BPBD saat membagikan air bersih di Panjang. (IDN Times/istimewa)
Prediksi puncak musim kemarau 2026, wilayah NTB didominasi puncak kemarau pada Agustus dengan luasan 17.663,73 km² atau 90 persen, kemudian Juli 2026 seluas 1.330,86 km² atau 7 persen dan September 2026 seluas 668,73 km² atau 3 persen.
Dibandingkan dengan kondisi normal, kata dia, sebagian besar wilayah NTB yaitu 17.663,73 km² atau 90 persen mengalami puncak musim kemarau yang sama dengan normalnya. Sedangkan 1.330,86 km² atau 7 persen lebih maju dan 668,73 km² atau 3 persen mundur.
Nuga menambahkan, dari sisi durasi, musim kemarau 2026 didominasi rentang 25–27 dasarian dengan luasan 14.944,92 km² atau 76 persen, diikuti 22– 24 dasarian seluas 2.510,09 km² atau 13 persen dan 19–21 dasarian seluas 2.208,32 km² atau 11 persen. Jika dibandingkan normalnya, sebanyak 18.284,31 km² atau 93 persen diprediksi mengalami durasi lebih panjang, dan 1.379,02 km² atau 7 persen lebih pendek dari biasanya.
Dia menjelaskan, kondisi iklim di NTB sangat dipengaruhi oleh fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation), Dipole Mode, sirkulasi Monsun Asia/Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergency Zone). Serta kondisi suhu permukaan air laut di sekitar Laut Indonesia, dan faktor topografi setempat mempengaruhi keberagaman iklim di daerah NTB.
Kondisi ENSO saat ini menunjukkan kondisi Netral dengan indeks -0.28. Kondisi Enso Netral ini akan bertahan hingga pertengahan tahun 2026. "Durasi musim kemarau 2026 ini diprediksi sebagian besar akan lebih panjang dibandingkan dengan normalnya," tandasnya.