Korban Gempa Larantuka Trauma dan Mengungsi di Lapangan

- Gempa beruntun mengguncang Larantuka dan Adonara sejak 8 April 2026, merusak sekitar 70 rumah di Desa Terong dan Lamahala, serta menimbulkan trauma mendalam bagi warga.
- Bupati Flotim mengerahkan BPBD untuk mendirikan tenda darurat di lapangan terbuka karena warga enggan kembali ke rumah akibat retakan dan rasa takut gempa susulan.
- Hingga Kamis pagi tercatat 48 kali gempa susulan dengan magnitudo utama 4,7 tanpa potensi tsunami, sementara pemetaan kerusakan dan distribusi logistik masih terus dilakukan.
Kupang, IDN Times - Bupati Flores Timur (Flotim) Antonius Doni Dihen mengungkap masalah trauma yang dialami masyarakat usai kejadian gempa beruntun yang mengguncang wilayah Larantuka dan sekitarnya sejak Rabu malam (8/4/2026).
Data sementara yang ia terima, kerusakan akibat gempa ini menimpa 70 lebih rumah di Desa Terong dan Lamahala di Pulau Adonara, Flotim, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerusakan. Data ini masih bersifat sementara dan masih dalam pencatatan lebih lanjut.
1. Akan distribusi tenda dan terpal

Bupati Flotim ini mendapat laporan para korban trauma dan takut untuk kembali ke rumah yang rata-rata sudah mengalami retakan bahkan ambruk.
Alih-alih tinggal sementara di rumah tak terdampak, para korban justru kebanyakan akan berkumpul di lapangan terbuka.
"Kelihatan mereka masih trauma dari malam jadi tidak mungkin mereka tidur dalam rumah. Jadi akan memilih untuk tidur di lapangan terbuka," tukasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (9/4/2026).
Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah dikerahkan ke lokasi-lokasi tersebut. Petugas akan menyiapkan tenda-tenda khusus maupun kebutuhan lainnya bagi korban yang akan menetap sementara di lapangan.
"Kita sebentar akan membuka tenda, terpal, lalu juga tempat tidur ke sana," tukasnya.
Lokasi-lokasi yang dipilih untuk pembangunan tenda darurat akan di pilih ada titik-titik yang aman.
"Ini sementara dilihat tim di lokasi. Tenda-tenda itu kita buka di lapangan terbuka," ungkap dia.
2. Pemetaan masih berlanjut

Sementara untuk kebutuhan makanan minuman dan logistik, jelas dia, akan segera mungkin disalurkan. Untuk sejauh ini pun ia belum mendapatkan laporan terkait pembukaan dapur umum di lokasi bencana.
"Barangkali nanti ada beras atau logistik begitu akan kami bagi agar bisa menopang mereka dulu," lanjut dia.
Sementara ini tim BPBD juga masih melakukan pemetaan dan akan dilanjutkan dengan koordinasi terkait penanganannya.
Ia sendiri meminta masyarakat tetap tenang dan waspada serta tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
3. Hingga 48 kali gempa susulan

Sebelumnya terjadi gempa bumi beruntun yang bersumber dari Kabupaten Lembata dan Larantuka, mulai Rabu malam (8/4/2026) hingga 48 kali gempa susulan per Kamis (9/4/2026) pukul 05.40 WIB.
Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mencatat kekuatan gempa utamanya yaitu M4,7 berpusat terjadi di koordinat 8,36 LS dan 123,15 BT, atau sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka, dengan kedalaman dangkal 5 kilometer.
Sementara gempa susulan terbesar yaitu 3,8M di darat pada pukul 04.54 WIB, sekitar 24 kilometer tenggara Larantuka dengan kedalaman 3 kilometer.
Arief menegaskan gempa bumi tidak berpotensi tsunami karena tidak memicu deformasi dasar laut yang signifikan.

![[QUIZ] Apakah Anakmu Diam-diam Terluka? Kenali Tandanya dari Kuis ini!](https://image.idntimes.com/post/20260408/pexels-sripadastudios-28991569_bb6d4fd4-8539-4931-93f7-84949f299e20.jpg)















