Asesor UNESCO menilai ulang status Geopark Rinjani, Lombok, NTB. (dok. Istimewa)
Meski demikian, Qwadru mengingatkan bahwa status green card membawa tanggung jawab moral yang besar. Masalah pengelolaan sampah (waste management) dan over-tourism tetap menjadi fokus utama manajemen Geopark Rinjani ke depan.
"Tantangan kita bukan lagi soal jumlah kunjungan, melainkan kualitas kunjungan. Kita ingin wisatawan yang datang ke Rinjani adalah mereka yang peduli pada lingkungan," tegasnya.
Pemberdayaan masyarakat juga akan diperluas melalui skema ekonomi kreatif. Produk-produk olahan khas lereng Rinjani, seperti kopi, tenun ikat, serta produk UMKM lainnya mendapatkan label resmi "Geoproduk", yang secara otomatis meningkatkan nilai jualnya di pasar global berkat status UNESCO ini.
Dengan status green card ini, Geopark Rinjani kini menatap visi jangka panjang untuk menjadi model pengelolaan geopark terbaik di Indonesia. Kerjasama internasional dalam bentuk sister geopark dengan beberapa negara seperti Jepang, China dan beberapa negara akan terus diperkuat untuk pertukaran ilmu pengetahuan.
Keberhasilan di tahun 2026 ini menjadi kado istimewa bagi masyarakat NTB. Rinjani kini tidak hanya dikenal karena puncaknya yang menjulang setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut, tetapi juga sebagai simbol harmoni antara manusia dan bumi yang diakui secara universal.
Dia menambahkan, Pemprov NTB melalui Badan Pengelola Geopark Rinjani berkomitmen untuk terus mengalokasikan anggaran dan sumber daya guna memastikan status green card ini tetap bertahan pada siklus revalidasi berikutnya di tahun 2030.
"Ini bukan akhir, melainkan awal dari fase baru. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga Rinjani, karena warisan ini adalah titipan untuk generasi mendatang," tandas Qwadru.