Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Konflik Berdarah Adonara Timur, 3 Warga Tewas dan 20 Rumah Dibakar

Konflik Berdarah Adonara Timur, 3 Warga Tewas dan 20 Rumah Dibakar
Evakuasi jenazah korban konflik di Adonara Timur. (Dok Polres Flores Timur)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Tiga warga tewas dan tujuh luka-luka akibat bentrokan antarwarga Desa Narasaosina dan Waiburak di Adonara Timur, dengan sekitar 20 rumah dilaporkan dibakar massa.
  • Aparat gabungan TNI-Polri menempatkan ratusan personel di tiga pos pengamanan untuk menjaga situasi yang kini mulai kondusif pascabentrokan berdarah tersebut.
  • Konflik dipicu sengketa lahan adat yang telah lama berlangsung, dengan eskalasi besar terjadi sejak Maret hingga Juli 2026 meski sebelumnya sempat dilakukan penyerahan senjata oleh warga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kupang, IDN Times - Konflik antarwarga di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memanas hingga menewaskan tiga orang. Bentrokan berdarah yang melibatkan warga Desa Narasaosina dan Dusun Bele, Desa Waiburak, itu terjadi pada Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 06.30 WITA.

Dua dari tiga korban tewas, yakni Nayamudin Iskandar (21), warga Desa Waiburak, dan Petrus Kopong Epit, warga Desa Narasaosina, telah dimakamkan pada hari yang sama. Sementara satu korban lainnya juga meninggal dunia dalam insiden tersebut.

1. Ada 7 warga luka-luka

Petugas kepolisian mengevakuasi jenazah korban konflik ke atas mobil polisi di Adonara Timur, disaksikan sejumlah warga di lokasi.
Evakuasi jenazah korban konflik di Adonara Timur. (Dok Polres Flores Timur)

Informasi tersebut disampaikan Wakapolres Flores Timur, Kompol Ketut Mastina, dalam keterangannya Minggu (19/7/2026). Ia menyebut korban ketiga bernama Hope (60) dari Desa Narasaosina yang berhasil dievakuasi beberapa jam setelah meninggal. Sebelumnya jasad pria ini dibiarkan di jalan Desa Waiburak karena terhalang oleh warga yang masih berkumpul di lokasi bentrokan itu.

"Korban satunya sudah diserahkan kepada pihak keluarga oleh Forkopimda didampingi personel kepolisian dan TNI. Keluarga berencana memakamkannya Minggu ini," ujar Ketut.

Peristiwa tragis ini juga mengakibatkan tujuh warga mengalami luka-luka dan mendapat perawatan RSUD Larantuka juga dievakuasi ke rumah sakit di Lewoleba, Kabupaten Lembata.

"Ada juga 20 rumah warga dibakar massa," tukasnya.

2. Aparat berjaga di beberapa titik

Aparat gabungan TNI dan Polri berdiskusi di jalan desa Adonara Timur dengan latar pepohonan dan warga sekitar yang menyaksikan.
Aparat gabungan TNI Polri bersiaga di lokasi bentrok Adonara Timur. (Dok Polres Flores Timur)

Saat ini, kata dia, situasi Adonara Timur berangsur kondusif karena aparat gabungan TNI dan Polri terus berjaga-jaga di lokasi.

"Ratusan personel ditempatkan di tiga pos pengamanan, yakni Pos Susteran, Pos Dusun Bele di Desa Waiburak, dan Pos Desa Narasaosina," tukasnya.

Sebelumnya, Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra menyatakan pihaknya masih mendalami pemicu bentrokan ini dengan mengumpulkan keterangan saksi dan barang bukti. Konflik antara kedua desa ini, lanjut dia, bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, konflik ini diketahui akibat sengketa lahan adat yang telah lama terjadi di wilayah perbatasan kedua kampung. Bentrokan pada Maret lalu itu menyebabkan sejumlah warga juga mengalami luka tembak akibat senjata rakitan dan beberapa rumah dilaporkan terbakar.

3. Kronologis bentrokan berturut-turut

Beberapa senjata api rakitan berwarna hitam yang diamankan Polres Flores Timur dari warga Adonara diletakkan di atas meja kayu.
Polres Flores Timur amankan senjata api dan senjata tajam yang dikumpulkan warga Adonara secara sukarela. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Sebelumnya diberitakan, konflik ini berbasis klaim kepemilikan tanah adat di perbatasan kedua desa. Sudah beberapa kali terjadi gesekan, tapi eskalasi besar terjadi pada 2026.

Bentrok pertama pecah pada 6 Maret 2026 yang mana dalam saling serang antar kedua kelompok ini menggunakan senjata api rakitan, panah, bom dan lain-lain hingga beberapa rumah, gudang kopra, kios, dan bangunan rusak dan terbakar. Akibatnya ada warga terluka dari kedua belah pihak namun tidak diketahui jumlah pastinya dan tak ada korban jiwa. Bentrok susulan kemudian pecah pada 9 Mei 2026.

Konflik ini sempat redam dan kedua belah pihak menyerahkan ratusan senjata mulai dari senjata api rakitan hingga busur dan anak panah mulai 17 Mei 2026.

“Saat ini situasi mulai terkendali, tetapi kami tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga keamanan dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh keadaan,” kata Adhitya.

Share Article
Editorial Team

Latest News NTB

See More