Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jaga Stabilitas Ekonomi NTB, Pusat Kucurkan Belanja Negara Rp13,6 T

Kota Mataram
Jaga Stabilitas Ekonomi NTB, Pusat Kucurkan Belanja Negara Rp13,6 T
Suasana di Pasar Induk Mandalika, Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Belanja negara di NTB mencapai Rp13,65 triliun hingga 31 Juli 2026, setara 55,27 persen pagu, sementara pendapatan negara terealisasi Rp3,68 triliun atau 71,38 persen target.
  • Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp1,517 triliun, didominasi bea keluar Rp1,483 triliun yang melonjak 813,7 persen berkat ekspor konsentrat tembaga.
  • Neraca perdagangan NTB surplus USD1,392 miliar, didukung ekspor USD1,443 miliar; ekonomi tumbuh 7,41 persen, dengan inflasi tahunan 3,01 persen dan deflasi bulanan 0,35 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mataram, IDN Times - Pemerintah Pusat merealisasikan belanja negara di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai Rp13,65 triliun hingga 31 Juli 2026. Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) NTB Ratih Hapsari Kusumawardani mengatakan realisasi belanja negara di NTB telah mencapai 55,27 persen dari total pagu yang dialokasikan pada 2026.

Dia mengatakan kinerja fiskal di provinsi NTB hingga 31 Juli 2026 menunjukkan tren positif yang tercermin dari lonjakan pendapatan negara dan belanja yang optimal. Pendapatan negara berhasil terealisasi sebesar Rp3,68 triliun atau 71,38 persen dari target. Di sisi lain, realisasi belanja negara mencapai Rp13,65 triliun atau 55,27 persen dari total pagu yang dialokasikan.

"Capaian ini menegaskan peran krusial APBN sebagai instrumen penjaga stabilitas ekonomi regional di NTB," kata Ratih di Mataram, Kamis (27/8/2026).

  1. 1. Lonjakan penerimaan bea keluar akibat realisasi ekspor konsentrat

    IMG-20251101-WA0021.jpg
    Aktivitas pertambangan emas dan tembaga di Batu Hijau, Sumbawa Barat, NTB. (dok. AMMAN)

    Hingga Juli 2026, kata dia, realisasi penerimaan pajak di NTB tercatat sebesar Rp1,665 triliun. Ratih mengungkapkan struktur penerimaan pajak masih didominasi oleh Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp818,17 miliar dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp436,4 miliar.

    Lonjakan penerimaan pajak di NTB didorong oleh pertumbuhan pajak lainnya sebesar 27,38 persen (y-on-y) diikuti oleh Pajak Pertambahan Nilai sebesar 19,60 persen (y-o-y) serta Pajak Penghasilan sebesar 1,45 persen (y-o-y). Hal ini menurut Ratih, mencerminkan kekuatan konsumsi domestik dan penghasilan masyarakat di NTB.

    Dia menambahkan, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp1,517 triliun, yang didominasi oleh Bea Keluar Rp1,483 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh lonjakan drastis pada Bea Keluar yang tumbuh 813,7 persen (y-o-y), sejalan dengan tingginya realisasi ekspor konsentrat tembaga akibat kebijakan relaksasi ekspor pada Januari - April 2026.

    "Komponen Cukai juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 1,27 persen (y-o-y), sementara Bea Masuk terkontraksi 32,01 persen (y-o-y) akibat penurunan impor bahan modal dan bahan baku," jelasnya.

    Sedangkan realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) di NTB mencapai Rp500,15 miliar atau 32,71 persen dari target. Dia menjelaskan pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) menyumbang pertumbuhan positif sebesar 10,71 persen (y-o-y), terutama ditopang oleh peningkatan jasa layanan pendidikan. Sementara, komponen PNBP lainnya juga tumbuh sebesar 2,76 persen ditopang oleh pendapatan paspor dan keimigrasian.

  2. 2. Pusat transfer TKD Rp8,66 triliun untuk NTB

    Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi NTB Ratih Hapsari Kusumawardani. (IDN Times/Muhammad Nasir)
    Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi NTB Ratih Hapsari Kusumawardani. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Dari sisi Belanja Pemerintah Pusat (BPP), kata Ratih, sudah terealisasi sebesar Rp4,98 triliun atau 51,72 persen dari pagu. Pertumbuhan belanja ini didorong oleh akselerasi Belanja Pegawai yang naik 26,28 persen y-o-y), Belanja Barang naik 42,60 persen y-o-y), serta lonjakan Belanja Modal sebesar 218,85 persen y-o-y untuk proyek infrastruktur strategis daerah.

    Untuk dana Transfer ke Daerah (TKD), sebut Ratih, telah disalurkan sebesar Rp8,66 triliun atau 57,54 persen dari pagu. Dia menjelaskan realisasi TKD untuk NTB secara persentase tumbuh positif 2,58 persen (y-o-y), terutama realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik yang mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 9,23 persen (y-o-y) untuk mendukung layanan dasar masyarakat.

    Menurutnya, realisasi fiskal yang terjaga di NTB membuktikan bahwa APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber. Sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengoptimalkan serapan anggaran dan menjaga kualitas pelayanan publik menjadi kunci utama.

    "Melalui kombinasi ketahanan fiskal tersebut, percepatan belanja di berbagai sektor ini diharapkan mampu memberikan multiplier effect yang optimal terhadap aktivitas ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, serta terus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB secara berkelanjutan sepanjang tahun 2026," kata dia.

  3. 3. Neraca perdagangan NTB surplus USD 1,39 miliar

    Ilustrasi ekspor. IDN Times/Asrhawi Muin
    Ilustrasi ekspor. IDN Times/Asrhawi Muin

    Ratih juga menyebutkan bahwa realisasi perdagangan NTB hingga Juli 2026 mencatatkan surplus yang sangat signifikan sebesar USD 1,392 miliar. Secara kumulatif sampai dengan Juli 2026, neraca perdagangan melonjak 59,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Kinerja impresif ini, kata dia, didorong oleh nilai ekspor yang mencapai USD 1,443,34 miliar, terutama dari sektor pertambangan melalui konsentrat tembaga. Sementara nilai impor terjaga di angka USD 50,78 juta.

    Dari sisi harga, NTB mencatatkan inflasi tahunan (y-o-y) sebesar 3,01 persen dan mengalami deflasi bulanan (m-t-m) sebesar 0,35 persen. Penurunan inflasi terutama dipicu oleh melimpahnya pasokan bahan pangan pokok akibat masuknya musim panen raya hortikultura serta adanya koreksi harga komoditas global.

    "Pemerintah melalui TPID terus melakukan langkah mitigasi seperti operasi pasar guna memastikan stabilitas harga pangan tetap terjaga," jelasnya.

    Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) NTB ini juga mengungkapkan indikator kesejahteraan produsen dalam kondisi yang kuat dan stabil. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB mencapai 127,83 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) mencapai 113,90. Kedua angka ini berada jauh di atas ambang batas 100 yang menandakan bahwa sektor pertanian dan perikanan di NTB berada dalam kondisi sangat sehat dan produktif.

    Selain itu, pertumbuhan ekonomi NTB tetap solid dengan mencatatkan angka 7,41 persen (y-o-y), didukung oleh konsumsi rumah tangga yang menyumbang 56,19 persen terhadap PDRB serta Penanaman Modal Tetap Bruto yang menyumbang 32,11 persen terhadap PDRB. Dengan fondasi ekonomi makro yang kuat dan dukungan fiskal dari APBN, dia optimistis Provinsi NTB dapat mempertahankan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More