Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Goresan Cangkul di Tanah NTT: Kisah Mahasiswa yang Tak Malu Jadi Petani

IMG_20250606_210310.jpg
Hironimus Rebon tengah menggarap lahan kebunnya di Kupang. (Dok istimewa)

Kupang, IDN Times - Senja mulai turun pelan di ufuk Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara kebanyakan anak muda bersiap menikmati akhir pekan, Hironimus Rebon justru masih setia menggenggam cangkul. Tubuhnya basah oleh peluh, namun wajahnya tetap tenang.

Di atas lahan seluas 2.500 meter persegi itu, ia menyiapkan tanah untuk ditanami sayuran esok hari. Kebun milik keluarganya ini bukan sekadar ladang, melainkan ruang tempat mimpi-mimpinya tumbuh—meski perlahan dan penuh tantangan.

“Kalau ada alat otomatis yang bisa bajak tanah, saya bisa pulang lebih cepat, lanjut kerjakan tugas kuliah,” ujar Hironimus saat dihubungi, Jumat (6/6/2025).

Ya, Hironimus bukan hanya seorang petani. Ia juga mahasiswa arsitektur di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Bertani dan beternak adalah aktivitas yang menafkahi pendidikannya. Di tengah geliat kota yang menawarkan mimpi modern, ia memilih membumi di tengah ladang-ladang sunyi.

1. Sistem pertanian di tanah air yang masih konvensional

ilustrasi alat-alat pertanian  (Dok. Kementan Ditjen PSP)
ilustrasi alat-alat pertanian (Dok. Kementan Ditjen PSP)

Hironimus percaya bahwa pertanian masih menjanjikan, terutama bagi pemuda yang bersedia membanting tulang dan memeras keringat. Namun kenyataannya, jalan itu tidak pernah mudah. Pemuda ini mengeluhkan terus melambungnya harga kebutuhan hidup, teknologi sulit diakses, dan bantuan dari pemerintah nyaris tak terlihat.

“Bertani secara konvensional itu berat dan tidak efisien. Tapi sampai pertengahan tahun ini, saya belum menerima bantuan apa pun dari pemerintah,” ungkapnya.

Ia sadar, ada banyak teknologi canggih seperti drone penyiram tanaman, alat pembajak otomatis, hingga sistem irigasi pintar. Tapi semua itu memerlukan modal besar—sesuatu yang belum berani ia pertaruhkan tanpa dukungan pasti.

2. Profesi petani di NTT belum memperoleh perhatian

Ilustrasi pertanian modern (unsplash.com/blixxmagger)
Ilustrasi pertanian modern (unsplash.com/blixxmagger)

Hironimus bukan satu-satunya anak muda yang memilih bertani di tengah stigma dan kesulitan. Tapi jumlah mereka masih sangat kecil. Menurut data BPS 2018, dari 1,4 juta petani di NTT, hanya sekitar 71 ribu yang masuk kategori milenial.

“Kalau bertani itu dijalankan serius, dengan pelatihan dan dukungan alat serta permodalan, saya yakin banyak anak muda yang tertarik jadi petani,” katanya.

Namun sampai hari ini, kebijakan yang mendukung regenerasi petani muda belum berjalan optimal. Banyak sekolah pertanian berdiri, tapi tidak sejalan dengan langkah strategis yang sesuai kebutuhan zaman.

3. Ancaman bagi keberlangsungan masyarakat di NTT

IMG_20250606_210159.jpg
Hironimus Rebon tengah menggarap lahan kebunnya di Kupang. (Dok istimewa)

Kekhawatiran akan masa depan pertanian di NTT bukan tanpa dasar. Dr. Leta Rafael Levis, pakar pertanian dari Universitas Nusa Cendana, menyebut bahwa mayoritas petani di NTT kini berusia di atas 50 tahun. Mereka cenderung lambat beradaptasi dengan teknologi.

“Kalau tidak ada regenerasi, maka sektor pertanian kita bisa terancam,” ujar Leta.

Ia menambahkan, pemerintah belum berhasil meyakinkan generasi muda bahwa profesi petani bisa menjadi pekerjaan bermartabat. Tanpa pengakuan sosial dan dukungan nyata, anak muda akan enggan turun ke sawah.

Hingga tersisa Hironimus muda di penghujung senja memanggul pacul sambil menatap lahan yang baru saja ia gemburkan. Di balik lelah itu, ada harapan yang tetap menyala—harapannya agar bertani tak lagi dianggap jalan terakhir, melainkan pilihan masa depan.

"Kalau ada kebijakan yang berpihak pada kami, saya yakin bertani bisa jadi profesi kebanggaan, bukan beban," ucapnya.

Hironimus mungkin hanya satu dari ribuan petani muda di NTT. Namun, kisahnya mencerminkan betapa besar potensi yang bisa tumbuh—asal diberi pupuk kebijakan dan air dukungan yang cukup.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us