Tunggu Hasil Labfor, Penyebab Kebakaran Desa Adat Sade Belum Terungkap

- Penyebab kebakaran Desa Adat Sade pada 22 Agustus 2026 belum terungkap; Polresta Lombok Tengah menunggu hasil olah TKP dan uji Laboratorium Forensik Polda Bali.
- Polisi telah memeriksa lima warga yang mengetahui awal kejadian. Kebakaran menghanguskan 167 bangunan dan berdampak pada 120 kepala keluarga atau 320 jiwa.
- Kerugian kebakaran diperkirakan mencapai Rp35 miliar. Pemda Lombok Tengah akan membahas rekonstruksi bersama tokoh masyarakat, agama, adat, serta akademisi.
Lombok Tengah, IDN Times - Penyebab Kebakaran Desa Adat Sade Lombok Tengah hingga saat ini belum terungkap meskipun sebelumnya muncul dugaan akibat korsleting listrik. Polresta Lombok Tengah masih menunggu hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Bali untuk mengungkap penyebab kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah pada Sabtu (22/8/2026) lalu.
Kapolresta Lombok Tengah Kombes Pol Hariyanto mengatakan pihaknya menggandeng Puslabfor Polda Bali untuk menyelidiki penyebab kebakaran rumah adat yang menjadi ikon pariwisata NTB tersebut. Tim Labfor Polda Bali sudah melakukan olah TKP beberapa hari lalu.
"Terkait dengan olah TKP kemarin yang dilakukan oleh teman-teman dari Puslabfor yang dari Bali, sampai saat ini belum ada hasilnya. Kita tunggu saja," kata Hariyanto dikonfirmasi di Desa Adat Sade, Rabu (26/8/2026).
1. Belum dapat menduga penyebab kebakaran

Kondisi Desa Adat Sade Lombok Tengah yang ludes terbakar dan rata dengan tanah, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir) Mengenai dugaan awal kebakaran disebabkan korsleting listrik, Hariyanto menyatakan belum ada kesimpulan dari hasil olah TKP. Penyebab kebakaran nantinya akan diketahui setelah keluar hasil olah TKP yang dilakukan Puslabfor Polda Bali.
Pihaknya menggandeng Puslabfor Polda Bali karena mereka memiliki peralatan yang lengkap untuk melakukan uji laboratorium. Sedangkan di NTB, belum ada peralatan uji laboratorium yang lengkap. NaMun dia belum mengetahui berapa lama Labfor Polda Bali melakukan uji sampel hingga keluar hasilnya.
"Kalau untuk perlu berapa lamanya, sampai sekarang belum diketahui. Nanti, kita masih komunikasi. Kita harapkan secepatnya," kata dia.
2. Periksa saksi lima orang

Kondisi Desa Adat Sade yang rata dengan tanah,Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir) Dalam menyelidiki penyebab kebakaran kampung adat Sade, polisi memeriksa lima orang saksi. Kelima saksi merupakan warga Desa Adat Sade yang mengetahui awal peristiwa kebakaran tersebut.
"Kalau saksi kemarin yang ditanyakan hanya keterangan di titik-titiknya saja, di mana titik apinya itu, awal mulanya itu saja. Sekitar lima orang yang mengetahui pertama kali," sebutnya.
Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade menyebabkan sebanyak 167 bangunan yang ludes terbakar. Adapun rincian 167 bangunan yang ludes terbakar dan rata dengan tanah di desa adat yang menjadi ikon pariwisata NTB tersebut. Rumah adat yang terbakar sebanyak 75 unit, artshop 69 unit dan lumbung alang 8 unit.
Kemudian Berugak Sekepat 6 unit dan Berugak Sekenam Besar 4 unit. Berikutnya, masing-masing satu masjid, bale beleq, toilet umum untuk wisatawan, gerbang desa adat dan pelonggo. Akibat kebakaran sebanyak 120 kepala keluarga (KK) atau 320 jiwa yang terdampak.
3. Kerugian mencapai Rp35 miliar

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri. (IDN Times/Muhammad Nasir) Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengungkap nilai kerugian akibat kebakaran Desa Adat Sade menembus angka Rp35 miliar. Meskipun rumah adat yang ludes terbakar bahan dasarnya dari ilalang dan pagar dari kayu, namun nilai budayanya sangat tinggi.
"Kerugiannya itu sekitar 35 miliaran. Karena ini bahan dasar rumah ini dari ilalang dan pagar-pagar, maka seperti itu. Namun nilai budayanya yang memang dipertahankan," kata Pathul.
Untuk rekonstruksi atau pembangunan kembali rumah adat yang terbakar, Pemda Lombok Tengah akan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat setempat serta akademisi. Pemda akan menggelar focus group discussion (FGD) membahas model rekonstruksi Desa Adat Sade.
"Sehingga dalam upaya membangun kembali, merehab kembali ini betul-betul sesuai dengan harapan. Karena rumah adat ini sudah menjadi ikon Kabupaten Lombok Tengah," kata Pathul.
















