Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pemuda Lotim ini Bisnis Tanaman Hidroponik, Omzet Rp2 Juta Seminggu

Pemuda Lotim ini Bisnis Tanaman Hidroponik, Omzet Rp2 Juta Seminggu
Rendy Satriawan Jayadi panen tanaman selada miliknya (dok pribadi)

Lombok Timur, IDN Times - Berawal dari hobi dan bermodalkan kuota internet, Rendy Satriawan Jayadi, pemuda asal Rumbuk Kecamatan, Sakra Lombok Timur berhasil mengembangkan tanaman selada sistem hidroponik dengan omzet jutaan rupiah per minggu.

Pemilik Tofonic Faram ini menceritakan awal mula dirinya bergelut di dunia hidroponik sejak tahun 2015 lalu. Saat itu, ia melihat tanan hidroponik di beranda facebooknya kemudian tertarik untuk mencoba bercocok tanam.

"Waktu itu saya masih kuliah, karena saya hobi bercocok tanam akhirnya saya coba-coba dulu membuat hidroponik di halaman kontrakan dengan menggunakan styrofoam. Belajar melalui Facebook dan Google karena waktu itu belum ada di channel YouTube," tuturnya.

1. Belajar dari internet

Tanaman hidroponik milik Rendy (dok pribadi)
Tanaman hidroponik milik Rendy (dok pribadi)

Berbekal pengetahuan yang didapat dari internet tersebut, ia mencoba bercocok tanam tanaman selda di halaman rumahnya dengan bermodalkan delapan paralon. Setelah berhasil, pada tahun 2021 lalu ia kemudian mulai mengembangkan tanaman tersebut dengan menyewa lahan seluas 4 are dengan total modal sebesar Rp55 juta. 

Disebutkan dari 8 meja hidroponik yang baru beroperasi, dirinya bisa meraup omzet Rp1 juta sampai Rp 2 juta per minggu. Selain dijual di tempat dan diambil oleh pengepul, Selada tersebut juga banyak dikirim ke luar daerah seperti Pulau Sumbawa, Bima, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Barat dan Mataram.

"Kalau ke hotel, saya biasa kirim ke Gili Trawangan, Kuta Mandalika dan beberapa hotel di Mataram, Alhamdulillah sudah bisa balik modal," ungkapnya.

2. Harga jual Rp30 ribu sampai Rp35 ribu per kilogram

Rendy Satriawan Jayadi panen tanaman selada miliknya (dok pribadi)
Rendy Satriawan Jayadi panen tanaman selada miliknya (dok pribadi)

Adapun harga jual selada ini dijual dengan harga Rp 30 sampai Rp35 ribu per kilogram, sementara untuk per ikat dijual dengan harga Rp5 ribu. Akan tetapi biasanya pera pembeli lebih memilih membeli per kilogram.

Diakui, kendala yang dialami pada awal terjun ke usaha ini ialah terkait pemasaran, karena tanaman selada ini masih kurang dikenal, sehingga untuk pemasaran ia merasa sedikit kesulitan.

Selain itu, kendala lainnya ialah ketika selada biasa sudah panen raya akan membuat harga selada Hidroponik menjadi anjlok. Karena banyaknya setok selada di pasaran. 

"Itu lebihnya kita menggunakan sistem hidroponik, kita bisa mengatur rotasi penanaman, sehingga kita bisa memprediksi kapan waktu harga akan murah dan mahal," terangnya.

3. Permintaan Selada Hidroponik tinggi

Rendy Satriawan Jayadi panen tanaman selada miliknya (dok pribadi)
Rendy Satriawan Jayadi panen tanaman selada miliknya (dok pribadi)

Diakui Rendy permintaan selada dengan sistem hidroponik sangat tinggi, bahkan dirinya mengaku kwalahan untuk memenuhi permintaan pasar karena hasil panen belum begitu banyak.

"Permintaan sudah banyak bahkan belum bisa memenuhi permintaan pasar karena belum bisa panen dengan sekala besar. InsyaAllah dalam waktu dekat yang delapan mejanya akan saya aktifkan lagi, supaya bisa panen lebih banyak lagi," pungkasnya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More

Gubernur Lantik Kakak Kandung dan Anak Ali BD Jadi Pejabat Eselon II

09 Apr 2026, 20:18 WIBNews