Cerita Zulhas Naikkan Harga Gabah Tanpa Hiraukan Kualitas dan Inflasi

- Zulkifli Hasan menaikkan HPP Gabah Kering Panen menjadi Rp6.500 per kg demi kesejahteraan petani, meski sempat diperingatkan soal potensi kenaikan inflasi.
- Ia menghapus syarat kadar air 14–18 persen agar semua kualitas gabah dibeli dengan harga sama, yang berdampak pada peningkatan produksi sekitar 3 persen di Kupang.
- Zulhas juga memangkas izin pupuk dari 145 jadi 3 aturan, meningkatkan penyerapan pupuk hingga 58 persen dan mendorong produksi beras naik 8 persen tanpa impor pada 2025.
Kupang, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menceritakan bagaimana ia menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp6.500 per kilogram (kg). Zulhas yang juga Ketua Umum PAN itu membuka hal tersebut di Kota Kupang, Jumat (15/5/2026), saat melantik pengurus PAN seluruh Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia mengakui pada awalnya ia sudah diperingatkan akan dampak inflasi bila HPP GKP dinaikkan namun menurutnya petani harus jadi prioritas utama. Ia juga menaikkan HPP GKP ini tanpa harus melihat kualitas dan kadar airnya.
1. Pilih berpihak ke petani, bukan inflasi

Menurutnya, intervensi harga gabah yang ia lakukan sebagai contoh keberpihakannya kepada rakyat. Harga gabah selama ini tertinggi di Rp 5 ribu dan menurutnya akan melindungi makro ekonomi termasuk menjaga inflasi.
"Harga gabah selama puluhan tahun Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu, sudah begitu dikasih catatan harus kadar 14 atau 18 persen. Petani terimanya Rp 3 ribu - Rp 3.500. Kenapa itu dilakukan? Agar inflasi tidak naik," bebernya.
Baginya petani mestinya mendapat untung sejak awal dengan HPP GKP yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Untuk itu ia harus menghiraukan soal inflasi.
"Para menteri mengatakan 'Pak kalau sudah naik nanti inflasi tinggi' tapi itu nanti yang penting petani makmur dulu. Maka harga kita naikkan Rp 6.500," ceritanya lagi.
2. Harga tanpa syarat kadar air

Selain itu, syarat kadar air yang sebelumnya 14 - 18 persen juga dihapusnya sehingga pemerintah akan mengambil dengan harga Rp 6.500 tanpa ketentuan tersebut.
"Saya bilang tidak boleh ada syarat itu maka kita hapus. Petani tidak mengerti kadar air, mereka tidak bisa mengukur itu. Harga Rp 6,5 ribu, any quality, tidak boleh kurang," imbuhnya.
Ia menyebut harga beli gabah dari petani di Kupang saat ini tidak di bawah ketetapan baru tersebut. Ketentuan ini pun dinilainya mampu mendorong produksi beras.
"Saya kira di Kupang tidak ada gabah yang harganya di bawah Rp 6.500. Ada Pak Gubernur? Rata-rata Rp 6.500. Dampaknya produksi naik 3 persen," lanjut Zulhas.
3. Kebijakan pupuk dan naiknya produk tani

Selain gabah, ia mengaku sudah mengintervensi kebijakan pupuk terkait izin yang berbelit-belit. Menurutnya ada 145 izin atau regulasi yang dipangkas banyak.
"Ada 145 aturan tinggal 3. Itu saya panggil rapat tiga hari dan kita pangkas sehingga pupuk langsung ke petani," lanjut dia.
Kebutuhan pupuk biasanya terserap 6 juta dan naik 9,5 juta begitu dipermudah perizinannya atau naik 58 persen. Sementara produksi beras naik 8 persen karena kemudahan mendapatkan pupuk.
Zulhas menyebut hal ini membuat RI tak mengimpor beras pada 2025 ditambah nilait tukar petani yang turut naik. Sebelumnya ia menyebut Indonesia berusaha swasembada 30 tahun untuk mencapai ini.
"Tahun 2024 kita impor beras 4,5 juta ton dan tahun 2025 kita impornya nol malah stok beras kita lebih 4,2 juta ton," jelas dia lagi.

















