Program Edukasi Sampah Sekolah di KSB Raih Penghargaan Lestari Awards 2026

- PT Amman Mineral Nusa Tenggara meraih Lestari Awards 2026 kategori Waste Management berkat Program Pengelolaan Sampah Sekolah di Kabupaten Sumbawa Barat.
- Program mengintegrasikan prinsip 3R dalam pembelajaran; siswa dan guru mengolah sampah organik di Rumah Kompos menjadi pupuk POSTA untuk sekolah, masyarakat, pertanian, dan reklamasi.
- Sejak 2022, PPSS berkembang menjadi enam sekolah aktif, mengelola lebih dari 150 ton sampah organik, menghasilkan 50 ton POSTA, serta menghindari 11 ton emisi pada 2025.
Mataram, IDN Times - Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS) menjadi salah satu inovasi yang mengajarkan siswa mengelola sampah sejak dini melalui penerapan ekonomi sirkular. Lewat program ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang untuk membangun kebiasaan memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah agar memiliki nilai guna.
Keberhasilan program tersebut mengantarkan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) meraih penghargaan kategori Waste Management pada ajang Lestari Awards 2026. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas upaya mengintegrasikan edukasi lingkungan dengan pengelolaan sampah berkelanjutan di sekolah-sekolah Kabupaten Sumbawa Barat.
1. Sekolah dijadikan pusat transformasi perilaku lingkungan

Melalui PPSS, guru mengintegrasikan materi pengelolaan sampah ke dalam proses pembelajaran, sementara siswa memperoleh pengalaman langsung menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pendekatan ini membuat sekolah tidak sekadar menjadi tempat belajar teori, tetapi juga ruang praktik pengelolaan lingkungan sehari-hari.
AMMAN menilai perubahan perilaku menjadi indikator utama keberhasilan program. Kesadaran yang tumbuh di lingkungan sekolah kemudian meluas ke keluarga dan masyarakat sekitar.
“Dengan program ini, AMMAN turut membangun ekosistem yang mengembangkan generasi muda masa depan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Keberhasilan PPSS tidak hanya terlihat dari jumlah sampah yang dikelola, tetapi dari tumbuhnya kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar,” ujar Vice President Policy & Permitting dan Social Impact AMMAN, Priyo Pramono dalam keterangan tertulisnya yang diterima pada Selasa (28/7/2026).
2. Sampah organik diolah menjadi POSTA

Dalam praktiknya, siswa dan guru memilah sampah organik untuk diolah di Rumah Kompos (RUMPOS) menjadi POSTA (Pupuk Organik Sekolah Kita). Kompos tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolah, masyarakat, pertanian, hingga kegiatan reklamasi di wilayah operasional AMMAN.
Skema ini memperlihatkan bagaimana limbah organik dapat kembali ke siklus produktif dan memberikan manfaat nyata. Sekolah pun berperan sebagai simpul ekonomi sirkular yang menghubungkan edukasi, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan hasil olahan.
“Ketika pemahaman bahwa sampah memiliki nilai tumbuh di kalangan siswa, guru, dan keluarga, dampaknya meluas dari sekolah ke masyarakat,” kata Priyo Pramono.
3. Dampak program terukur dan mulai direplikasi mandiri

Sejak dimulai pada 2022, PPSS berkembang dari dua sekolah percontohan menjadi enam sekolah aktif dengan dukungan puluhan relawan karyawan AMMAN. Program ini telah melibatkan ribuan siswa, guru, orang tua, dan masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat.
Selama periode 2022–2025, PPSS berhasil mengelola lebih dari 150 ton sampah organik dan menghasilkan lebih dari 50 ton kompos POSTA. Program ini juga menghindari 11 ton emisi pada 2025 serta mencatat Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,09, yang berarti setiap Rp1 investasi menghasilkan Rp4,09 nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan.


















