Terasi yang diproduksi Turmuzi dan siap dipasarkan. (Dok. Istimewa)
Pertumbuhan bisnis yang pesat ini tidak terlepas dari intervensi program pendampingan yang intensif dari PT AMMAN Mineral. AMMAN hadir memberikan bantuan materi pelatihan berjualan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan kewirausahaan bagi para perajin lokal di NTB.
Dilansir dari laman AMMAN Mineral, program bertajuk GUMI SERI (Gerakan UMKM Mandiri untuk Inisiatif Pariwisata Hijau) menaungi sekitar 40 pelaku UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terpilih di Lombok Timur sejak Januari 2025. Salah satu pelaku usaha mikro yang turut menerima manfaat dari pelatihan intensif ini adalah usaha terasi tradisional milik Turmuzi.
Melalui program pendampingan AMMAN, Turmuzi dibekali kemampuan teknis dan manajerial berupa literasi finansial, manajemen kewirausahaan, hingga penyusunan Business Model Canvas (BMC) sebagai kompas usaha. Pembekalan tersebut menjadi pijakan penting bagi Turmuzi dalam mengarahkan bisnis rumahannya menuju pola pengelolaan usaha yang lebih profesional.
“Melalui GUMI SERI, AMMAN berharap dapat memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan kapasitas mereka sebagai pelaku usaha mandiri, agar kearifan lokal dan pariwisata Lombok Timur menjadi motor kesejahteraan masyarakat. Kami berharap program ini dapat berjalan secara berkesinambungan dengan peningkatan pariwisata Lombok Timur,” ujar Vice President of Policy, Permitting dan Social Impact AMMAN, Priyo Pramono yang dikutip dari laman AMMAN Mineral pada Jumat (31/7/2026).
Kendati manajemen keuangan sudah tertata rapi, tantangan operasional dalam produksi terasi Jerowaru masih membentang saat musim hujan tiba. Proses penjemuran yang terhambat saat cuaca buruk membuat kapasitas produksi menurun dan berimbas pada keterbatasan stok barang. Kepala Desa Jerowaru, M Nasrudin, menegaskan pentingnya perhatian khusus pemerintah daerah dalam menyokong penyediaan alat produksi dan fasilitas penjemuran.
Sinergi antara pembinaan manajemen dari AMMAN dan intervensi sarana dari pemerintah daerah diyakini sanggup melipatgandakan daya saing. Pembangunan jejaring pasar yang kuat oleh pemerintah daerah diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran terasi sebagai ikon Lombok Timur.
"Kendalanya adalah kita kurang bisa berproduksi tatkala musim hujan, termasuk juga permodalan dan sistem pemasarannya. Kita ingin agar Pemerintah Lombok timur membangun bagaimana jejaring pasar yang baik, sehingga potensi yang dimiliki ini betul-betul bisa mensejahterakan masyarakat,” harap Nasrudin.
Rumah produksi milik Turmuzi ini sukses membuka lapangan pekerjaan bagi sepuluh warga lokal. Tahapan pekerjaan dibagi secara teratur, mulai dari menyiapkan bahan, memotong, mencetak adonan, mengeringkan, hingga tahap pengemasan. Sistem pembayaran upah dilakukan secara transparan berdasarkan jumlah produksi.
Satu kali siklus pengolahan di rumah produksi ini mampu memproses sebanyak 300 kilogram bahan baku. Dengan modal produksi sekitar Rp4 juta per siklus, penjualan terasi mampu menghasilkan omzet mencapai Rp8 juta.
Dampak perbaikan ekonomi ini dirasakan langsung oleh Turmuzi yang dahulu sempat mengalami masa-masa sulit dalam hal keuangan keluarga. Dari bisnis ini, ia mampu memugar rumah tinggal yang lebih layak serta membeli kendaraan operasional. Namun di atas seluruh pencapaian tersebut, nilai tertinggi keberhasilan Turmuzi terletak pada kemampuannya membuka lapangan kerja bagi warga di sekitarnya.