Kolase 2 bakal calon Gubernur Lampung di Pilkada 2024, Arinal Djunaidi (kiri) dan Rahmat Mirzani Djausal (kanan). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
Dua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 mulai menebar sederet janji politik demi memikat hati dan suara rakyat. Iming-iming mulai dari perbaikan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga urusan ekonomi disampaikan ke publik
Pada pilkada Lampung, diketahui 2 paslon Gubernur dan Wakil Gubernur telah mendaftarkan diri. Keduanya ialah Arinal Djunaidi-Sutono berstatus sebagai gubernur incumbent dan penantang baru Rahmat Mirzani Djausal-Jihan Nurlela.
Terkait urusan infrastruktur, Arinal mengumbar impian bakal membangun perlintasan kereta api langsung menghubungkan Provinsi Sumatera Selatan menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Termasuk membangun jembatan di atas Selat Sunda menghubungkan Pelabuhan Bakauheni-Merak.
"Ini saya sampaikan karena investornya sudah menunggu, tapi kalau ini tidak jadi, jangan salahkan saya. Tapi mudah-mudahan," ujarnya.
Sementara itu, Sutono mengaku, tim pemenangannya kini sedang menggodok janji-janji politik pencalonannya berpasangan dengan Arinal. Ia tak menampik, visi, misi dan program kerja tersebut bakal mengakomodir janji politik periode pertama masa jabatan Arinal Djunaidi sebagai gubernur.
"Kami lebih optimis karena saya mendampingi Pak Arinal sebagai gubernur, beliau sudah punya pengalaman dan ada yang sudah dikerjakan, bukan baru mau ada yang dikerjakan. Kita sempurnakan yang sudah ada, pasti kita akan melanjutkan programnya dan menyempurnakan, sekaligus mengimplementasikan program Presiden terpilih," ucapnya, Jumat (6/9/2024).
Sutono mengklaim, janji-janji politik sedang dirumuskan tersebut juga mempertimbangkan kemampuan daerah guna direalisasikan di tengah-tengah masyarakat Lampung nantinya.
"Iya ada penyempurnaan, optimis kita menang," lanjut Sekretaris DPD PDIP Lampung tersebut.
Sementara itu, berstatus sebagai penantang petahana, paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Rahmat Mirzani Djausal-Jihan Nurlela mengusung visi bertajuk "Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas" dan menghadirkan tiga misi yakni, mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mandiri, inovasi; memperkuat sumber daya manusia yang unggul; dan meningkatkan kehidupan masyarakat yang beradab, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Dalam visi misi tersebut, paslon didukung dan diusung 9 gabungan parpol menamai diri sebagai Koalisi Lampung Maju ini menyodorkan total sebanyak 18 program.
Menurut Mirza, tawaran 18 program kerja tersebut telah menakar kemampuan fiskal anggaran daerah tahun mendatang yang diakui tergolong amat sedikit. Meski demikian, keterbatasan keuangan itu diklaim masih memungkinkan mengakomodir janji-janji politik keduanya untuk diimplementasikan ke tengah-tengah masyarakat.
"Ruang anggaran kita ke depan sangat sedikit, gak lebih dari 1 triliun di luar mandatory. Ini (proker) sudah kita coba adaptasikan bersama tim, sehingga bagaimana program kerja kita bisa terafiliasi dan terintegrasi dan baru kita buat program kerja," ujar Ketua DPD Gerindra Lampung tersebut.
Menyoal iming-iming program kerja para paslon gubernur dan wakil gubernur ini, Pengamat Ekonomi Lampung, Erwin Oktavianto mengatakan, sederet program kerja masih sekadar upaya meningkatkan elektabilitas suara. Sebab, khususnya janji-janji besar paslon tanpa disertai parameter yang jelas bila ditelisik dari perwujudannya.
Pasalnya, realisasi janji politik tersebut diprediksi bakal terkendala oleh kemampuan keuangan Pemerintah Provinsi Lampung, hingga sinkronisasi kebijakan antara pemerintah daerah dengan pusat.
"Seharusnya janji yang mereka buat mesti dipikir matang, disertai alur kebijakan telah disiapkan, ataukah itu hanya sebatas janji keinginan tanpa ada alat ukur yang pasti," ingat dia.
Dalam kontestasi Pilkada 2024, Erwin mengingatkan, agar masyarakat cerdas dan cermat dalam menentukan pilihan terhadap sosok pemimpin bakal menahkodai Provinsi Lampung di lima tahun ke depan. Jangan sampai suara rakyat justru termakan oleh buaian janji cenderung tak logis dan realitas.
Sebagai acuannya, APBD Provinsi Lampung sejauh ini masih berkisar Rp7 triliun hingga Rp9 triliun, sedangkan PAD kurang dari Rp1 triliun. Kondisi ini jelas sulit tercapai tatkala janji-janji politik tersebut harus diakomodir dengan kemampuan keuangan daerah.
"Anggaran ini tidak bisa semuanya digelontorkan untuk memenuhi janji kampanye paslon, karena harus diingat, ada biaya rutin, belanja rutin dan sebagainya. Itu saja sudah menghabiskan 60 persen anggaran APBD, sisanya 40 persen ini pun masih dibagi-bagi," sebutnya.