Kloter Terakhir Diterbangkan, 3 JCH NTB Gagal Berangkat Haji 2026

- Pemberangkatan jemaah haji Embarkasi Lombok resmi berakhir dengan total 5.861 orang berangkat, sementara tiga jemaah asal NTB batal karena kondisi kesehatan tidak memenuhi syarat istita’ah.
- Sepuluh jemaah yang sempat tertunda akhirnya diberangkatkan setelah dinyatakan pulih, sementara tren penyakit jantung meningkat signifikan hingga menjadi penyebab rujukan terbanyak tahun ini.
- Pihak kesehatan mengusulkan jemaah asal Pulau Sumbawa masuk kloter awal dan mengimbau seluruh jemaah menjaga stamina serta hidrasi menghadapi cuaca ekstrem di Tanah Suci.
Mataram, IDN Times - Pemberangkatan Jemaah Calon Haji (JCH) Embarkasi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi berakhir seiring diterbangkannya kloter terakhir atau Kloter 15 Embarkasi Lombok pada Minggu malam (10/5/2026) pukul 23.50 WITA. Tercatat sebanyak tiga jemaah asal NTB dipastikan gagal berangkat ke Tanah Suci karena kondisi kesehatan yang tidak memenuhi kriteria istita'ah.
Ketua Tim Kerja 4 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Mataram dr. Ferry Wardhana mengatakan bahwa pada musim haji tahun ini pemeriksaan kesehatan dilakukan jauh lebih ketat mengikuti regulasi terbaru dan kewaspadaan terhadap standar skrining di Arab Saudi. Dari total jemaah yang masuk asrama, tiga orang harus dibatalkan keberangkatannya.
"Yang kita tunda tahun ini ada tiga (batal). Pertama karena patah tulang paha, kedua karena TBC, dan ketiga karena demensia. Tiga-tiganya sudah dipulangkan ke daerah asal," kata Ferry.
1. Sepuluh jemaah batal tunda diterbangkan pada kloter terakhir

Selain tiga jemaah yang gagal berangkat haji tahun 2026, terdapat 10 orang jemaah yang sebelumnya sempat tertunda keberangkatannya, berhasil diberangkatkan di kloter 15 Embarkasi Lombok. Sebanyak 10 jemaah tersebut terdiri dari 8 orang dalam kondisi sakit dan 2 orang pendamping.
Namun, menjelang keberangkatan jemaah haji kloter terakhir, 8 jemaah yang sakit dinyatakan pulih dan laik terbang, termasuk dua orang pendamping. Ferry mengungkapkan pada tahun ini pihaknya mencatat pergeseran tren penyakit pada jemaah haji Embarkasi Lombok.
Penyakit jantung yang sebelumnya jarang masuk dalam daftar 10 besar, kini melonjak drastis hingga mencapai 18 persen. "Tahun-tahun lalu paling hanya 5 sampai 7 persen. Sekarang (penyakit) jantung menjadi penyebab rujukan terbanyak, disusul anemia dan gangguan irama jantung," tuturnya.
Bahkan, terdapat satu jemaah yang harus menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung (pacemaker) di RSUD NTB. Setelah menjalani masa pemulihan yang cukup, akhirnya jemaah haji tersebut diizinkan berangkat pada kloter terakhir.
2. Sarankan jemaah asal Pulau Sumbawa diberangkatkan pada kloter awal

Pihaknya memberikan catatan evaluasi penting untuk pelaksanaan musim haji tahun depan, khususnya bagi jemaah asal Pulau Sumbawa seperti Bima dan Dompu. Jarak tempuh yang jauh menuju Embarkasi Lombok di Kota Mataram seringkali memperburuk kondisi kesehatan jemaah.
Ferry mengusulkan agar jemaah haji dari Pulau Sumbawa dapat dimasukkan ke kloter awal. Tujuannya, jika ada jemaah yang jatuh sakit saat tiba di Asrama Haji NTB, petugas kesehatan memiliki waktu perawatan yang lebih panjang sebelum seluruh rangkaian pemberangkatan jemaah haji berakhir.
3. Jemaah diminta menjaga stamina jelang puncak haji

Ferry menambahkan pihaknya juga sudah mengimbau para jemaah haji Embarkasi Lombok yang tiba di Arab Saudi rutin minum air putih untuk menghindari dehidrasi mengingat cuaca di Tanah Suci cukup ekstrem. Menurutnya, kondisi cuaca yang cukup panas sangat berisiko bagi jemaah yang mengidap penyakit jantung.
"Sekarang lagi puncak-puncaknya peningkatan suhu. Suhu tinggi dengan penyakit jantung itu berbahaya. Jadi orang lebih cenderung terkena dehidrasi, dehidrasi itu akan memacu denyut jantung dan akan menjadikan penyakit jantungnya semakin berat," kata dia.
Selain itu, jemaah haji NTB supaya tidak memaksakan ibadah sunah yang menguras fisik secara berlebihan. Jemaah disarankan menjaga stamina untuk puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Petugas kesehatan di Arab Saudi melakukan pengawasan terutama bagi lansia lima hari sebelum dan sesudah pelaksanaan puncak ibadah haji.
"Jadi lima hari mendekati Armuzna dan lima hari pasca Armuzna itu harus diawasi dengan ketat karena biasanya di situlah angka kematian tinggi. Kementerian Kesehatan memang sekarang lagi mengetatkan pengawasan terhadap jemaah, utamanya lansia," tandasnya.
Berdasarkan data PPIH Embarkasi Lombok, total jemaah termasuk petugas haji pada 2026 sebanyak 5.864 orang. Sampai kloter terakhir, sebanyak 5.861 orang jemaah haji NTB yang diberangkatkan ke Arab Saudi. Karena tiga orang calon jemaah NTB gagal berangkat haji dengan alasan kondisi kesehatan.

















