Kader PDIP yang babak belur diamuk massa. (dok. Polda NTB)
Anggota DPRD NTB Dapil Lombok Barat dan Lombok Utara ini menyatakan bahwa pernyataan Kapolres Lombok Barat telah membuat penggiringan opini yang tidak baik pada partai PDIP. Sebab, akibat penyataan itu, masyarakat sudah mengaitkan PDIP sebagai partai dengan hal yang tidak baik.
Menurutnya, ini berdampak pada elektoral partai yang terganggu dan merugikan menjelang perhelatan Pemilu 2024. Untuk itu, ia meminta Kapolres Lombok Barat mencabut pernyataannya yang sudah menyimpulkan sesuatu kasus yang belum terbukti kebenarannya. Karena sudah berani mengumbar di media bahwa sudah disimpulkan kader PDIP tersebut adalah pelakunya.
Raden Nuna menegaskan PDIP NTB akan solid mengawal kasus yang menimpa kader PDIP di Lombok Barat itu hingga menemui titik terang. Menurutnya, aksi persekusi yang terjadi pada kader PDIP di Sekotong, menandakan bahwa negara tidak hadir dalam melindungi warga negaranya. Terlebih menurutnya aparat kepolisian terkesan membiarkan warga seenaknya melakukan pemukulan hingga menyebabkan kader PDIP hingga kini dirawat intensif di RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat.
"Dari hasil investigasi kami, peristiwa persekusi di Sekotong itu, sangat menodai kita semua, apalagi belum ada bukti yang valid pada kader kami," ucapnya.
Ia mendesak agar para pelaku tindakan perkusi itu, diproses secara hukum. Apalagi, tanpa ada laporan secara resmi, tentunya para pelaku yang melakukan aksi main hakim sendiri yang sudah jelas terekam dalam video yang beradar luas itu, tidak dibenarkan dalam posisi negara Indonesia yang menganut sistem hukum di atas segala-galanya. Untuk itu, PDIP NTB meminta agar Polda NTB mengambil alih kasus persekusi yang menimpa kader PDIP di Sekotong.
"Kami minta para pelaku perkusi kepada kader kami yang ada di video agar di proses hukum dengan tegas dan seadil-adilnya. Mohon Pak Kapolda, kasus perkusi di Sekotong diambil alih. Ini agar ada kepastian hukum dalam penanganannya," kata Raden Nuna.