Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus Suspek Campak Merebak, NTB Tetapkan KLB di Bima dan Dompu
Ilustrasi terkena campak (dok. flickr.com/idah rosidah)
  • Provinsi NTB menetapkan KLB suspek campak di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu setelah tercatat 985 kasus hingga pekan ketujuh tahun 2026.
  • Sebagian besar kasus menyerang anak di bawah lima tahun dengan imunisasi tidak lengkap, dipicu rendahnya cakupan imunisasi serta tingginya mobilitas penduduk.
  • Pemerintah memperkuat surveilans, pelacakan kontak, dan ORI bagi bayi-balita sambil mengimbau masyarakat tetap tenang, waspada, dan memastikan imunisasi anak lengkap.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
pekan ketujuh tahun 2026

Dinas Kesehatan Provinsi NTB mencatat total 985 kasus suspek campak di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu.

12 Maret 2026

Kepala Dinkes NTB Lalu Hamzi Fikri menyatakan tiga wilayah tersebut ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak dan menjelaskan faktor penyebab peningkatan kasus.

kini

Pemprov NTB memperkuat surveilans, pelacakan kontak, serta melaksanakan imunisasi tanggap wabah (ORI) di seluruh puskesmas. Monitoring dan evaluasi terus dilakukan hingga situasi terkendali.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak di Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu akibat peningkatan signifikan jumlah kasus.
  • Who?
    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri bersama pemerintah kabupaten/kota setempat serta tenaga kesehatan di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Where?
    Kejadian terjadi di tiga wilayah Provinsi NTB, yaitu Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu, dengan koordinasi penanganan dari Mataram sebagai pusat pemerintahan provinsi.
  • When?
    Status KLB diumumkan pada Kamis, 12 Maret 2026, berdasarkan data hingga pekan ketujuh tahun 2026 yang mencatat total 985 kasus suspek campak di tiga daerah tersebut.
  • Why?
    Peningkatan kasus dipicu rendahnya cakupan imunisasi campak-rubela lengkap, tingginya mobilitas penduduk, keterlambatan deteksi dini, serta faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.
  • How?
    Pemerintah melakukan surveilans aktif, pelacakan kontak, imunisasi tanggap wabah (ORI), pemberian vitamin A, edukasi masyarakat tentang gejala campak, serta penguatan isolasi dan logistik
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak anak di Bima, Kota Bima, dan Dompu sakit campak. Dokter bilang ini jadi kejadian luar biasa karena sudah hampir seribu anak kena. Banyak yang belum imunisasi lengkap. Sekarang petugas kasih vaksin dan vitamin A supaya anak cepat sembuh. Orang tua diminta tenang dan bawa anak imunisasi biar tidak tambah sakit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Penetapan status KLB di Bima, Kota Bima, dan Dompu menunjukkan kesigapan Pemerintah Provinsi NTB dalam merespons peningkatan kasus suspek campak. Langkah cepat seperti penguatan surveilans, pelacakan kontak, pemberian imunisasi tanggap wabah, serta edukasi masyarakat mencerminkan koordinasi yang kuat dan komitmen tinggi untuk melindungi kesehatan anak-anak di wilayah tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mataram, IDN Times - Kasus suspek campak di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu kian merebak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTB hingga pekan ketujuh tahun 2026, tercatat total 985 kasus suspek campak di Provinsi NTB yang seluruhnya berasal dari tiga kabupaten/kota tersebut.

Kepala Dinkes Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri, Kamis (12/3/2026) mengatakan Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak. Dia mengatakan peningkatan kasus dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) lengkap.

"Fluktuasi cakupan imunisasi rutin yang belum optimal dalam beberapa tahun terakhir juga membuka akumulasi populasi rentan," kata Fikri.

1. Kasus suspek campak didominasi anak di bawah 5 tahun

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Selain itu, tingginya mobilitas penduduk pada akhir dan awal tahun juga menjadi faktor penyebab meningkatnya kasus campak di NTB. Kemudian keterlambatan deteksi dan respons awal, serta faktor lingkungan dan perilaku menjadi penyebab peningkatan kasus.

Fikri mengungkapkan kasus suspek campak di tiga kabupaten/kota tersebut didominasi oleh anak usia di bawah 5 tahun. Sebagian besar kasus terjadi pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap atau belum pernah diimunisasi.

"Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya KLB," terangnya.

2. Perkuat surveilans dan pelacakan kontak

ilustrasi virus campak (unsplash.com/CDC)

Pemprov NTB bersama pemerintah kabupaten/kota telah mengambil langkah dengan melakukan penguatan surveilans aktif dan pelacakan kontak di tingkat desa dan puskesmas. Selain itu pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) pada seluruh Puksesmas di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu, dengan prioritas ORI diberikan bagi bayi dan balita berusia 9 sampai dengan 59 bulan.

Langkah penanganan juga dilakukan dengan pemberian vitamin A pada kasus campak untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko kematian. Selanjutnya, penguatan edukasi masyarakat mengenai gejala campak, pentingnya imunisasi lengkap, dan segera berobat ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala demam disertai batuk atau pilek dan ruam.

"Serta menjamin ketersediaan logistik KLB, termasuk vaksin, vitamin A, dan dukungan tata laksana klinis di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes)," tambahnya.

3. Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada

Ilustrasi vaksinasi campak. (Pixabay.com/kfuhlert)

Upaya lainnya dengan penguatan triase isolasi campak di fasyankes yang fokus pada pemisahan cepat suspek dengan gejala demam, ruam, batuk atau pilek di Instalasi Gawat Darurat (IGD) atau rawat jalan. Penyediaan area isolasi khusus serta penanganan segera pasien dengan komplikasi sesak, diare, sulit makan untuk mencegah penularan intensif, terutama saat lonjakan kasus KLB.

Fikri menyatakan Pemprov NTB terus melakukan monitoring dan evaluasi berkala hingga situasi dinyatakan terkendali. Dia mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada, serta berperan aktif dalam memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal guna memutus rantai penularan campak.

Editorial Team