AMNT Dipastikan Tak Ajukan Perpanjangan Relaksasi Ekspor Konsentrat

- PT Amman Mineral Nusa Tenggara memastikan tidak mengajukan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga setelah izin berakhir pada April 2026, karena smelter di Sumbawa Barat sudah beroperasi optimal.
- Pemerintah Provinsi NTB mempercepat pengembangan Kawasan Industri Sumbawa Barat untuk menarik investasi pengolahan produk turunan smelter dan memberikan insentif setara kawasan ekonomi khusus.
- BPS mencatat nilai ekspor NTB pada April 2026 naik 1.294,11 persen dibanding tahun sebelumnya, didominasi komoditas tambang terutama bijih tembaga dan konsentrat yang sebagian besar diekspor ke Tiongkok.
Mataram, IDN Times - PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) memastikan tak mengajukan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga ke pemerintah. Izin ekspor konsentrat perusahaan tambang emas dan tembaga itu berakhir pada akhir April 2026 lalu.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB Samsudin. Dia mengungkapkan belum lama ini telah berdiskusi dengan PT AMNT terkait persoalan tersebut. "Sebagaimana hasil diskusi kami dengan AMNT kemarin, bahwa mereka sementara ini belum kepikiran untuk mengajukan perpanjangan izin relaksasi ekspor konsentrat," kata Samsudin di Mataram, Sabtu (6/6/2026).
1. Optimalkan operasional smelter

Dia menjelaskan bahwa saat ini, PT AMNT sedang mengoptimalkan operasional smelter yang berada di Kabupaten Sumbawa Barat. Disebutkan, sekitar 90 persen peralatan smelter sudah beroperasi. Samsudin menambahkan bahwa tidak ada alasan kuat yang membuat AMNT untuk mengajukan perpanjangan ekspor konsentrat.
"Karena smelter yang ada sekarang sudah berjalan. Kalau persentase peralatannya hampir 90 persen. Kalau kita minta relaksasi harus ada sesuatu yang kahar. Kalau tidak ada itu (kahar) maka tidak bisa mengajukan relaksasi ekspor," tambahnya.
2. Percepat pengembangan kawasan industri Sumbawa Barat

Samsudin mengungkapkan hasil komunikasi dan koordinasi dengan AMNT bahwa mereka tidak mengajukan perpanjangan izin ekspor konsentrat setelah berakhir pada akhir April lalu. Sekarang, perusahaan tersebut sedang memperkuat operasional smelter sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, kata Samsudin, Pemprov NTB sedang mempercepat pengembangan Kawasan Industri Sumbawa Barat yang sudah masuk dalam proyek strategis nasional. Dengan adanya Kawasan Industri Sumbawa Barat, diharapkan dapat menarik investasi yang mengolah produk turunan smelter.
Dia menjelaskan telah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB. Nantinya, Disperindag NTB akan mendorong terbentuknya pengelola Kawasan Industri Sumbawa Barat. Dengan terbentuknya kelembagaan Dewan Kawasan Industri Sumbawa Barat, maka fasilitas yang diterima investor sama seperti berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
"Kami koordinasi dengan Disperindag, itu kawasan industri Sumbawa Barat agar ada namanya Dewan Kawasan Industri Sumbawa Barat. Kalau jadi kawasan industri, ada insentif bagi investor yang mau menanamkan investasinya di sana," terangnya.
3. Ekspor NTB Bulan April mencapai 1.294,11 persen, didominasi komoditas tambang

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Provinsi NTB pada Bulan April 2026 mencapai US$ 545,19 juta atau naik 1.294,11 persen dibanding ekspor Bulan April 2025. Kelompok komoditas ekspor Provinsi NTB yang terbesar adalah barang galian/tambang non migas sebesar US$ 514.210.418 (94,32 persen), tembaga sebesar US$ 21.590.909 (3,96 persen), perhiasan atau permata sebesar US$ 7.503.352 (1,38 persen), ikan dan udang sebesar US$ 918.278 (0,17 persen), serta daging dan ikan olahan sebesar US$ 257.422 (0,05 persen).
Pada April 2026, ekspor provinsi NTB yang terbesar ditujukan ke Tiongkok (94,37 persen), Thailand (3.97 persen), Hongkong (1,18 persen), Amerika Serikat (0,20 persen), Jepang (0,19 persen) dan Lainnya (0,09 persen). Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan nilai ekspor Provinsi NTB pada April 2026 meningkat dibandingkan April 2025 sebesar 1.294,11 persen.
Peningkatan ini didorong oleh adanya ekspor barang tambang berupa bijih tembaga dan konsentratnya serta peningkatan ekspor barang non tambang berupa perak hasil industri smelter. Sementara itu, jumlah ekspor barang non-tambang mengalami penurunan dibandingkan bulan April 2025. "Penurunan ini disebabkan oleh penurunan ekspor tembaga hasil industri smelter," kata Wahyudin.


















