Kasus DBD di Kota Bima Melonjak, RSUD Terpaksa Menolak Pasien Baru

Kota Bima, IDN Times - Pasien demam berdarah dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kota Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) disebutkan mengalami lonjakan drastis. Sejumlah pasien baru yang hendak dirujuk terpaksa ditolak dan agar dirawat di rumah sakit terdekat.
Salah seorang warga Kelurahan Tanjung bernama Tina membenarkan, kondisi terkini terjadi di RSUD Kota Bima. Hal itu diketahui ketika ia hendak merujuk orangtuanya yang menderita penyakit gula.
"Kata pegawai di sana, ruangan untuk pasien DBD sudah full. Bahkan ada juga saya lihat, sampai ditulis di jendela full bed," jelas dia dikonfirmasi IDN Times, Jum'at (30/12/2022).
1. Terpaksa dirawat di rumah

Tina menceritakan pengalamannya saat berada di RSUD Kota Bima saat mengantarkan orangtua berobat. Saat itu, orangtuanya terpaksa dipulangkan karena kehabisan kamar inap rumah sakit.
Orangtuanya pun terpaksa menjalani prosesi rawat jalan di rumahnya Kelurahan Tanjung Kecamatan Rasana'e Barat.
"Iya dia sudah dirawat di rumah sekarang. Mau gimana lagi, karena ruang perawatan di RSUD Kota Bima sudah penuh," terang dia.
2. Lonjakan pasien terjadi satu bulan terakhir

Sementara itu, Kepala RSUD Kota Bima Faturrahman membenarkan kondisi rumah sakitnya yang kehabisan ruang rawat inap pasien. Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung selama satu bulan terakhir selama lonjakan pasien di Bima.
Meskipun demikian, ia membantah akibat ada lonjakan pasien DBD. Melainkan terjadi lonjakan penyakit berbasis lingkungan lain.
"Full bed bukan karena pasien DBD saja, tapi pasien penyakit lain juga saat ini meningkat," jelas dia dihubungi IDN Times.
3. Pasien baru ditolak

Kondisi ini kata Faturrahman memaksa pihaknya menolak pasien baru. Terutama bagi pasien yang tidak membutuhkan penanganan darurat, sementara pasien darurat tetap diberikan penanganan awal.
"Setelah itu, baru kami carikan ruang perawatan di rumah sakit lain yang ada di Kota Bima," tuturnya.
Selain ruang perawatan penuh, tindakan ini dilakukan untuk memaksimalkan pelayanan terhadap pasien darurat. Karena jika dipaksakan dirawat di RSUD setempat, dikhawatirkan justru membahayakan kondisi pasien yang bersangkutan.
"Untuk sementara langkah penanganan kami sekarang begitu," tandasnya.



















