Usai Konsumsi MBG, Puluhan Siswa dan Guru di Amanuban Alami Keracunan

- Sebanyak 43 siswa dan guru di Amanuban Selatan, TTS, NTT diduga keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan ke sekolah-sekolah pada 29 April 2026.
- Dinas Kesehatan TTS menurunkan Tim Respon Cepat, mendirikan posko darurat, serta mengirim sampel makanan ke BPOM dan Labkesmas Kupang untuk uji laboratorium penyebab keracunan.
- Hasil investigasi awal menunjukkan dugaan kontaminasi mikrobiologis atau toksin bakteri dari dapur produksi SPPG Desa Bena; kasus ini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kupang, IDN Times - Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 43 orang yang terdiri dari siswa SD, SMA, serta guru di Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dilaporkan mengalami gejala keracunan pada Kamis (30/4/2026).
Kepala Dinas Kesehatan TTS, dr. Ria Tahun, membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya telah menurunkan Tim Respon Cepat (TRC) untuk melakukan investigasi epidemiologi.
Para korban diketahui sempat mengonsumsi MBG pada Rabu (29/4/2026). Sehari setelahnya, mereka mengalami gejala seperti diare, sakit perut, dan sakit kepala.
1. Dominan korban siswa SMA

Korban pertama dibawa oleh guru SMA Negeri 1 Amanuban Selatan ke Instalasi Gawat Darurat Puskesmas Panite sekitar pukul 10.09 WITA. Awalnya, jumlah korban hanya empat siswa, namun terus bertambah hingga mencapai 43 orang pada pukul 16.00 WITA.
“Total korban sebanyak 43 orang, terdiri dari 34 siswa SMA, tiga siswa SD, dan enam guru,” ujar dr. Ria.
Sebagian besar korban berasal dari SMA Negeri 1 Amanuban Selatan, yakni sebanyak 38 orang. Sisanya berasal dari SD GMIT Panite dan SD Inpres Tuapanan.
Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis di Posko Puskesmas Panite. Sebanyak 27 pasien dilaporkan sudah diperbolehkan pulang pada Kamis petang sekitar pukul 18.00 WITA setelah kondisinya membaik.
2. Sampel sementara diuji

Sementara itu, 16 pasien lainnya masih menjalani perawatan intensif dengan pemasangan infus. Untuk mengantisipasi penambahan pasien, Dinas Kesehatan TTS juga telah mendirikan posko darurat dengan kapasitas 15 tempat tidur.
Dinkes TTS telah mengirimkan sampel makanan ke BPOM dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kupang untuk dilakukan uji laboratorium. Selain itu, investigasi juga dilakukan di dapur produksi dan jalur distribusi guna mengidentifikasi sumber kontaminasi.
“Untuk penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.
3. Dinas kesehatan sebut kejadian luar biasa

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Bena sebagai pihak penanggung jawab juga turut diperiksa. Dugaan sementara, keracunan disebabkan oleh kontaminasi mikrobiologis atau toksin bakteri dengan masa inkubasi gejala antara 2 hingga 27 jam.
Diketahui, produksi makanan dilakukan sejak pukul 01.00 dini hari dengan total 2.273 paket yang didistribusikan ke 11 sekolah dan dua posyandu. Menu yang disajikan meliputi nasi beras merah, ayam bumbu kuning, tempe goreng, acar sayur, dan salad buah.
Atas kejadian ini, Dinas Kesehatan TTS menetapkannya sebagai kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan. Masyarakat, khususnya penerima MBG, diimbau untuk lebih waspada dengan memastikan kondisi makanan sebelum dikonsumsi.


















