Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Duduk Perkara Eksavator Masuk ke SD Negeri Ende Buat Bangun KDMP

Duduk Perkara Eksavator Masuk ke SD Negeri Ende Buat Bangun KDMP
Alat berat yang masuk SDN Wolomoni untuk pembangunan KDMP. (Dok Istimewa)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Sebuah eksavator masuk ke area SDN Wolomoni di Ende untuk membuka akses pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, memicu penolakan warga dan viral di media sosial.
  • Kepala Desa Niowula menegaskan alat berat tidak bertujuan menggusur sekolah, melainkan membuka jalan desa yang posisinya berdekatan dengan bangunan sekolah.
  • Ia mengakui kesalahan dalam pelaksanaan tanpa koordinasi resmi dengan pihak sekolah dan warga, serta telah meminta maaf atas kericuhan yang terjadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kupang, IDN Times - Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wolomoni di Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendadak viral karena dimasuki eksavator lalu mendapat penolakan warga sekitar.

Peristiwa ini viral di media sosial hingga mendapatkan sorotan. Alat berat tersebut dimaksudkan untuk membuka akses bagi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Dalam video yang beredar tampak kerukan tanah dan tiang besi yang telah dilepas dari bangunan. Video itu mendapat reaksi beragam oleh publik.

1. Pengerahan alat berat bukan untuk menggusur sekolah

Beberapa pekerja mengoperasikan alat berat yang masuk ke area SDN Wolomoni untuk mendukung pembangunan proyek KDMP.
Alat berat yang masuk SDN Wolomoni untuk pembangunan KDMP. (Dok Istimewa)

Kepala Desa Niowula Vinsensius Keli Papa dalam pernyataannya menjelaskan persoalan sekolah tersebut. Menurutnya, sebelum alat berat itu masuk pihaknya sudah membuat permohonan kepada Bupati Ende Yoseph Badeoda sebagai pemilik wilayah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ende sebagai pemilik sekolah.

Namun ia mengakui sudah keliru mengambil tindakan. Ia memastikan proses masuknya kendaraan itu saat para murid sudah habis kegiatan belajar mengajar. Lokasi KDMP ini sendiri berada di belakang sekolah tersebut nantinya.

"Memang belum ada jawaban resmi tapi ada perintah lisan sehingga kami pikir bersama pihak terkait bisa melaksanakan pembangunan KDMP dan mungkin agak keliru pelaksanaannya," jelas dia dalam keterangannya Rabu (10/6/2026).

2. Sebut sekolah mepet jalan desa

Alat berat sedang melakukan penggalian tanah di area SDN Wolomoni sebagai bagian dari proyek pembangunan KDMP.
Alat berat yang masuk SDN Wolomoni untuk pembangunan KDMP. (Dok Istimewa)

Vinsensius juga membantah alat berat yang dikerahkan ini bukan untuk menggusur sekolah namun membuka akses karena bagian dari jalan desa.

"Tidak ada niat kami untuk menggusur sekolah untuk mendirikan KDMP. Itu tidak ada. Yang terlihat di media itu adalah kami berupaya untuk akses masuk. Itu merupakan jalan desa yang kebetulan mepet dengan sekolah dan tidak ada jalan alternatif lain untuk menyeberangkan kendaraan berat tersebut," jelasnya lagi.

Menurutnya karena bangunan sekolah sudah mepet dengan jalan desa sehingga pihaknya terpaksa mencari cara dengan mengeruk tanah. "Itu murni jalan desa jadi kalau terlihat ada garukan tanah itu supaya eksavator bisa melalui jalan itu supaya jangan mengenai bangunan sekolah," tambah dia.

3. Kades akui salah

Logo Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Kupang dengan desain rumah berwarna merah dan putih di dinding abu-abu.
Logo KDMP di Kabupaten Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Vinsensius mengaku bersalah dan telah meminta maaf atas peristiwa yang sempat menghebohkan publik ini. Selain sekolah, kata dia, ada pula warga yang pohon duriannya terdampak aktivitas alat berat tersebut.

"Saya akui pelaksanaan di lapangan masih kurang tertata dengan baik yaitu untuk sinergi dan koordinasi dengan semua pihak. Pihak sekolah maupun durian ia sudah izin namun saat bertepatan dengan alat masuk usai kegiatan belajar mengajar selesai," tambah dia.

Sebelumnya Wakil Kepala Sekolah, Magdalena Masi, menyatakan pihaknya belum menerima surat pemberitahuan atau surat izin resmi terkait kegiatan pembukaan akses tersebut.

"Bilangnya surat dari Pak Bupati ada tapi kami tidak pernah terima. Waktu saya datang itu besi tiangnya sudah dipotong lalu alat beratnya sudah masuk kena juga. Tadi malam itu yang ada ribut-ribut dengan masyarakat di sini," tukasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata

Latest News NTB

See More