Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Densus 88 Antiteror Tangani 6 Anak NTT Terpapar Radikalisme dari Game Online

Kota Kupang
Densus 88 Antiteror Tangani 6 Anak NTT Terpapar Radikalisme dari Game Online
ilustrasi main HP (pexels.com/RDNE Stock Project)
Share Article

Kupang, IDN Times - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror turun tangan langsung menangani enam anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga terpapar paham radikalisme melalui media digital berupa game online. Densus 88 Antiteror akan bekerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Provinsi NTT dalam penanganan tersebut.

Kepala UPTD PPA NTT, Jenny Widayati, mengonfirmasi hal ini, Minggu (26/7/2026). Kerja sama ini lanjutan setelah pendampingan psikososial yang pihaknya berikan kepada anak-anak itu.

1. Diberi materi merakit bom dan membunuh

Roblox
Roblox (https://about.roblox.com/)

Dalam penelusurannya, kata dia, keenam anak ini diketahui terpapar radikalisme lewat game online. Dalam pertemuan melalui game itu, mereka lalu diajak masuk ke dalam grup percakapan di WhatsApp. Kemudian mereka dibagikan materi bermuatan kekerasan dan membahayakan seperti perakitan bom hingga tutorial membunuh.

"Anak-anak tertarik bermain Roblox, lalu ada komunitas yang mengajak mereka masuk ke grup-grup WhatsApp. Di situ ada materi cara merakit bom, ada tutorial bunuh diri, tutorial melakukan pembunuhan," jelas dia

2. Densus 88 masih melakukan penelusuran lanjutan

ilustrasi Densus 88 (IDN Times/Irfan Fathurohman)
ilustrasi Densus 88 (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Saat ini pihaknya bersama Densus 88 dalam proses konseling dan memantau perkembangan para korban usai proses penjangkauan dan asesmen yang sudah dilakukan.

"Sudah dilakukan konseling dan sampai saat ini masih terus memantau kondisi mereka bersama Densus 88," ungkapnya Jenny.

Pihaknya masih mendalami fenomena ini ## karena kemungkinan masih ada korban lainnya yang terpapar hal yang sama. Ia menyebut perluasan penelusuran terhadap korban sementara dilakukan oleh Densus 88.

"Sejauh ini datanya baru itu. Namun, kami tentu tidak mengetahui keseluruhan data yang dimiliki Densus 88," ujarnya.

3. Minta orang tua aktif awasi anak

Ilustrasi main hp (pexels.com/Karolina Grabowska)
Ilustrasi main hp (pexels.com/Karolina Grabowska)

Usai kejadian ini, maka edukasi mengenai bahaya radikalisme kepada pelajar dan mahasiswa penting dilakukan. Ia menyebut UPTD PPA NTT bersama Densus 88 akan mengintensifkan hal tersebut.

"Ini akan disampaikan dalam berbagai kegiatan sosialisasi, termasuk saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS baik sekolah dan kampus, akan disisipkan materi tentang pencegahan radikalisme dan pentingnya penggunaan media digital secara aman," ujar Jenny.

Peran orangtua juga menjadi penting, terutama agar lebih aktif mengawasi aktivitas anak di internet.

"Sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh konten maupun kelompok yang membahayakan," tuturnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More