Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ubah Wajah Pantai Labuhan Haji: Kisah Inspiratif Qori' Bayyinaturrsyi

Ubah Wajah Pantai Labuhan Haji: Kisah Inspiratif Qori' Bayyinaturrsyi
Direktur Sunrise Land Lombok, Qori' Bayyinaturrosyi (IDN Times)

Lombok Timur, IDN Times – Qori' Bayyinaturrosyi, penerima penghargaan IDN Times Youth Climate Warrior Award 2025, telah berhasil mengubah wajah pariwisata di Lombok Timur, khususnya di kawasan Pantai Labuhan Haji. Dikenal sebelumnya sebagai pantai yang penuh sampah dan tidak terawat, Pantai Labuhan Haji kini menjadi destinasi wisata yang bersih, indah, dan lestari. Qori' bahkan memulihkan habitat penyu yang dulunya menjadi ciri khas pantai ini melalui program konservasi.

Melalui inisiatifnya yang bernama Sunrise Land Lombok (SLL), Qori' mengembangkan pariwisata dengan pendekatan berbasis komunitas, konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi. Upaya ini berhasil membuat kawasan tersebut dikenal tidak hanya secara lokal dan nasional, tetapi juga hingga ke tingkat internasional. Berikut perjalanan Qori' mengubah Pantai Labuhan Haji menjadi salah satu destinasi wisata unggulan.

1. Belajar mengelola pariwisata di Bali dan Yogyakarta

Pantai Sunrise Land Lombok kini jadi objek favorit wisatawan (IDN Times/Istimewa)
Pantai Sunrise Land Lombok kini jadi objek favorit wisatawan (IDN Times/Istimewa)

Qori' Bayyinaturrosyi lahir pada 20 September 1990 di Dusun Montong Meong, Desa Labuhan Haji, Lombok Timur. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan pantai ini. Pada tahun 1998, ia kerap berjualan es lilin kepada pengunjung pantai, yang saat itu masih alami dan minim polusi sampah plastik. Namun, kenangan tersebut juga menyimpan potret suram berupa eksploitasi penyu yang terjadi di kawasan tersebut.

“Saya kadang sering heran dengan diri saya, kenapa saya begitu sensitif dengan kondisi sosial dan lingkungan,” tutur Qori'.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Selong, Qori' semakin mendalami pentingnya menjaga hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Pemahaman ini semakin diperkaya selama 15 tahun masa perantauannya di Bali dan Yogjakarta.

Selama 10 tahun di Bali, ia belajar banyak tentang sejarah dan sosial budaya. Sementara di Yogyakarta, ia mendalami pariwisata di Universitas Gadjah Mada.

“Di Bali saya belajar banyak tentang sejarah dan sosial budaya, di Jogja saya belajar kajian pariwisata,” ujarnya.

2. Mulai gerakan dengan mengajak alumnus

Pantai Sunrise Land Lombok (IDN Times/Istimewa)
Pantai Sunrise Land Lombok (IDN Times/Istimewa)

Pasca-gempa bumi di Lombok dan pandemik COVID-19, Qori' memutuskan kembali ke kampung halamannya. Ia merasa prihatin melihat kondisi pesisir Labuhan Haji yang semakin memburuk akibat sampah plastik, abrasi, dan minimnya perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Saya merasa heran, mengapa tidak ada yang peduli dan bergerak menanggulangi betapa tragisnya kondisi pesisir pantai yang disesaki sampah plastik,” ungkapnya.

Untuk memulai perubahan, Qori' mendirikan komunitas literasi bersama teman-teman alumnus Yogyakarta di Lombok. Mereka membuka usaha perbukuan bernama Infinity Book untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui literasi.

“Jika di kabupaten ini belum tersedia ekosistem yang baik untuk pemberdayaan SDM, maka kita ciptakan sendiri ekosistem itu,” tegasnya.

Qori' kemudian melibatkan pemuda-pemudi di desanya dalam eksplorasi potensi wisata lokal. Ia mengontrak aset pemerintah daerah berupa Taman Wisata Labuhan Haji dan menjadikannya pusat gerakan yang diberi nama Sunrise Land Lombok.

3. Terapkan konsep wisata komunitas, konservasi, edukasi dan berdampak ekonomi bagi masyarakat

Lokasi camping di pantai Sunrise Land Lombok (IDN Times/Istimewa)
Lokasi camping di pantai Sunrise Land Lombok (IDN Times/Istimewa)

Melalui Sunrise Land Lombok, Qori' aktif menggelar berbagai kegiatan konservasi seperti pemulihan habitat penyu, aksi bersih pantai, penanaman seribu pohon, hingga penyelenggaraan acara sosial ekonomi. Semua kegiatan tersebut dilakukan secara organik dengan melibatkan akademisi, media, dan masyarakat setempat.

“Alhamdulillah, upaya pelestarian lingkungan yang memanfaatkan pariwisata sebagai katalisator sudah memberi dampak yang amat terasa,” kata Qori'.

Konsep pariwisata berbasis komunitas yang dikembangkan Qori' mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Partisipasi aktif masyarakat menjadi elemen utama sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga merasakan manfaat langsung dari kegiatan pariwisata.

“Konsep kita yaitu pengembangan pariwisata melalui komunitas, konservasi, edukasi, dan berdampak ekonomi bagi masyarakat. Masyarakat kita libatkan agar bisa sejahtera,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
Ruhaili
Linggauni -
EditorLinggauni -
Ruhaili
EditorRuhaili
Follow Us

Latest News NTB

See More

Gubernur Lantik Kakak Kandung dan Anak Ali BD Jadi Pejabat Eselon II

09 Apr 2026, 20:18 WIBNews