Tiga Menteri Tinjau Kampung Nelayan Merah Putih di Jerowaru

- Zulkifli Hasan bersama dua menteri meninjau KNMP Ekas Buana, Lombok Timur, untuk menegaskan program pemerintah meningkatkan kesejahteraan nelayan, petani, dan peternak.
- KNMP dilengkapi cold storage, pabrik es, pelelangan ikan, SPBN, bengkel kapal, tambatan perahu, kios, warung, dan budidaya lele; pemerintah menjanjikan 40 kapal bagi nelayan.
- KNMP ditargetkan beroperasi Desember, memperkuat posisi tawar nelayan, memutus ketergantungan pada tengkulak dan rentenir melalui pembiayaan murah, serta menaikkan Nilai Tukar Nelayan dari 103 menjadi 120.
Lombok Timur, IDN Times – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, melakukan kunjungan kerja ke Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Jumat (31/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Zulkifli Hasan bersama rombongan menyapa para nelayan setempat. Kunjungan ini menjadi penegasan komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, petani, dan peternak melalui berbagai program pemberdayaan di berbagai daerah.
1. Fasilitas lengkap untuk nelayan

Zulkifli Hasan mengungkapkan kekagumannya terhadap kelengkapan fasilitas yang ada di KNMP Ekas Buana. Ia menyebut adanya cold storage (gudang pendingin), pabrik es, tempat pelelangan ikan terintegrasi, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), bengkel kapal, tambatan perahu, kios, warung/kafe, hingga area budidaya lele.
Zulhas juga mengungkapkan bahwa pemerintah akan memberikan 40 kapal untuk nelayan di KNMP Ekas sebagai bagian dari dukungan operasional melaut.
"Sebagai bentuk dukungan kepada nelayan kita akan berikan bantuan 40 kapal, supaya bisa meningkatkan kesejahteraan," janjinya.
2. Memutus rantai tengkulak dan utang nelayan

Dalam arahannya, Zulkifli Hasan menyayangkan kondisi nelayan di Ekas yang selama ini dinilai sangat rajin, tetapi kerap dirugikan oleh permainan harga tengkulak. Tanpa sarana pendingin yang memadai, nelayan terpaksa menjual hasil tangkapannya dengan harga murah agar ikan tidak cepat busuk. Hal ini membuat nelayan terus terlilit utang dengan bunga tinggi dan kalah bersaing dengan nelayan asing dari Vietnam, Thailand, maupun Tiongkok.
"Bagaimana bisa kaya kalau utangnya terus melilit. Sehari bunga hutangnya sekian. Kita ingin memutus pola lama ini. Nelayan kita harus senang, makmur, dan terhormat di negerinya sendiri. Jika pemerintah tidak hadir dan peduli, maka yang makmur justru nelayan asing, sementara kawasan pantai kita dikuasai mereka," tegasnya.
3. Targetkan nilai tukar nelayan meningkat

Sebagai langkah nyata, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama pemerintah akan meresmikan KNMP yang dijadwalkan beroperasi mulai Desember mendatang. Pemerintah menargetkan peningkatan Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang saat ini berada di angka 103 menjadi 120 sebagai bukti keberhasilan program ini.
Zulhas optimistis, dengan adanya fasilitas terintegrasi seperti cold storage, nelayan kini memiliki posisi tawar yang lebih baik karena hasil tangkapan dapat disimpan saat harga sedang anjlok.
"Kita siapkan akses pembiayaan melalui koperasi dan bank-bank negara dengan bunga rendah juga disiapkan sebagai alternatif untuk menggantikan peran rentenir," pungkaanya.


















