NTB Waspada Kasus Mpox Jelang Balapan MotoGP di Mandalika

Mataram, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus cacar monyet atau monkeypox (Mpox) menjelang gelaran MotoGP Mandalika 2024.
Kepala Dinkes NTB dr Lalu Hamzi Fikri, menyebutkan bahwa Mpox kini menjadi isu global yang juga berdampak di Indonesia.
"Kami sedang memperkuat kewaspadaan, terutama di pintu-pintu masuk, karena meskipun Mpox adalah penyakit lama yang sudah ada sejak tahun 1970-an, kini kasusnya meningkat," ungkap Fikri dalam konfirmasi di Mataram, Sabtu (31/8/2024).
1. Belum ada kasus Mpox di NTB

Menurut Fikri, terdapat 88 kasus Mpox yang tercatat di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir, dengan sebagian besar kasus terjadi di Pulau Jawa. Di NTB, belum ada kasus Mpox yang dilaporkan. Dari 88 kasus yang ada, mayoritas disebabkan oleh hubungan seksual sesama jenis antara pria dan pria.
Penyakit Mpox dapat menular dari hewan ke manusia dan dari manusia ke manusia melalui kontak langsung. Mengingat peningkatan kasus Mpox di negara-negara Afrika dan beberapa negara Asia termasuk Singapura, Dinkes NTB bersama Dinkes kabupaten/kota memperketat kewaspadaan menjelang MotoGP Mandalika 2024.
Fikri menjelaskan bahwa pada 14 Agustus 2024, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan Mpox sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMD). Mpox adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh monkeypox virus (MPXV).
2. Satu kasus suspek negatif Mpox

Data Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dari Juni 2022 hingga Juni 2024, terdapat lebih dari 99.000 kasus Mpox global dengan 208 kematian. Di Indonesia, kasus pertama kali dilaporkan pada 20 Agustus 2022 dengan total 88 kasus hingga 23 Agustus 2024.
Sebagian besar kasus di Indonesia ditemukan di Pulau Jawa. Dari total 88 kasus, 87 kasus sudah dinyatakan sembuh. Sebagian besar penderita Mpox adalah laki-laki, dengan 96,5 persen dari 85 kasus dan mayoritas penularan melalui kontak seksual. Terdapat dua clade (varian) MPXV yang umum, dengan Clade I memiliki tingkat kematian lebih tinggi dibandingkan Clade II.
Di NTB, pernah tercatat satu kasus suspek Mpox di Pulau Sumbawa, namun hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien tersebut negatif Mpox. Hingga kini, belum ada kasus Mpox di NTB, tetapi pemerintah tetap waspada dan mengimbau masyarakat untuk proaktif jika mengalami gejala yang mencurigakan.
3. Gejala Mpox dan pencegahan

Gejala Mpox meliputi demam, sakit kepala hebat, nyeri otot, sakit punggung, lemas, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam kulit. Ruam biasanya muncul dalam 1-3 hari setelah demam dan berkembang dari bintik merah menjadi lepuh berisi nanah, lalu mengeras dan mengelupas. Ruam ini dapat muncul di wajah, telapak tangan, telapak kaki, serta area lainnya seperti mulut, alat kelamin, dan mata.
Mpox menular melalui kontak langsung dengan lesi atau cairan tubuh penderita, serta melalui benda yang terkontaminasi seperti tempat tidur, pakaian, dan handuk. Dinkes NTB mengupayakan pencegahan melalui sosialisasi, kesiapan fasilitas kesehatan, dan penyiapan tata laksana spesimen.
Fikri menambahkan, "Jika mengalami gejala Mpox atau memiliki riwayat kontak dengan penderita, segera pantau tanda-tanda selama 21 hari dan batasi kontak erat dengan orang lain. Hubungi fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan dan perawatan."
Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan, melakukan isolasi mandiri jika terpapar, dan memberi tahu orang yang pernah kontak erat jika dinyatakan positif Mpox. Pemerintah dan fasilitas kesehatan akan memberikan panduan mengenai perawatan dan langkah-langkah yang harus diambil jika terpapar Mpox.



















