. "Kejadian di Lombok Timur itu, anak meninggal karena pendarahan bukan karena rabies," terangnya.
3. Tantangan pengendalian anjing liar di NTB

Riadi menambahkan bahwa Pemprov NTB berupaya mengadakan vaksin rabies meskipun jumlahnya masih terbatas. Vaksin tersebut nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat dan layanan vaksinasi yang akan dilakukan setelah proses pengadaan selesai.
Untuk pengendalian anjing liar demi mengurangi kasus rabies, kata Riadi masih menghadapi tantangan. Seperti adanya penolakan dari kelompok pecinta hewan terkait eliminasi anjing liar.
Menurutnya, perlu dibedakan kasus gigitan hewan dan kasus rabies. "Tidak semua gigitan berarti rabies. Data resmi terkait kasus rabies akan diverifikasi melalui sistem iSIKHNAS untuk memastikan keakuratan informasi," jelasnya.


![[QUIZ] Sendirian tapi Banyak Pikiran? Ini Gambaran Kepribadianmu!](https://image.idntimes.com/post/20260305/pexels-khoa-vo-2347168-4016610_20a923d6-2a78-4526-b8f2-8096d7130634.jpg)








![[QUIZ] Pernah Merasakan Sesuatu yang Gak Bisa Dijelaskan? Cari Tahu di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20251030/pexels-belacheers-1892512_27c4933c-3ef5-4512-8254-3348665415d1.jpg)






