Wakil Gubernur NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah/dok. Humas Pemprov NTB
Gerakan masyarakat peduli sampah di NTB kini semakin banyak. Namun, kata Wagub, untuk penanganan sampah menjadi 100 persen memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia memberikan contoh seperti Denmark, butuh waktu 50 tahun untuk penanganan sampah.
"Jadi memang butuh lebih efektif lagi ke depan supaya gerakan ini mulai dari rumah dan seluruh kabupaten/kota konsen. Memang sampah sungai ini PR kita, bukan saja di Lombok, NTB, Indonesia bahkan dunia. Makanya dengan PR yang besar ini kita harus bekerja bersama dan Pemprov menyikapinya dengan program unggulan NTB Bersih," terangnya.
Hasil temuan Tim Investigasi Walhi NTB bersama Tim Ekspedisi Sungai Nusantara, bahwa sungai-sungai di Kota Mataram dan Lombok Barat dipenuhi sampah plastik. Hal ini menyebabkan Sungai Meninting dan Sungai Jangkuk tercemar mikroplastik. Tim Investigasi mengambil sampel air pada 5 lokasi di Kali Ning, Sungai Jangkuk dan Sungai Meninting, rata-rata 290 partikel mikroplastik dalam 100 liter air.
Kandungan mikroplastik tertinggi ada di Kali Ning yang berada di dalam kota Mataram, melalui pemukiman padat penduduk dan tidak memiliki sarana pengelolaan sampah dan perilaku warga yang membuang sampah ke dalam saluran. Kali Ning mengandung Mikroplastik tertinggi dibandingkan Sungai Jangkuk dan Sungai Meninting.
Saluran air Kali Ning dalam pantauan Tim Investigasi dipenuhi sampah plastik jenis tas kresek, botol plastik, styrofoam dan sachet. Mikroplastik adalah serpihan atau remahan plastik dengan ukuran lebih kecil dari 5 milimeter yang berasal dari pecahan plastik ukuran besar seperti tas kresek, plastik bening, sampah pakaian, botol plastik, styrofoam dan sachet yang terfragmen karena arus air dan paparan matahari.