Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Tips Orangtua Memvalidasi Emosi Anak tanpa Memanjakannya

Kota Mataram
3 min read
6 Tips Orangtua Memvalidasi Emosi Anak tanpa Memanjakannya
Seorang ibu sedang menemani anaknya bermain. (pexels.com/Sergey Makashin)
  • Validasi emosi berarti mengakui perasaan anak tanpa membenarkan semua perilakunya, sehingga anak lebih mudah diajak bekerja sama dan memahami tanggung jawab.
  • Orang tua disarankan mendengarkan sebelum mengoreksi, memakai kalimat tidak menghakimi, serta membantu anak mengenali dan menamai emosi yang dirasakan.
  • Empati perlu berjalan bersama batasan yang tegas dan konsisten; orang tua juga menjadi contoh pengelolaan emosi agar anak belajar merespons perasaan secara sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memvalidasi emosi anak sering disalahartikan sebagai menuruti semua keinginannya. Banyak orang tua khawatir bahwa ketika mereka terlalu memahami perasaan anak, anak akan menjadi manja, lemah, atau sulit diatur. Padahal, validasi emosi tidak berarti membenarkan semua perilaku, melainkan mengakui bahwa perasaan anak itu nyata dan layak dihargai.

Dalam psikologi perkembangan, validasi emosi justru membantu anak belajar mengelola perasaan secara sehat. Anak yang emosinya diterima akan lebih mudah diajak bekerja sama, memahami batasan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Berikut 6 cara memvalidasi emosi anak tanpa kehilangan peran orang tua sebagai pembimbing.

  1. 1. Dengarkan perasaan anak sebelum mengoreksi perilakunya

    Kedua orang tua sedang menemani anaknya bermain.
    Kedua orang tua sedang menemani anaknya bermain. (pexels.com/Anastasiya Gepp)

    Saat anak marah, kecewa, atau sedih, banyak orang tua langsung menasihati atau menegur perilakunya. Padahal, anak lebih membutuhkan didengar terlebih dahulu sebelum diarahkan.

    Psikolog John Gottman menjelaskan bahwa mengenali dan menerima emosi anak adalah langkah awal agar anak merasa aman secara emosional. Setelah emosi anak mereda, barulah orang tua dapat membimbing perilakunya tanpa memicu perlawanan.

  2. 2. Gunakan kalimat yang mengakui emosi, bukan menghakimi

    Seorang ibu sedang menemani anaknya bermain.
    Seorang ibu sedang menemani anaknya bermain. (pexels.com/Sergey Makashin)

    Mengganti kalimat seperti “kamu berlebihan” dengan “wajar kalau kamu merasa kesal” dapat membuat anak merasa dimengerti. Validasi tidak berarti menyetujui tindakan anak, tetapi mengakui perasaannya.

    Menurut Carl Rogers, penerimaan tanpa syarat membantu anak merasa dihargai sebagai individu. Anak yang merasa diterima lebih terbuka untuk belajar mengelola emosinya dengan cara yang lebih sehat.

  3. 3. Bedakan antara perasaan dan perilaku anak

    Seorang ibu sedang dicium oleh anaknya.
    Seorang ibu sedang dicium oleh anaknya. (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Anak boleh marah, sedih, atau kecewa, tetapi tidak semua perilaku yang muncul dari emosi tersebut bisa dibenarkan. Orang tua perlu menyampaikan batasan dengan jelas.

    Psikolog Daniel Siegel menekankan pentingnya membantu anak memahami bahwa perasaan selalu boleh dirasakan, tetapi perilaku tetap perlu diarahkan. Pendekatan ini membantu anak belajar tanggung jawab tanpa menekan emosinya.

  4. 4. Bantu anak menamai emosinya

    Seorang anak bersama orang tua sedang di taman.
    Seorang anak bersama orang tua sedang di taman. (pexels.com/RDNE Stock project)

    Anak sering bertindak agresif atau menangis berlebihan karena tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Orang tua dapat membantu dengan menyebutkan emosi yang mungkin dialami anak.

    Menurut Susan David, psikolog yang meneliti emotional agility, kemampuan mengenali dan menamai emosi membantu anak mengelola perasaan dengan lebih baik. Ini bukan memanjakan, melainkan membekali anak dengan keterampilan emosional penting.

  5. 5. Tetap tegas pada batasan meski empatik

    Seorang ibu sedang mengajari anak-anaknya memasak.
    Seorang ibu sedang mengajari anak-anaknya memasak. (pexels.com/Elina Fairytale)

    Validasi emosi harus berjalan seiring dengan ketegasan. Orang tua dapat bersikap lembut dalam memahami perasaan anak, namun tetap konsisten pada aturan.

    Psikolog Diana Baumrind, pencetus konsep pola asuh demokratis, menjelaskan bahwa kombinasi kehangatan dan batasan yang jelas membuat anak merasa aman sekaligus bertanggung jawab. Inilah fondasi pola asuh yang sehat.

  6. 6. Jadilah contoh dalam mengelola emosi

    Seorang anak sedang digendong oleh orang tuanya di taman.
    Seorang anak sedang digendong oleh orang tuanya di taman. (pexels.com/Gustavo Fring)

    Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat dibandingkan apa yang ia dengar. Ketika orang tua mampu mengelola emosinya dengan tenang, anak akan meniru cara tersebut.

    Menurut Albert Bandura, melalui social learning theory, anak belajar perilaku emosional dari figur terdekatnya. Orang tua yang mampu memvalidasi emosinya sendiri akan lebih mudah memvalidasi emosi anak tanpa reaksi berlebihan.

    Memvalidasi emosi anak bukanlah tentang memanjakan, melainkan tentang mengajarkan anak memahami dirinya sendiri. Dengan mendengarkan, mengakui perasaan, dan tetap menetapkan batasan yang sehat, orang tua membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional. Anak yang divalidasi emosinya akan belajar bahwa perasaan boleh hadir, tetapi tanggung jawab tetap harus dijalani.

    Itulah 6 cara memvalidasi emosi anak tanpa kehilangan peran orang tua sebagai pembimbing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More