Ilustrasi banjir (IDN Times/Istimewa)
Iswadin mengatakan, peralihan sungai sempat dilakukan oleh Pemda Bima dengan menurunkan alat berat beberapa tahun lalu. Ketika baru digali sekitar 1 kilometer, lalu pengerjaan itu diprotes dan dihentikan oleh sejumlah warga.
Mereka menolak lantaran pengalihan sungai tidak diikuti dengan pembangunan bronjong. Karena tanpa bronjong, dikhawatirkan lahan sawah bakal terkikis arus banjir.
"Pemda hanya tanggung alat berat aja, tidak dengan bangun bronjong. Kalau gak ada bronjong, dampaknya pasti sawah warga akan terkikis, makanya mereka tolak," pungkas Iswadin.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bima, Isyrah mengatakan banjir di Desa Pandai mengakibatkan 157 rumah terendam. Selain merendam pemukiman, banjir juga meluap hingga jalan daerah dan jalan lintas provinsi.
"Bencana ini terjadi akibat dari luapan air sungai di sekitar perkampungan," kata Isyrah saat dikonfirmasi Selasa (9/4/2024).
Terkait hal ini, BPBD akan mengusulkan penanganan, pelebaran atau pengalihan aliran sungai setempat. Mulai dari wilayah permukiman warga hingga ke hilir sungai.
"Nanti akan kami usulkan. Biar tidak banjir lagi seperti ini," pungkasnya.