Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lahan Pertanian Menyusut, Mentan: Solusinya adalah Food Estate!
Kerusakan lingkungan akibat program food estate di Kalimantan Tengah pada bulan September 2023. Foto Walhi

Lombok Tengah, IDN Times - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyatakan bahwa food estate menjadi solusi atas menyusutnya lahan pertanian. Menurutnya, berkurangnya lahan pertanian saat ini karena bertambahnya jumlah penduduk.

"Lahan pertanian menurun, iya. Solusinya adalah food estate. Food estate adalah untuk anak cucu kita. Bukan untuk satu, dua tahun, satu masa pemerintahan presiden, gubernur, bupati. Tapi itu untuk 1.000 tahun," kata Amran dikonfirmasi usai acara Gerakan Akselerasi Peningkatan Produksi Pangan di Halaman Kantor Bupati Lombok Tengah, Kamis (25/1/2024).

1. Pengembangan food estate skala besar

Mentan Amran Sulaiman. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Amran mengatakan solusi untuk ketahanan pangan ke depannya adalah food estate. Pemerintah membangun food estate skala besar di sejumlah provinsi di Indonesia. Dijelaskan food estate adalah salah satu upaya ekstensifikasi di sektor pertanian.

"Jadi kalau ada yang mengatakan berkurang lahan pertanian, terus mau diapain? Ditambah kan karena penduduk bertambah. Kalau penduduk bertambah maka lahan pertanian ditambah. Solusinya food estate," terangnya.

2. Tanggapi tudingan program food estate yang gagal

Mentan Amran Sulaiman. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Amran juga menanggapi adanya tudingan program food estate yang gagal di Kalimantan Tengah. Pemerintah mengembangkan food estate di kabupaten Gunung Mas yang dikhususkan untuk pengembangan pertanian singkong dan jagung.

"Itu kan cuma 600 hektare. Kami kelola lahan pertanian 7,4 juta hektare. Persentasenya hanya 0,008 persen. Heran kita ini, yang diperhatikan adalah 600 hektare tapi yang 7,4 juta hektare dia gak mau (perhatikan)," ucap Amran.

3. Klaim transformasi pertanian modern berhasil

Petani sedang membajak sawah untuk persiapan tanam padi.(IDN Times/Daruwaskita)

Pada kesempatan tersebut, Amran juga merespons soal berkurangnya kelompok tani perorangan. Ia menjelaskan bahwa jumlah kelompok tani justru naik sebesar 8,4 persen.

Ia mengatakan yang menurun adalah jumlah kelompok tani perorangan. Penurunan kelompok tani perorangan ini, menurut Amran disebabkan penggunaan mekanisasi pertanian.

Dulu, biasanya ketika panen membutuhkan tenaga kerja sebanyak 20 orang dalam satu hektare. Tetapi sekarang dengan menggunakan alat-alat pertanian, cuma membutuhkan satu orang tenaga kerja.

"Berarti transformasi pertanian dari tradisional ke modern berhasil," klaimnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article