Dua Ruang Kelas SMAN 7 Mataram Ambruk, Empat Siswa Jadi Korban

- Dua ruang kelas SMAN 7 Mataram ambruk saat jam istirahat salat Zuhur, menyebabkan empat siswa menjadi korban, tiga luka ringan dan satu dirujuk ke RSUD Kota Mataram.
- Kepala sekolah menjelaskan plafon tiba-tiba runtuh tanpa tanda-tanda sebelumnya, sementara sebagian besar siswa sedang beribadah di musala sekolah.
- Bangunan yang ambruk berusia sekitar 20 tahun hasil swadaya orang tua siswa, kini seluruh area terdampak ditutup untuk mencegah risiko ambruk susulan.
Mataram, IDN Times - Suasana di SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) mendadak mencekam pada Selasa (19/5/2026) sekitar pukul 12.30 WITA. Dua ruang kelas SMAN 7 Mataram ambruk pada saat para siswa sedang melaksanakan salat Zuhur berjemaah di musala sekolah.
Dalam peristiwa tersebut, empat siswa yang berada di dalam kelas menjadi korban. Tiga di antaranya mengalami luka lecet ringan, sementara satu siswa harus dirujuk ke RSUD Kota Mataram untuk observasi lebih lanjut.
Kepala SMAN 7 Mataram Ridha Rosalina mengatakan sebenarnya ada lima orang siswa yang berada di dalam kelas pada saat istirahat salat Zuhur. Namun, satu orang sudah keluar duluan, sehingga ada empat orang siswa yang berada di dalam ruangan pada saat peristiwa terjadi.
1. Kronologi ambruknya dua ruang kelas SMAN 7 Mataram

Rosalina menjelaskan kronologi peristiwa ambruknya atap dua ruang kelas SMAN 7 Mataram. Peristiwa ini terjadi tepat saat jam istirahat dan salat zuhur berjamaah. Saat kejadian sebagian besar siswa sudah diarahkan untuk beribadah ke musala.
"Saat itu siswa sedang salat Zuhur berjamaah, ini sudah biasa. Nah, yang ada di dalam kelas itu adalah lima siswa yang tidak melaksanakan salat (beragama lain). Namun, satu siswa sudah keluar duluan sebelum kejadian," terang Rosalina dikonfirmasi di SMAN 7 Mataram, Selasa (19/5/2026) petang.
Dia mengatakan kejadian itu tanpa ada tanda-tanda sebelumnya seperti angin kencang atau keretakan, plafon kelas tiba-tiba ambruk. Suara ambruknya plafon tersebut bahkan digambarkan sangat keras.
"Tiba-tiba ambruk. Suaranya keras sekali, mirip seperti suara dump truck yang sedang menurunkan batu," tuturnya.
2. Tiga siswa diperbolehkan pulang, satu siswa dirujuk ke RSUD Kota Mataram

Rosalina menambahkan bahwa empat siswa yang menjadi korban langsung dievakuasi ke Puskesmas yang berada tepat di belakang SMAN 7 Mataram untuk mendapatkan penanganan medis. Dijelaskan, tiga siswa mengalami luka gores dan lecet sedikit serta sudah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing setelah ditangani di Puskesmas.
Sementara, satu siswa dirujuk ke RSUD Kota Mataram karena mengeluhkan pusing dan diduga mengalami syok, sehingga memerlukan observasi medis lebih lanjut. "Secara fisik tidak ada luka (parah), cuma mungkin syok ya. Katanya kepalanya pusing, jadi kami rujuk ke rumah sakit kota untuk observasi lebih lanjut," jelas Rosalina.
3. Usia bangunan sudah 20 tahun

Rosalina membeberkan bahwa bangunan yang ambruk tersebut merupakan hasil swadaya murni dari orang tua siswa yang dibangun pada tahun 2006, bukan dari dana bantuan pemerintah. Secara visual, kondisi bangunan dinilai masih sangat kokoh. Plafon ruang kelas tersebut sempat diperbaiki pascagempa bumi Lombok pada 2018 silam.
"Pagi tadi saat jam pertama, saya seperti biasa keliling. Saya lihat plafonnya baik, tidak ada yang mencurigakan. Kondisinya bagus, tapi yang namanya di atas kita kan tidak tahu," ungkapnya.
Gedung yang terdampak tersebut terdiri dari tiga ruangan, yaitu dua ruang kelas dan satu ruang perpustakaan. Meskipun hanya kelas 11 A2 yang mengalami kerusakan parah, pihak sekolah mengambil langkah tegas demi keselamatan bersama.
Mengingat ketiga ruangan tersebut berada dalam satu struktur bangunan yang sama, seluruh ruangan di area tersebut kini ditutup total untuk mengantisipasi ambruk susulan. Rosalina menjelaskan bahwa umur bangunan yang ambruk sudah 20 tahun.



















