Kepala Dinkes NTB dr. Lalu Hamzi Fikri. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB dr. Lalu Hamzi Fikri mengatakan telah dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) pada seluruh Puksesmas di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu untuk menekan kasus campak. Dengan prioritas ORI diberikan bagi bayi dan balita berusia 9 sampai dengan 59 bulan.
Dinas Kesehatan meminta hampir 20 ribu vial vaksin campak ke Kemenkes untuk penanganan KLB campak di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu. Kemenkes sudah merespons permintaan tersebut dengan mengirimkan 20 ribu vial atau 200 ribu dosis vaksin campak ke NTB.
Selanjutnya, vaksin tersebut telah didistribusikan ke tiga kabupaten/kota untuk dilakukan imunisasi kepada masyarakat kelompok rentan terutama bagi bawah lima tahun (balita). Kegiatan ORI dilakukan di 38 puskesmas pada tiga kabupaten/kota yang berstatus KLB tersebut.
Jumlah target sasaran imunisasi campak di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu sebanyak 81.237 jiwa. Fikri mengungkapkan imunisasi campak dapat menekan peningkatan kasus. Beberapa waktu lalu dilakukan kunjungan pada dua puskesmas, dimana imunisasi campak sudah di atas 90 persen, jumlah kasus suspek campak menurun.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB hingga pekan ketujuh tahun 2026, tercatat total 985 kasus suspek campak di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu. Peningkatan kasus dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) lengkap.
Kasus suspek campak di tiga kabupaten/kota tersebut didominasi oleh balita. Sebagian besar kasus terjadi pada anak dengan status imunisasi tidak lengkap atau belum pernah diimunisasi. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya KLB.
Pemprov NTB bersama pemerintah kabupaten/kota telah mengambil langkah dengan melakukan penguatan surveilans aktif dan pelacakan kontak di tingkat desa dan puskesmas. Selain itu pelaksanaan. Langkah penanganan juga dilakukan dengan pemberian vitamin A pada kasus campak untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko kematian.
Selanjutnya, penguatan edukasi masyarakat mengenai gejala campak, pentingnya imunisasi lengkap, dan segera berobat ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala demam disertai batuk atau pilek dan ruam. Serta menjamin ketersediaan logistik KLB, termasuk vaksin, vitamin A, dan dukungan tata laksana klinis di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
Upaya lainnya dengan penguatan triase isolasi campak di fasyankes yang fokus pada pemisahan cepat suspek dengan gejala demam, ruam, batuk atau pilek di Instalasi Gawat Darurat (IGD) atau rawat jalan. Penyediaan area isolasi khusus serta penanganan segera pasien dengan komplikasi sesak, diare, sulit makan untuk mencegah penularan intensif, terutama saat lonjakan kasus KLB.