Fasilitas pengolahan sampah di TPA Regional Kebon Kongok. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri mengatakan bahwa persoalan sampah saat ini menjadi tantangan besar yang dihadapi hampir seluruh daerah di Indonesia. Menurutnya, penyelesaian masalah sampah membutuhkan kerja sama seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.
“Permasalahan sampah hari ini membutuhkan kebersamaan dan kerja keras dari kita semua. Berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan lahan hingga dampak sosial yang dirasakan masyarakat sekitar, harus diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan niat yang sama untuk mencari solusi,” kata dia.
Dikatakan, berbagai langkah yang telah dilakukan dalam pengelolaan TPA Regional Kebon Kongok, termasuk upaya pembebasan lahan untuk mendukung operasional pengelolaan sampah. Namun demikian, solusi jangka panjang harus dimulai dari tingkat rumah tangga melalui edukasi pemilahan sampah.
“Jika masyarakat tidak diberikan pemahaman yang baik untuk memilah sampah sejak dari rumah, maka persoalan ini akan terus berlanjut dan menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai,” terangnya.
Wagub yang biasa disapa Dinda itu, meminta Dinas LHK NTB untuk terus memperkuat koordinasi dan melakukan evaluasi berkala guna mengidentifikasi berbagai potensi persoalan sejak dini. Dia meminta tidak boleh menunggu masalah menjadi besar baru diselesaikan.
"Saya berharap rapat koordinasi dapat dilakukan secara rutin setiap tiga atau enam bulan untuk mengantisipasi berbagai kendala yang muncul,” ujarnya.
Dia menekankan pentingnya peran para kepala desa, RT, RW, dan kepala lingkungan sebagai ujung tombak dalam memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah dan pembangunan lingkungan yang sehat. Dinda mengingatkan bahwa sejumlah desa di sekitar TPA, termasuk Desa Taman Ayu, telah masuk dalam program Desa Berdaya yang bertujuan menekan angka kemiskinan ekstrem.
Karena itu, kehadiran pemerintah harus terus dirasakan masyarakat, khususnya mereka yang terdampak langsung oleh keberadaan TPA. Dia mendorong agar TPA Regional Kebon Kongok dapat dikembangkan menjadi sarana edukasi lingkungan bagi pelajar. Ke depan tidak menutup kemungkinan TPA Regional Kebon Kongon menjadi lokasi kunjungan edukatif bagi anak-anak sekolah untuk melihat secara langsung bagaimana sampah diproses dan diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.
"Mari kita ubah pandangan bahwa tempat pembuangan akhir adalah kawasan yang tidak bermanfaat. Jika dikelola dengan baik, justru dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” ujarnya.