Undana Kupang Tunggu Pembahasan Resmi untuk Terlibat pada Program MBG

- Universitas Nusa Cendana Kupang masih menunggu pembahasan resmi terkait izin keterlibatan dalam program Makanan Bergizi Gratis dari Badan Gizi Nasional.
- Keterlibatan Undana difokuskan pada pengembangan teaching factory sebagai model dapur produksi makanan bergizi berbasis riset untuk mendukung program prioritas nasional.
- Undana sebelumnya telah menjadi mitra pemerintah melalui CoE-PPG bersama UNICEF dan Pemprov NTT guna memperkuat penelitian gizi serta menekan angka stunting di wilayah tersebut.
Kupang, IDN Times - Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menunggu pembahasan formal terkait izin keterlibatan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Rektor Undana Kupang, Jefri Bale menyampaikan ini saat diwawancarai terkait izin bagi kampus dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk terlibat dalam program MBG. Namun dalam pembahasan secara non-formal, kata dia, keterlibatan kampus akan lebih kepada teaching factory (TeFa) di kampus.
Sebelumnya, UNICEF bersama Pemerintah Provinsi NTT juga menggandeng Undana dengan mendirikan Pusat Unggulan (Center of Excellence) Pangan atau Gizi atau CoE-PPG sejak April lalu. Dengan kerja sama itu, Undana juga diharapkan menjadi motor pendukung MBG di NTT.
1. Peran penguatan riset

Menurut Jefri, dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sendiri menyebut keterlibatan kampus lebih khusus pada TeFa MBG, terutamanya terkait riset. TeFa MBG sendiri adalah model dapur produksi makanan bergizi yang diintegrasikan ke dalam lingkungan seperti perguruan tinggi.
"Yang disampaikan Pak Menteri kalau yang saya lihat di media itu kita lebih kepada teaching factory. Jadi kalau kampus itu diberikan kesempatan, memang penguatannya lebih kepada penerapan-penerapan riset untuk mendukung program prioritas nasional seperti MBG," jelas dia saat diwawancarai Selasa (5/5/2026).
2. Perlu pembahasan formal

Ia menyebut bila nantinya berjalan maka TeFa MBG Undana bisa menjadi contoh atau model dalam penerapan MBG lebih baik lagi di wilayah NTT.
"Sehingga modelnya itu bisa menjadi contoh bagi pengelolaan dapur MBG yang ada di Indonesia dan terlebih khusus di Nusa Tenggara Timur," kata dia lagi.
Terkait penerapan lebih lanjut, kata dia, masih memerlukan pembahasan resmi namun sebelumnya telah disampaikan secara non formal agar dipertimbangkan pasca terlibatnya Unhas Makassar.
"Secara formal belum ada tapi ini kan kemudian sudah disampaikan untuk dipikirkan sehingga kemarin teman-teman dari Unhas sudah di-launching kalau tidak salah. Jadi untuk Undana terlibat sebagai mitra atau seperti apa, kita tunggu," lanjut dia.
3. Izin dari BGN

Sebelumnya Undana resmi menjadi mitra pemerintah sebagai CoE-PPG yang berperan dalam penelitian medis dan gizi, edukasi masyarakat, hingga menjadi laboratorium pengujian. Kerjasama ini diharapkan menekan angka stunting secara signifikan melalui intervensi gizi yang lebih presisi.
Kemudian Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, juga menegaskan izin bagi perguruan tinggi dalam mendukung program MBG. Kampus didorong untuk membangun dan mengelola SPPG secara mandiri, sekaligus menjadikannya sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik.
"Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujar Dadan pada Forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) April lalu.


















![[QUIZ] Anak Sulit Jujur ke Orangtua? Cari Tahu Alasannya Lewat Kuis Ini!](https://image.idntimes.com/post/20260224/pexels-olia-danilevich-8562071_33d55d99-1339-456b-8216-c1d90ff96909.jpg)