Sungai Jangkuk Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Dijelaskan, mikroplastik ini memiliki efek pada kesehatan manusia. Karena mikroplastik dalam air akan menyerak logam berat, polutan di air seperti klorin atau pemutih dan fosfat bahan detergen. Mikroplastik akan menyerap polutan dan apabila tertelan oleh ikan maka polutan ini akan merusak sistem reproduksi dan pertumbuhan ikan.
Jika mengkontaminasi daging ikan maka efeknya akan berlanjut pada metabolisme manusia yang mengkonsumsi ikan tercemar mikroplastik. Karena selain menyerap polutan mikroplastik terbentuk dari polimer-polimer yang tersusun atas bahan-bahan pengganggu hormon. Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah jenis fiber.
Mikroplastik jenis fiber sebesar 57,2 persen, sumbernya dari degradasi kain sintetik akibat kegiatan rumah tangga pencucian kain, laundry dan juga limbah industri tekstil. Fiber juga disebabkan oleh sampah kain yang tercecer di lingkungan yang terdegradasi karena proses alam. Kemudian filamen sebesar 23,8 persen, berasal dari degradasi sampah plastik sekali pakai seperti kresek, botol plastik, kemasan plastik single layer SL dan jaring nelayan.
Selain itu, mikroplastik jenis fragmen sebesar 14,7 persen berasal dari deradasi sampah plastik sekali pakai dari jenis kemasan sachet multilayer ML, tutup botol, botol shampo dan sabun. Selanjutnya, granula sebesar 4,3 persen berasal dari microbeads atau bahan sintetis scrub yang ada dalam personal care seperti sabun, pemutih kulit, sampho, pasta gigi dan kosmetik.
Berdasarkan uji mikroplastik rapid test menggunakan mikroskop stereo yang disambungkan dengan monitor, dengan pembesaran 100-400 kali bisa dideteksi secara fisik mikroplastik di dalam air. Sampel air yang diambil dan disaring dengan plankton net mesh 350 atau di dalam 1 inch terdapat 350 benang penyaring. Kemudian dipindahkan dalam cawan petri dan diamati di bawah mikroskop stereo dengan pembesaran 100-400, secara fisik mikroplastik fiber nampak seperti benang-benang di bawah 1 mm berwarna biru merah.
Sedangkan filament adalah lembaran-lembaran plastik warna biru, bening dan untuk fragmen umumnya berwarna biru, coklat dan kuning, fisiknya solid dan sulit untuk di pisahkan atau tidak putus. Kontaminasi mikroplastik bisa disebabkan oleh berubahnya fungsi sungai menjadi tempat sampah dan tidak adanya infrastruktur pengolahan sampah yang baik di Kota Mataran dan Kabupaten Lombok Barat.
Indikasi ini bisa dilihat dari tidak tersedianya tempat sampah dan sistem pengelolaan sampah yang memadai pada tiap Kelurahan/Desa. Sehingga menyebabkan warga membuang sampahnya ke selokan dan sungai. Rendahnya kepedulian warga pada pentingnya fungsi sungai dan acuh pada dampak lingkungan.
Sampah yang tercecer di tepi sungai terbawa arus menuju ke hilir hingga ke muara. Bahkan bisa dilihat sampah tak terhitung jumlahnya dari Kali Ning ke Sungai Jangkuk, Kota Mataram. Jenis sampah yang paling banyak dijumpai adalah sampah pembungkus atau sachet yang diproduksi oleh brand-brand besar seperti PT Wings, PT Unilever, PT Mayora, dan PT Indofood. Selain sachet, banyak juga ditemukan sampah pakaian, sikat gigi, korek api, sandal sepatu, ban motor, plastik mika dan popok.
Tim Investigasi juga melakukan brand audit untuk mengetahui jenis dan produsen sampah plastik yang banyak dijumpai tertimbun di Sungai Meninting, Lombok Barat. Dari 1.000 piece sampah yang dipunggut di Sungai Meninting, Desa Gegerung Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombak Barat dan Sungai Jangkuk, Kota Mataram ditemukan 9 produsen sebagai pencemar adalah PT Wings, PT Unilever, PT Nabati, PT Mayora, PT P&G, PT Santos Jaya, PT Unicharm dan PT Forisa.
Untuk itu, perusahaan didorong patuh terhadap regulasi lingkungan. Kemudian paya EPR produsen penghasil sampah plastik harus segera dimaksimalkan, agar tidak ada lagi sampah plastik yang bocor ke sungai. Selain itu, pihaknya produsen penghasil sampah plastik membersihkan sampah mereka dari Sungai Jangkuk dan Sungai Meninting.