Viral! Warga Desa Bali Ledo Geruduk Polres Sumba Barat Sambil Bawa Jenazah

- Warga Desa Bali Ledo membawa jenazah JT ke Polres Sumba Barat dan menuntut jenazah disemayamkan di dalam kantor polisi, memicu kericuhan pada Selasa, 15 September 2026.
- Massa mendobrak pintu, menyerang aparat dengan parang dan batu, sementara polisi melepaskan tembakan peringatan serta gas air mata untuk membubarkan kerumunan.
- Polda NTT menyebut JT, residivis pencurian ternak, meninggal setelah tertembak saat melawan dan melarikan diri; keluarga kemudian mendatangi polres sambil membawa jenazah.
Kupang, IDN Times - Suasana mencekam menyelimuti Markas Polres Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada petang hari Selasa (15/9/2026). Sekelompok warga dari Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli, menggeruduk kantor polisi tersebut dalam sebuah aksi protes yang tak biasa. Mereka datang tidak hanya membawa amarah, tetapi juga membawa serta jenazah salah satu warga desanya.
Ketegangan memuncak dan berujung ricuh ketika massa secara mengejutkan menuntut agar jenazah tersebut disemayamkan tepat di dalam gedung utama kepolisian. Tuntutan ini sontak memicu aksi saling dorong antara warga yang emosional dengan aparat penegak hukum yang berjaga.
Peristiwa dramatis ini terekam jelas dan menyebar luas melalui siaran langsung (live) di akun Facebook bernama Pele Za. Dalam tayangan yang beredar, terlihat keputusasaan dan kemarahan massa yang berusaha mendobrak masuk ke dalam markas kepolisian.
Pemandangan yang paling menyita perhatian adalah ketika sejumlah pria secara paksa mendorong ranjang pembawa jenazah tersebut menabrak pintu kaca Polres Sumba Barat. Pintu itu tampak sudah ditutup rapat dan ditahan dari dalam oleh anggota kepolisian yang berusaha mencegah massa merangsek masuk.
1. Polisi lepas tembakan beberapa kali dan lontarkan gas air mata

Ricuh warga di Polres Sumba Barat, NTT, bawa jenazah dan serang kantor polisi. (Facebook.com/Pele Zha) Situasi di depan pintu utama itu kian tak terkendali. Kericuhan memanas ketika seorang pria tiba-tiba mengacungkan parang dan menendang pintu kaca hingga celah terbuka. Memanfaatkan celah tersebut, sejumlah massa nekat menyerobot masuk.
Dengan penuh amarah, mereka menyerang barisan aparat yang telah bersiaga dengan tameng anti huru-hara. Di tengah kekacauan dan tebasan parang itu, warga terus mendorong paksa ranjang pembawa jenazah hingga berhasil menembus masuk ke dalam markas.
Gempuran massa yang membabi buta sempat membuat barisan petugas terdesak mundur. Namun, tak berselang lama, suasana dipecahkan oleh tiga kali letupan tembakan peringatan dari dalam kantor polisi. Suara tembakan itu seketika membuat langkah massa terhenti dan memaksa mereka menarik diri ke luar.
Sayangnya, ketegangan tak lantas menyusut. Dua tembakan beruntun kembali terdengar hingga mengakibatkan salah satu pintu kaca hancur berantakan. Tak ingin mengambil risiko lebih jauh, polisi akhirnya melontarkan tembakan gas air mata bertubi-tubi untuk memecah konsentrasi massa.
Kepulan asap putih yang perih awalnya berhasil membuat kerumunan warga berhamburan menjauhi area Mapolres. Namun, alih-alih mereda, perlawanan justru berlanjut. Warga kembali merangsek mendekat dan melancarkan serangan balasan berupa hujan batu. Serangan bertubi-tubi ini membuat aparat kewalahan, hingga formasi penjagaan pun terpecah dan petugas terpaksa mundur mencari perlindungan.
2. Sebut pelaku tewas terkena tembakan saat kabur dari petugas

Ricuh warga di Polres Sumba Barat, NTT, bawa jenazah dan serang kantor polisi. (Facebook.com/Pele Zha) Teka-teki di balik kemarahan warga akhirnya mulai terjawab menjelang malam. Kabid Humas Polda NTT, Henry Novika Chandra, dalam keterangan sementaranya mengungkapkan bahwa jenazah yang dibawa oleh massa tersebut berinisial JT (39). JT dilaporkan tewas tertembak oleh anggota kepolisian saat petugas berupaya melakukan penangkapan.
Menurut Henry, JT merupakan seorang residivis kasus pencurian ternak. Keterlibatan JT dalam sindikat ini terungkap setelah pihak kepolisian melakukan pendalaman kasus terhadap tiga terduga pelaku lain yang telah diamankan, yakni YKM, ASBKL (46), dan KY (35).
Petaka bermula ketika aparat mendatangi kediaman JT. Bukannya menyerahkan diri, JT disebut justru memberikan perlawanan sengit menggunakan parang dan berusaha melarikan diri.
Situasi tersebut membuat petugas terpaksa melepaskan tiga kali tembakan peringatan ke udara. Namun, karena JT tak kunjung berhenti, polisi akhirnya mengambil tindakan tegas. Nahas, niat awal untuk melumpuhkan terduga pelaku justru berujung fatal karena insiden yang tak terduga.
"Kasus ini bermula dari penangkapan pelaku tindak pidana pencurian ternak. Untuk melumpuhkan JT dengan tegas dan terukur, anggota melepaskan satu kali tembakan ke arah kaki. Namun, yang bersangkutan di saat yang sama terjatuh, sehingga peluru tersebut justru mengenai bahu sebelah kanan," ungkap Henry dalam keterangan resminya, Selasa malam (15/9/2026).
3. Kapolres sempat temui massa

Ricuh warga di Polres Sumba Barat, NTT, bawa jenazah dan serang kantor polisi. (Facebook.com/Pele Zha) Henry menambahkan, sesaat setelah insiden penembakan, anggota di lapangan segera mengevakuasi JT ke Rumah Sakit Kristen Lende Moripa Waikabubak untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun nahas, nyawanya tak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia beberapa saat kemudian.
Kabar duka inilah yang menjadi pemicu kemarahan keluarga. Buntut dari kejadian tersebut, pihak keluarga yang tak terima atas kematian JT menggalang massa dan nekat membawa jenazahnya menggeruduk Mapolres Sumba Barat.
Pihak kepolisian bukannya tanpa upaya mediasi. Kapolres Sumba Barat, AKBP Yohanis Nisa Pewali, dalam rekaman video yang beredar, tampak turun tangan langsung mencoba meredam amarah warga. Ia berupaya melakukan pendekatan persuasif dan membujuk massa agar membawa pulang jenazah untuk disemayamkan dengan layak.
Namun, negosiasi tersebut menemui jalan buntu. Warga yang kadung emosi bersikukuh menolak arahan tersebut dan tetap memaksa mendorong masuk keranda jenazah ke dalam markas.
Kebuntuan inilah yang memicu eskalasi konflik secara cepat. Situasi yang memanas akhirnya pecah; aparat Polres Sumba Barat terpaksa melepaskan tembakan peringatan dan melontarkan gas air mata guna mengurai kerumunan massa, yang kemudian dibalas secara sporadis oleh warga dengan hujan batu ke arah petugas.
![[CEK FAKTA] Benarkah Dapur MBG di Lombok Dibakar Massa?](https://image.idntimes.com/post/20260915/img-20260915-wa0066-1_adfccf25-0856-4e90-ba1a-14c19916948c.jpg)


















