Di antara jemuran terasi itu, ada Ahmad Turmuzi yang melangkah tekun memeriksa setiap jengkal cetakan terasi pipih memanjang milik usahanya. Dengan ketelitian tinggi, ia memastikan cita rasa otentik bumbu dapur pesisir ini tidak bergeser sedikit pun dari standar mutu terbaiknya.
Sinergi Pemberdayaan Warga Pesisir di Balik Gurihnya Terasi Jerowaru

- Turmuzi meneruskan resep keluarga terasi Jerowaru berbahan udang rebon, ikan murni, dan garam, dengan pengeringan matahari serta fermentasi alami untuk menjaga rasa, tekstur, dan mutu.
- Pemasaran terasi telah menjangkau Bali dengan omzet pengiriman Rp8–9 juta per minggu, sementara penjualan lokal mengandalkan toko oleh-oleh dan kemasan ekonomis.
- Pendampingan GUMI SERI AMMAN memperkuat kemampuan usaha Turmuzi, yang mempekerjakan 10 warga; namun musim hujan menghambat penjemuran, stok, dan kapasitas produksi.
Lombok Timur, IDN Times - Embusan angin pesisir di Dusun Jor, Desa Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, senantiasa membawa aroma gurih udang rebon yang khas. Deretan alas bambu membentang memamerkan adonan terasi berwarna cokelat kemerahan yang sedang disinari terik matahari. Kawasan pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB) ini memang tersohor sebagai salah satu daerah penghasil terasi.
Keunikan utama terasi racikan Jerowaru ini bersumber pada kombinasi bahan baku alami tanpa campuran zat kimia berbahaya. Berdasarkan riset Yosi Syafitri dalam Jurnal Sains dan Teknologi Pangan (Volume 11, Nomor 3, Tahun 2026, halaman 630–639), olahan terasi tradisional mengandung kadar protein berkisar antara 10,80% hingga 34%. Ditambah dengan keunggulan tekstur padat agak kasar serta aroma tajam menggugah selera, produk ini sukses memikat hati para pencinta kuliner.
"Awalnya ibu yang membuat terasi. Saya bantu ibu jual secara online (daring), COD (cash on delivery/bayar di tempat) ke pasar juga, akhirnya saya disuruh buat sendiri oleh ibu saya. Ini saya melanjutkan pakai resep, sekarang bikin sendiri dan sudah berjalan 4 tahun,” ujar Turmuzi pada Kamis (30/7/2026).
1. Keunikan racikan dan teknik pengeringan alami

Cita rasa tiada dua dari terasi buatan Turmuzi bertumpu pada kesegaran udang rebon yang dipadukan bersama daging ikan murni dan sedikit garam. Daging ikan yang telah dihaluskan berfungsi sebagai pelekat alami adonan, sehingga tekstur terasi menjadi padat dan menyatu sempurna. Yosi Syafitri dalam risetnya mengatakan bahwa penambahan garam murni dalam adonan terasi tidak hanya bertindak sebagai pengawet alami, tetapi juga memicu seleksi pertumbuhan bakteri halofilik yang bermanfaat.
Proses pembuatan terasi khas Jerowaru ini membutuhkan ketelatenan tinggi selama dua hari sejak penggilingan hingga pembentukan adonan. Setelah adonan diracik, terasi dicetak pipih memanjang lalu dideretkan dan dijemur di bawah sinar matahari. Di dalam jurnal ilmiahnya, Yosi Syafitri membuktikan bahwa proses fermentasi alami ini menumbuhkan populasi Bakteri Asam Laktat (BAL) berstatus Generally Recognized as Safe (secara umum diakui aman) yang membentuk senyawa aroma khas.
Tingkat ketahanan simpan yang panjang menjadikan terasi buatan Turmuzi sebagai komoditas dapur yang sangat aman dikirim ke mana saja. Turmuzi juga menerapkan standar jaminan mutu tinggi, termasuk siap mengganti barang baru jika warna terasi berubah di tangan pengecer.
“Adanya aktivitas senyawa antimikroba alami seperti Bakteriosin dari Bakteri Asam Laktat terbukti secara ilmiah membantu menekan pertumbuhan mikroba pembusuk,” tulis Yosi Syafitri dalam jurnal ilmiahnya.
Konsistensi menjaga cara tradisional ini menjadi pondasi kuat dalam mempertahankan reputasi Dusun Jor sebagai sentra terasi paling otentik. Setiap keping terasi yang selesai dijemur langsung memasuki tahap penimbangan untuk memastikan standar kuantitas produk tetap presisi. Riset ilmiah membuktikan bahwa terasi tradisional tidak sekadar penyedap rasa, tetapi juga pangan fungsional berpotensi probiotik yang kaya antioksidan.
2. Penetrasi pasar pulau dewata dan pasokan oleh-oleh

Strategi pemasaran terasi Jerowaru ini mengalami lonjakan drastis dibandingkan saat Turmuzi pertama kali memulai langkah bisnisnya. Jaringan pelanggan tetap yang telah terbentuk membuat Turmuzi cukup menerima pesanan lewat sambungan telepon tanpa perlu berkeliling mencari pembeli.
Wilayah pemasaran utama terasi produksi Dusun Jor ini bahkan telah berhasil menembus pasar luar Pulau Lombok, yakni Pulau Bali. Dalam kurun waktu satu minggu, akumulasi omzet pengiriman terasi ke Bali mampu menembus angka delapan sampai sembilan juta rupiah.
Sementara di kawasan lokal Lombok, Turmuzi menyasar toko dan pusat oleh-oleh sebagai saluran utama untuk menjangkau wisatawan. Perputaran terasi di pusat oleh-oleh tergolong sangat cepat karena produk ini selalu dibeli oleh para pelancong sebagai bumbu penyedap alami khas pesisir.
Harga jual yang sangat kompetitif menjadi faktor pembeda utama yang membuat terasi buatan Turmuzi selalu laris di pasaran. Satu wadah kemasan cup praktis dijual ke pasaran dengan harga Rp4 ribu, sedangkan varian rentengan dijual seharga Rp1 ribu saja. Harga yang sangat ekonomis ini membuat olahan terasi Jerowaru dapat dijangkau dengan mudah oleh seluruh lapisan konsumen rumah tangga.
"Pengemasan aman, ada yang kita pakaikan plastik dan ada juga pakai cup. Terlindungi, tidak mudah jamuran," ujarnya.
Keunggulan cita rasa terasi Jerowaru ini dirasakan langsung oleh Ririn Sintani, salah seorang konsumen setia terasi khas Dusun Jor. Menurutnya, terasi pesisir Lombok Timur ini memiliki karakter aroma yang menggugah selera. Sentuhan gurih alami terasi tersebut terbukti ampuh menyempurnakan kelezatan aneka masakan rumah tangga hingga racikan sambal keluarga.
“Saya sering beli terasi Dusun Jor karena punya teman di sana. Awalnya saya dikasih oleh-oleh saat bertemu teman kuliah dulu yang berasal dari Jerowaru, eh ternyata jadi ketagihan dan sekarang saya sering titip dibelikan,” ungkap Ririn pada Jumat (31/7/2026).
3. Peran pendampingan AMMAN dan tantangan musim hujan

Pertumbuhan bisnis yang pesat ini tidak terlepas dari intervensi program pendampingan yang intensif dari PT AMMAN Mineral. AMMAN hadir memberikan bantuan materi pelatihan berjualan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan kewirausahaan bagi para perajin lokal di NTB.
Dilansir dari laman AMMAN Mineral, program bertajuk GUMI SERI (Gerakan UMKM Mandiri untuk Inisiatif Pariwisata Hijau) menaungi sekitar 40 pelaku UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terpilih di Lombok Timur sejak Januari 2025. Salah satu pelaku usaha mikro yang turut menerima manfaat dari pelatihan intensif ini adalah usaha terasi tradisional milik Turmuzi.
Melalui program pendampingan AMMAN, Turmuzi dibekali kemampuan teknis dan manajerial berupa literasi finansial, manajemen kewirausahaan, hingga penyusunan Business Model Canvas (BMC) sebagai kompas usaha. Pembekalan tersebut menjadi pijakan penting bagi Turmuzi dalam mengarahkan bisnis rumahannya menuju pola pengelolaan usaha yang lebih profesional.
“Melalui GUMI SERI, AMMAN berharap dapat memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan kapasitas mereka sebagai pelaku usaha mandiri, agar kearifan lokal dan pariwisata Lombok Timur menjadi motor kesejahteraan masyarakat. Kami berharap program ini dapat berjalan secara berkesinambungan dengan peningkatan pariwisata Lombok Timur,” ujar Vice President of Policy, Permitting dan Social Impact AMMAN, Priyo Pramono yang dikutip dari laman AMMAN Mineral pada Jumat (31/7/2026).
Kendati manajemen keuangan sudah tertata rapi, tantangan operasional dalam produksi terasi Jerowaru masih membentang saat musim hujan tiba. Proses penjemuran yang terhambat saat cuaca buruk membuat kapasitas produksi menurun dan berimbas pada keterbatasan stok barang. Kepala Desa Jerowaru, M Nasrudin, menegaskan pentingnya perhatian khusus pemerintah daerah dalam menyokong penyediaan alat produksi dan fasilitas penjemuran.
Sinergi antara pembinaan manajemen dari AMMAN dan intervensi sarana dari pemerintah daerah diyakini sanggup melipatgandakan daya saing. Pembangunan jejaring pasar yang kuat oleh pemerintah daerah diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran terasi sebagai ikon Lombok Timur.
"Kendalanya adalah kita kurang bisa berproduksi tatkala musim hujan, termasuk juga permodalan dan sistem pemasarannya. Kita ingin agar Pemerintah Lombok timur membangun bagaimana jejaring pasar yang baik, sehingga potensi yang dimiliki ini betul-betul bisa mensejahterakan masyarakat,” harap Nasrudin.
Rumah produksi milik Turmuzi ini sukses membuka lapangan pekerjaan bagi sepuluh warga lokal. Tahapan pekerjaan dibagi secara teratur, mulai dari menyiapkan bahan, memotong, mencetak adonan, mengeringkan, hingga tahap pengemasan. Sistem pembayaran upah dilakukan secara transparan berdasarkan jumlah produksi.
Satu kali siklus pengolahan di rumah produksi ini mampu memproses sebanyak 300 kilogram bahan baku. Dengan modal produksi sekitar Rp4 juta per siklus, penjualan terasi mampu menghasilkan omzet mencapai Rp8 juta.
Dampak perbaikan ekonomi ini dirasakan langsung oleh Turmuzi yang dahulu sempat mengalami masa-masa sulit dalam hal keuangan keluarga. Dari bisnis ini, ia mampu memugar rumah tinggal yang lebih layak serta membeli kendaraan operasional. Namun di atas seluruh pencapaian tersebut, nilai tertinggi keberhasilan Turmuzi terletak pada kemampuannya membuka lapangan kerja bagi warga di sekitarnya.



















