Kepala BNPB Ungkap Warga Flores Ketakutan Isu Gempa Besar dan Tsunami

- BNPB mencatat ribuan gempa susulan di Flores memicu ketakutan warga akibat isu gempa lebih besar dan tsunami di media sosial, sehingga pemerintah mengintensifkan penjelasan kepada masyarakat.
- Gempa magnitudo 7,7 berdampak pada tujuh kabupaten, menyebabkan 105 orang meninggal, 1.678 luka-luka, 179.037 mengungsi, 81.436 rumah rusak, serta 1.951 fasilitas umum terdampak.
- Pemerintah membentuk posko pendampingan di Labuan Bajo dan Maumere, mendistribusikan logistik, serta menangani layanan kesehatan melalui tenda puskesmas, rumah sakit terapung, dan rumah sakit lapangan.
Kupang, IDN Times - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengungkapkan warga Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ketakutan dengan adanya isu gempa susulan yang lebih besar dari magnitudo 7,7 dan tsunami yang beredar di media sosial.
Apalagi, gempa susulan terus menerus terjadi. Hingga Selasa (25/8/2026) pukul 17.00 WIB, BNPB mencatat sebanyak 7.297 gempa susulan di wilayah Flores. Dari jumlah itu, tercatat sebanyak 143 gempa susulan yang dirasakan masyarakat.
"Karena gempa susulan banyak, mereka ketakutan dan ada beberapa isu dari media sosial akan ada gempa susulan lebih besar bahkan tsunami. Ini terus kami perangi, gotong-royong semua unsur untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat," kata Suharyanto saat melaporkan kondisi terkini penanganan gempa Flores NTT kepada Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, Rabu (26/8/2026).
1. Korban gempa meninggal dunia 105 orang dan 179.037 orang mengungsi

Para pengungsi gempa Flores. (dok. BNPB) Dia menyebut sebanyak tujuh kabupaten terdampak gempa Flores magnitudo 7,7 mulai dari Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende dan Sikka. Sedangkan Kabupaten Flores Timur tidak terdampak gempa namun masih dilanda bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
Berdasarkan data sampai Selasa (25/8/2026) pukul 17.00 WIB, wilayah Flores diguncang sebanyak 7.259 kali gempa susulan sejak 15 Agustus 2026. Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 142 kali gempa susulan yang dirasakan masyarakat.
Suharyanto mengungkapkan dampak gempa magnitudo 7,7 menyebabkan sebanyak 105 orang meninggal dunia, luka-luka 1.678 orang, mengungsi 179.037 orang, rumah rusak 81.436 unit, dan fasilitas umum lain 1.951 unit. Dari tujuh kabupaten, Manggarai dan Manggarai Timur yang terdampak paling parah. Namun, kata dia, Kabupaten Nagekeo juga terdampak cukup parah.
"Sebetulnya yang terkena gempa langsung korbannya 48 orang. Kemudian ada ada tambahan 57 orang memang hasil operasi SAR, dirawat di fasilitas kesehatan, trauma sehingga yang meninggal dunia 105 orang," kata dia.
2. BNPB buka posko di Labuan Bajo dan Maumere

Rapat koordinasi penanganan gempa Flores NTT dipimpin Presiden Prabowo Subianto saat meninjau korban gempa di Nagekeo, Rabu (26/8/2026). (YouTube Sekretariat Presiden) Sejak hari pertama gempa, pemerintah pusat membentuk Satgas Pendampingan dan membuka posko di Labuan Bajo dan Maumere. Pada hari pertama gempa, Satgas daerah yang dipimpin Gubernur dan Bupati langsung diaktifkan dengan pendampingan BNPB.
Dia menjelaskan Satgas Pendampingan yang dibuka di Labuan Bajo melayani empat kabupaten yaitu Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur dan Nagekeo. Sedangkan Satgas Pendampingan yang dibuka di Maumere melayani tiga kabupaten yaitu Sikka, Ende dan Ngada.
Untuk distribusi logistik, kata dia, BNPB punya posko di tiga titik yaitu Bandara Halim Perdanakusuma, Labuan Bajo dan Maumere. Barang logistik yang masuk lewat Posko di Bandara Halim Perdanakusuma sebanyak 2.032 ton dan sudah didistribusikan 1.539 ton. Kemudian logistik yang didistribusikan itu dibagi ke Posko di Labuan Bajo 1.035 ton dan Maumere 504 ton.
"Di samping lewat Halim Perdanakusuma langsung ke Labuan Bajo dan Maumere. Banyak sekali bantuan dari kementerian lembaga, TNI Polri, swasta dan pemerintah daerah," terangnya.
3. Sebanyak 19 puskesmas belum beroperasi penuh

Kemenkes RI mendirikan dua Rumah Sakit (RS) Lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Selasa (18/8/2026). (IDN Times/Uni Lubis) Suharyanto menyebutkan sebanyak 19 puskesmas di daerah terdampak yang belum beroperasi penuh hingga saat ini. Puskesmas itu tidak beroperasi penuh lantaran adanya ketakutan akibat gempa susulan. Dia menjelaskan bahwa bangunan puskesmas tidak terlalu rusak tetapi masyarakat takut dirawat di puskesmas.
Sehingga, BNPB membangun tenda di depan puskesmas. Jumlah tenda yang dibangun sebanyak 122 unit. Untuk membantu penanganan kesehatan korban gempa, kata dia, saat ini sudah ada rumah sakit terapung KRI dr. Soeharso dan Rumah Sakit Ksatria Airlangga.
"Ada dua rumah sakit yang memang terdampak parah karena tidak bisa melakukan pelayanan pasien di situ. Kami sudah datangkan RS Lapangan yaitu di Nagekeo dan Ruteng," jelasnya.















![[FOTO] Potret Desa Adat Sade Lombok sebelum Hangus Terbakar](https://image.idntimes.com/post/20260824/whatsapp-image-2026-08-24-at-11_2d8e4eee-eac9-46a2-a091-f886ac2d5c73.jpeg)