Target Permanen 18 Bulan, Pembangunan Jembatan Perigi Dipercepat

Lombok Timur, IDN Times - Bupati Lombok Timur Haerul Warisin memantau langsung progres pemasangan Jembatan Bailey di Desa Perigi, Kecamatan Suela. Infrastruktur darurat ini menjadi solusi penghubung sementara menuju Desa Puncak Jeringo pasca-ambruk diterjang luapan air sungai.
Dalam pengecekan tersebut, orang nomor satu di Lombok Timur ini melihat konstruksi fisik yang hampir tuntas. Namun, ia mencatat beberapa detail akhir masih memerlukan pembenahan agar layak dioperasikan secara maksimal bagi masyarakat setempat.
1. Fokus penguatan jalan

Prioritas pengerjaan saat ini difokuskan pada penguatan jalan melalui penimbunan tanah dan perataan material. Langkah teknis tersebut diambil guna menjamin keselamatan serta kenyamanan kendaraan saat melintasi rangka baja itu.
"Masih belum rampung sih ya, karena banyak yang harus disempurnakan finishing-nya. Jadi tinggal kita tambah penimbunan-penimbunan, kemudian perataan-perataan," ujar Haerul Warisin di lokasi peninjauan.Senin (12/1/25).
Bupati juga menginstruksikan pembuatan akses tangga di sekitar bantaran sungai bagi penduduk sekitar. Fasilitas tambahan ini bertujuan mempermudah aktivitas warga yang masih bergantung pada sumber air di bawah jembatan tersebut.
"Di samping itu juga kita harus buat tangga-tangga untuk kebutuhan masyarakat ya, supaya mereka gampang mau menggunakan air yang ada di sungai ini," jelasnya.
2. Target pembangunan jembatan tuntas 18 bulan

Mengenai status pemakaian jembatan, ia menjelaskan bahwa masa pinjam pakai alat tersebut umumnya berdurasi dua belas bulan. Kendati demikian, pemerintah daerah berupaya keras agar pembangunan permanen tidak menunggu waktu lama.
"Mudah-mudahan sebelum satu tahun kita sudah ada anggaran untuk membangun. Target kita maksimal dalam 18 bulan sudah harus kita bangun permanen," tegasnya.
3. Telah koordinasi dengan BNPB

Koordinasi lintas instansi telah dilakukan dengan mengirimkan laporan resmi ke BNPB pusat di Jakarta. Hal ini sangat mendesak mengingat aliran sungai di wilayah Suela memiliki riwayat kebencanaan yang berulang setiap tahunnya.
"Saya sudah melapor kepada Bencana Alam Nasional atau BNPB. Mudah-mudahan mereka memperhatikan kita karena sungai ini sering membawa dampak bencana setiap tahun, selalu ada," ungkapnya.
Haerul menegaskan bahwa konektivitas antarwilayah merupakan kebutuhan dasar publik yang tidak boleh terabaikan. Terhambatnya mobilitas di titik ini dinilai berdampak langsung terhadap laju ekonomi serta akses pendidikan masyarakat desa.
"Karena kita tidak bisa terlambat, jalan ini kebutuhan dasar agar ekonomi bergerak, termasuk kebutuhan untuk pendidikan dan kesehatan. Jadi harus disegerakan," tutupnya.


















