Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Buku yang Cocok Dibaca saat Kamu Mulai Merasa Lelah Mental

5 Buku yang Cocok Dibaca saat Kamu Mulai Merasa Lelah Mental
Seorang wanita sedang membaca buku sambil rebahan di sofa. (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Artikel membahas tentang kondisi lelah mental yang sering muncul tanpa tanda jelas dan pentingnya memberi jeda serta ruang aman bagi diri sendiri melalui kegiatan membaca.
  • Lima buku direkomendasikan karena mampu menenangkan pikiran, menghadirkan kejujuran emosional, serta membantu pembaca memahami dan menerima perasaan lelah tanpa tekanan untuk selalu produktif.
  • Setiap buku menawarkan pendekatan berbeda—dari refleksi sederhana hingga filsafat hidup—namun semuanya menegaskan bahwa rasa lelah adalah sinyal untuk beristirahat, bukan kelemahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada masa ketika tubuh masih sanggup beraktivitas, tetapi pikiran terasa terus menumpuk beban. Lelah mental sering datang tanpa tanda yang jelas: sulit fokus, mudah tersinggung, atau merasa hampa meski hari berjalan seperti biasa. Pada titik ini, seseorang tidak selalu membutuhkan solusi besar, namun yang dibutuhkan justru jeda dan rasa dipahami.

Buku bisa menjadi ruang aman untuk beristirahat sejenak dari hiruk pikuk tuntutan hidup. Melalui kata-kata yang jujur dan pengalaman yang dekat dengan keseharian, bacaan yang tepat dapat membantu menenangkan pikiran dan mengembalikan keutuhan diri.

Berikut 5 buku yang cocok dibaca saat mulai merasa lelah mental.

1. Hidup Itu Indah, Jangan Dipikirkan karya Puthut EA

Seorang wanita sedang duduk santai sambil membaca buku.
Seorang wanita sedang duduk santai sambil membaca buku. (pexels.com/cottonbro studio)

Buku ini berbicara tentang hidup dengan cara yang sangat sederhana dan apa adanya. Puthut EA menulis tentang kegagalan, kebingungan, dan kelelahan hidup tanpa mencoba mengubahnya menjadi motivasi kosong. Justru karena kejujurannya, buku ini terasa menenangkan.

Saat lelah mental, buku ini mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu dipikirkan secara berat. Ada kalanya, menerima hidup apa adanya jauh lebih menenangkan daripada memaksakan diri untuk selalu kuat dan produktif.

2. Rectoverso karya Dee Lestari

Seorang perempuan sedang membaca buku di taman.
Seorang perempuan sedang membaca buku di taman. (pexels.com/Sixtine 식스틴 Epitalon)

Rectoverso menyajikan cerita-cerita pendek yang sarat emosi tentang cinta, kehilangan, dan pilihan hidup. Bahasa Dee Lestari yang lembut membuat pembaca merasa ditemani, bukan dinasihati.

Buku ini cocok dibaca saat pikiran penuh dan emosi sulit diurai. Ia memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan lelahnya hidup tanpa merasa bersalah, seolah berkata bahwa perasaan tersebut valid dan layak didengarkan.

3. Filosofi Teras karya Henry Manampiring

Ilustrasi buku yang membuatmu jatuh cinta pada membaca lagi. (Pinterest/Safeyaa)
Ilustrasi buku yang membuatmu jatuh cinta pada membaca lagi. (Pinterest/Safeyaa)

Dengan pendekatan filsafat Stoik, buku ini membantu pembaca memilah mana hal yang bisa dikendalikan dan mana yang harus dilepaskan. Filosofi Teras sangat relevan bagi mereka yang merasa lelah karena terlalu banyak memikirkan hal di luar kendali.

Buku ini menenangkan pikiran dengan logika yang membumi. Ia tidak menuntut perubahan drastis, melainkan mengajak pembaca mengatur ulang cara berpikir agar beban mental terasa lebih ringan.

4. The Comfort Book karya Matt Haig

Ilustrasi buku yang bekerja seperti terapi, wajib kamu baca! (Pinterest/Thalia Bücher GmbH)
Ilustrasi buku yang bekerja seperti terapi, wajib kamu baca! (Pinterest/Thalia Bücher GmbH)

Buku ini terdiri dari potongan refleksi singkat yang bisa dibaca secara acak. Tidak ada alur yang harus diikuti, sehingga cocok untuk pembaca yang sulit berkonsentrasi karena kelelahan mental.

The Comfort Book menawarkan kehangatan melalui kata-kata sederhana. Ia tidak mencoba memperbaiki hidupmu, tetapi hadir sebagai pengingat bahwa kamu tidak sendirian dalam rasa lelah itu.

5. Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl

Ilustrasi buku yang harus kamu baca sebelum usia 30 tahun. (Pinterest/Shivani Choudhary)
Ilustrasi buku yang harus kamu baca sebelum usia 30 tahun. (Pinterest/Shivani Choudhary)

Buku ini membahas penderitaan dan makna hidup dari sudut pandang psikologis dan eksistensial. Viktor Frankl menunjukkan bahwa lelah dan penderitaan adalah bagian dari pengalaman manusia, bukan tanda kegagalan pribadi.

Meski temanya berat, buku ini justru memberi ketenangan yang mendalam. Ia membantu pembaca memahami bahwa di balik kelelahan mental, masih ada makna yang bisa ditemukan tanpa harus memaksa diri untuk baik-baik saja.

Lelah mental bukan kelemahan, melainkan sinyal bahwa diri membutuhkan perhatian dan jeda. Lima buku di atas tidak menawarkan solusi instan, tetapi menghadirkan ketenangan yang jujur. Kadang, membaca satu halaman saja sudah cukup untuk mengingatkan bahwa kamu berhak beristirahat dan dipahami.

Itulah 5 buku yang cocok dibaca saat mulai merasa lelah mental.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Latest News NTB

See More