59 Sapi Mati Mendadak di TTS NTT, Diduga Tak Kuat Hadapi Cuaca Ekstrem

- Dinas Peternakan TTS mencatat 59 sapi mati mendadak di Desa Tunua dan Fatumnasi, NTT, setelah hujan berlangsung beberapa hari dengan suhu turun hingga 7 derajat Celsius.
- Sapi dilaporkan menggigil, roboh, lalu mati; kondisi kandang berlumpur yang tidak segera dipindahkan ke lokasi aman disebut memperparah dampak cuaca dingin.
- Belum ditemukan indikasi penyakit menular atau keracunan. Dinas memeriksa sampel, menyalurkan obat, vaksin, vitamin, serta mengimbau ternak dipindahkan ke kandang terlindung dan diberi tambahan pakan.
Kupang, IDN Times - Dinas Peternakan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), melaporkan sebanyak 49 sapi mati mendadak di Desa Tunua, Kecamatan Mollo Utara, yang diduga dipicu kondisi cuaca ekstrem. Kasus serupa juga terjadi di Desa Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi, dengan 10 ekor sapi dilaporkan mati.
"Secara keseluruhan, Dinas Peternakan TTS mencatat sekitar 59 ekor sapi mati di dua desa tersebut," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan TTS, John Banunaek, membenarkan kematian tak terduga ini, Jumat (31/7/2026).
Ia menyebut hujan yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari dengan suhu yang turun hingga 7 derajat Celsius memberikan dampak signifikan.
1. Sapi menggigil sebelum mati

Sebelumnya, John mengatakan hujan mengguyur wilayah tersebut selama sekitar tiga hari sebelum petugas melakukan pendataan di lapangan hingga 29 Juli 2026. Menurutnya, sapi-sapi yang terdampak awalnya menggigil, kemudian roboh dan akhirnya mati.
"Hujan mulai Jumat 24 Juli malam sampai 27 Juli itu yang sapi-sapi ini terkena langsung termasuk enam ekor sapi jantan berusia dua tahun milik milik Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) yang juga mati dengan gejala serupa," jelas dia.
Selain dipicu hujan, kondisi tersebut diperparah karena sapi-sapi berada di lokasi yang berlumpur dan tidak segera dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Akibatnya, hewan ternak tersebut mengalami kedinginan hingga akhirnya mati.
"Sehingga sangat kedinginan mereka sampai menggigil sebelum tumbang," tandasnya.
2. Rincian kasus di dua desa

John menjelaskan, kasus kematian sapi tersebut terjadi di dua dusun di Desa Tunua. Sebanyak 15 ekor sapi ditemukan mati di Dusun 2 dan 34 ekor di Dusun 3, sementara di Desa Fatumnasi tercatat 10 laporan kematian sapi.
"Semuanya diperkirakan adalah dari 20 pemilik termasuk satu ekor sapi milik Gereja Betania Tunua. Rata-rata usia sapi-sapi ini mulai satu bulan hingga delapan tahun baik betina atau jantan," tambah dia.
Sebelum melakukan pendataan di lapangan, Dinas Peternakan TTS telah menerima laporan dari para pemilik ternak. Dalam laporan tersebut, para pemilik menyebut cuaca berubah sangat dingin akibat hujan yang terus mengguyur kawasan pegunungan.
Sebelum kejadian ini, Dinas Peternakan TTS telah memberikan vaksin Septicaemia Epizootica (SE) kepada ternak-ternak tersebut pada November dan Desember 2025.
3. Belum ada indikasi penyakit menular

Hingga saat ini, Dinas Peternakan TTS belum menemukan indikasi penyakit menular maupun keracunan pada sapi yang mati. Karena itu, cuaca ekstrem diduga menjadi penyebab utama kematian puluhan ternak tersebut.
"Tim kami sudah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan sampel guna memastikan tidak ada penyakit lain yang membahayakan," ujar John.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Peternakan TTS menyalurkan obat-obatan, vaksin, dan vitamin bagi ternak yang masih hidup melalui pelayanan massal yang ditargetkan rampung paling lambat 3 Agustus 2026. Pemerintah juga mengimbau para peternak di Kecamatan Mollo Utara dan Fatumnasi memindahkan ternak ke kandang yang terlindung dari hujan dan angin.
"Serta menambah pakan agar daya tahan tubuh sapi tetap terjaga selama cuaca dingin masih berlangsung," tambahnya.


















