Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pasutri Asal China yang Tewas di Labuan Bajo Hanya Dipandu Siswa Magang

Kota Kupang
Pasutri Asal China yang Tewas di Labuan Bajo Hanya Dipandu Siswa Magang
Dua warga China tewas saat berenang di perairan Pulau Kelor, Labuan Bajo, NTT. (Dok Basarnas Maumere)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Polisi mengungkap dua wisatawan China, Guo Xingyou dan Sha Gingyang, tewas saat menyelam di Pulau Kelor, Labuan Bajo, pada 15 Juli 2026.
  • Korban didampingi siswa magang, menghadapi hambatan komunikasi saat briefing, hanya memakai masker dan fins, serta tidak diawasi langsung di area berarus dinamis.
  • Penyidik memeriksa 14 saksi terkait dugaan kelalaian operasional KM Rinca Story; sang istri ditemukan mengapung, sementara suami ditemukan meninggal di kedalaman 23 meter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kupang, IDN Times - Polisi mengungkap fakta terbaru mengenai kasus kematian pasangan suami istri (pasutri) asal China, yang terbawa arus di perairan Pulau Kelor, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Juli 2026 lalu. Kedua korban jiwa adalah Guo Xingyou (29) dan Sha Gingyang (30).

Kepala Satuan Polairud Polres Manggarai Barat, IPTU Leonardo Marpaung, mengungkap keduanya saat itu hanya dipandu oleh seorang siswa magang, bukannya pemandu wisata profesional. Belakangan diketahui bahwa kedua wisatawan ini tak dijelaskan dengan baik mengenai prosedur keselamatan. Polisi sementara mendalami lebih jauh soal kelalaian operasional wisata dan terhadap kapal wisata KM Rinca Story yang membawa turis asing ini.

1. Tak tersedia alat keselamatan maupun pendampingan langsung profesional

Perairan Pulau Kelor di Labuan Bajo, NTT, lokasi dua warga China yang tewas ketika berenang di laut.
Dua warga China tewas saat berenang di perairan Pulau Kelor, Labuan Bajo, NTT. (Dok Basarnas Maumere)

Leonardo juga menjelaskan lebih rinci soal temuan penyidik terkait dugaan pelanggaran standar keselamatan dalam kasus ini lewat keterangan resminya, Kamis (30/7/2026).

Kedua wisatawan tersebut, kata dia, memiliki hambatan komunikasi atau tidak bisa berbahasa Inggris. Hal ini terungkap saat penyampaian instruksi keselamatan atau safety briefing.

"Temuan awal penyidik menunjukkan adanya hambatan komunikasi saat safety briefing, atau diketahui mereka tak mampu berbahasa Inggris dengan baik sehingga diduga kuat pesan keselamatan tidak tersampaikan secara efektif," ungkapnya.

Fakta memprihatinkan lainnya yang terkuak yaitu kedua wisatawan itu hanya didampingi oleh siswa yang tengah Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau magang.

"Tidak ada pendampingan tour guide profesional melainkan hanya menerima arahan dari seorang siswa yang sedang menjalani PKL dari SMKN 1 Labuan Bajo," tukasnya.

Kemudian saat snorkeling kedua pasutri ini juga hanya dibekali masker selam dan kaki katak (fins) tanpa alat keselamatan lain. Mereka juga tak dipantau langsung saat masuk ke area berbahaya. Akibatnya, pasutri ini diduga terseret arus yang deras.

"Tidak ada kru kapal maupun pemandu yang melakukan pengawasan langsung di air saat kedua korban berenang di area berarus dinamis," jelas dia.

2. Sudah 14 saksi diambil keterangan secara maraton

Polres Manggarai Barat memeriksa 14 saksi terkait kematian dua warga China di Pulau Kelor, Labuan Bajo, NTT.
Polres Manggarai Barat ambil keterangan 14 saksi terkait kematian dua warga China di Pulau Kelor, Labuan Bajo, NTT. (Dok Polres Manggarai Barat)

Hingga saat ini, lanjut Leonardo, penyidik telah memeriksa 14 saksi. Mulai dari nakhoda, anak buah kapal (ABK), agen pelayaran, pemilik kapal, agen perjalanan, hingga pejabat pemerintah daerah yang menangani sektor pariwisata dan perizinan.

Pemeriksaan dilakukan atas Laporan Polisi Model A terkait dugaan pelanggaran Pasal 474 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 KUHP mengenai kealpaan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

"Unit Gakkum Satpolairud Polres Manggarai Barat saat ini telah meminta keterangan dari 14 orang saksi secara maraton," tukasnya.

3. Sang suami ditemukan kemudian

Potret IPTU Leonardo Marpaung, Kepala Satuan Polairud Polres Manggarai Barat, dalam seragam dinas.
Kepala Satuan Polairud Polres Manggarai Barat, IPTU Leonardo Marpaung. (Dok Polres Manggarai Barat)

Kasus ini bermula saat kedua wisatawan ini menggunakan KM Rinca Story ke Pulau Kelor. Mereka berangkat dari Marina Waterfront Labuan Bajo sekitar pukul 10.00 WITA. Setibanya di sana mereka sempat mendaki bukit di Pulau Kelor lalu memutuskan menyelam.

Namun kemudian Guo Xingyou ditemukan mengapung dan tak sadarkan diri sekitar pukul 12.00 WITA. Wanita itu sempat dibantu dengan resusitasi jantung paru (RJP) oleh Tim SAR, namun nyawanya tak terselamatkan usai menjalani perawatan di RSUD Komodo.

Sementara itu Tim SAR Gabungan mencari sang suami, Sha Gingyang, yang akhirnya ditemukan sekitar pukul 16.44 WITA. Pria itu sudah dalam keadaan meninggal di kedalaman 23 meter, atau sekitar 0,21 mil laut dari lokasi kejadian.

"Penyidikan masih berjalan guna memastikan ada atau tidaknya unsur kelalaian dalam pengelolaan wisata snorkeling tersebut," ujar Leonardo.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More