Tinjau Pengungsi Gempa Flores, Prabowo Soroti Masalah Deforestasi di NTT

- Presiden Prabowo meninjau korban gempa di Nagekeo, NTT, sekaligus menyoroti minimnya tutupan pohon dan degradasi lingkungan di wilayah tersebut.
- Prabowo menegaskan pembukaan lahan dengan cara dibakar harus dihentikan. Pemerintah akan mengedukasi petani lokal mengenai metode pertanian yang lebih tepat.
- Presiden menyebut NTT pernah berhutan lebat dan dieksploitasi untuk kayu pada masa lalu, serta mengajak masyarakat menghijaukan kembali lahan kritis.
Mataram, IDN Times - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyoroti persoalan degradasi lingkungan saat mengunjungi para korban gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sela-sela peninjauan kawasan terdampak bencana, Kepala Negara melihat bahwa minimnya tutupan pohon menjadi salah satu masalah utama di wilayah tersebut.
Menurut Presiden, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar hutan yang masih sering dilakukan oleh masyarakat setempat turut memperparah keadaan. Kondisi ini dinilai membutuhkan perhatian serius agar ekosistem kembali asri dan potensi krisis lingkungan dapat dicegah.
"Saya cukup mengerti lah daerah-daerah sini ya. Masalah di sini adalah masalah bahwa pohon-pohon banyak berkurang, ya, kalau tidak salah juga dari dulu ya, rakyat di sini juga banyak bakar hutan ya, benar kan?" ujar Presiden Prabowo di Nagekeo pada Rabu (26/8/2026) melalui siaran YouTube Sekretariat Presiden.
1. Tidak boleh buka lahan dengan cara dibakar

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat dalam tinjauan dampak gempa di Nagekeo. (YouTube/Sekretariat Presiden) Kepala Negara menekankan pentingnya memberikan edukasi kepada masyarakat terkait metode pembukaan lahan pertanian yang tepat. Kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar harus segera dihentikan demi menjaga kelestarian ekosistem daratan.
Praktik pembakaran lahan ini berpotensi memicu meluasnya area lahan kritis pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, pemerintah akan turun tangan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada para petani lokal.
"Masalahnya itu, jadi rakyat kita harus dikasih pendidikan. Buka lahan tidak boleh dengan bakar-bakar, tapi oke lah, itu memang masalah," tegas Prabowo.
2. Kilas balik soal hutan lebat seratus tahun lalu

Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke NTT (Youtube.com/Sekretariat Presiden) Presiden Prabowo mengajak masyarakat melakukan kilas balik. Jika melihat catatan masa lampau, Prabowo mengatakan bahwa wilayah daratan NTT dahulunya merupakan kawasan hutan yang sangat lebat. Kekayaan alam berupa kayu berkualitas di daerah inilah yang pada masa silam menarik kedatangan bangsa penjelajah Eropa.
Kedatangan bangsa penjelajah tersebut bertujuan untuk mengeksploitasi sumber daya hutan demi memperkuat armada militer mereka. Hal ini menjadi bukti sejarah bahwa daratan NTT pernah memiliki tutupan vegetasi yang sangat kaya.
"Jadi di sini dulu daerahnya lebat, kalau kita mikir 100 tahun yang lalu, 200 tahun yang lalu. Portugis, Spanyol datang ke sini mencari kayu untuk angkatan laut mereka," jelas Prabowo.
3. Dampak eksploitasi

Presiden Prabowo Subianto saat mengunjungi Flores untuk meninjau dampak gempa, Rabu (26/8/2026). (Screenshoot YouTube Sekretariat Presiden) Eksploitasi hutan di masa lalu telah meninggalkan jejak panjang terhadap kondisi ekologis wilayah NTT saat ini. Kekuatan militer negara-negara adidaya pada zaman kolonial rupanya sangat bergantung pada pasokan kayu dari wilayah jajahannya.
Jejak sejarah ini harus menjadi pengingat bagi generasi sekarang untuk kembali merawat lingkungan alam yang tersisa. Presiden mengajak semua pihak untuk belajar dari masa lalu agar lahan kritis dapat segera dihijaukan kembali.
"Makanya mereka menjajah Timor Timur, mereka masuk ke timur barat, nyari kayu kita untuk angkatan laut mereka. Jadi super power dulu, kekuatan militer mereka di angkatan laut, itu dari kayu. Nah ini kita ingatkan, itu sudah sejarah," kenang Prabowo.















