Tanpa Pendaftaran Umum, SRMA di Lotim Cari Siswa dari Keluarga Miskin Ekstrem

- SRMA 30 Lombok Timur buka penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026–2027 tanpa pendaftaran umum, hanya melalui penjangkauan langsung ke keluarga miskin ekstrem.
- Kuota penerimaan dibatasi 90 siswa dan proses seleksi dilakukan bersama PKH, Dinas Sosial, serta BPS untuk mendata dan mewawancarai calon siswa.
- Syarat utama calon siswa berasal dari desil 1, lalu desil 2 jika kuota tersisa; seluruh proses bebas titipan dan ditetapkan lewat SK Gubernur setelah verifikasi lapangan.
Lombok Timur, IDN Times – Sekolah Menengah Rakyat Atas (SRMA) 30 Lombok Timur resmi membuka penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2026–2027. Namun, berbeda dengan sekolah pada umumnya, SRMA tidak membuka pendaftaran secara umum bagi masyarakat.
Proses penerimaan siswa dilakukan melalui penjangkauan langsung ke keluarga sasaran. Program ini khusus menyasar keluarga yang masuk kategori desil 1 dan 2 atau miskin ekstrem.
1. Kouta hanya 90 siswa

Kepala SRMA 30 Lombok Timur , Mohammad Afandi menjelaskan bahwa kuota untuk siswa tahun ajaran 2026/2027 yang tersedia hanya 90 siswa. Lebih sedikit jika dibandingkan dengan tahun ajaran 2025-2026 yang berjumlah 125 orang siswa.
Untuk penerimaan siswa tidak dilakukan seperti penerimaan pada sekolah biasa, tetapi dengan teknis penjangkauan. Penjangkauan dilakukan bekerja sama dengan Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Dinas Sosial, dan Badan Pusat Statistik (BPS). Mereka bertugas mendata, mendaftarkan, serta melakukan wawancara dengan calon siswa dan keluarganya.
"Kita tidak melakukan penerimaan seperti sekolah biasa. Kami menjangkau langsung keluarga miskin ekstrem," ujar kepala sekolah.
2. Syarat masuk prioritas desil 1 dan 2

Dijelaskan Afandi, berdasarkan data dari Koordinator PKH Kabupaten Lombok Timur, jumlah anak usia sekolah dari jenjang SD hingga SMA yang masuk dalam desil 1 dan 2 berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Nasional (DTSEN) mencapai lebih dari 12 ribu anak. Namun, untuk jumlah spesifik siswa SMA yang masuk desil 1 dan 2 di Lombok Timur, hingga saat ini masih belum tersedia data rincinya.
"Untuk data rinci kami belum terima," ujarnya.
Afandi menegaskan bahwa syarat utama untuk dapat masuk SRMA 30 adalah calon siswa wajib berasal dari desil 1. Jika kuota masih tersedia, maka penerimaan dilanjutkan ke desil 2. Apabila kuota masih ada setelah itu, barulah diambil dari desil 3.
"Prioritas utama adalah desil 1, kemudian naik ke desil 2. Jika kuota masih ada, baru kita ambil desil 3," jelasnya.
3. Tidak ada titipan, murni berbasis penjangkauan

Lanjut Afandi, meskipun banyak pihak telah menanyakan pendaftaran, pihaknya mengikuti arahan menteri yang melarang keras praktik titip-menitip. Seluruh proses penerimaan dilakukan murni berdasarkan hasil penjangkauan kepada keluarga yang benar-benar tidak mampu dan masuk kategori desil 1 dan 2.
Setelah terjangkau, tim akan melakukan pengecekan fakta lapangan untuk memastikan validitas data. Apabila data dinyatakan valid, maka calon siswa akan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur.



















