Cuaca Dingin Diprediksi Landa NTB hingga Agustus, Ini Penjelasan BMKG!

Mataram, IDN Times – Dalam satu pekan terakhir, masyarakat di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) merasakan suhu udara yang jauh lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari. Fenomena cuaca dingin ini diprediksi masih akan terus melanda wilayah NTB hingga Agustus mendatang.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Lombok, Nabilla Akhirta, menjelaskan bahwa fenomena cuaca terasa dingin ini merupakan hal yang wajar terjadi saat wilayah NTB mulai memasuki musim kemarau. Berdasarkan data pengamatan terbaru di Bandara Internasional Lombok, suhu udara minimum bahkan sempat menyentuh angka 17,5 derajat Celsius.
1. Minim tutupan awan dan rendahnya kelembaban udara

Nabilla menyebutkan ada tiga faktor meteorologis yang saling berkaitan dan menyebabkan cuaca terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari di wilayah NTB. Pertama, minimnya tutupan awan. Pada siang dan sore hari, langit di wilayah NTB cenderung bersih tanpa awan.
Akibatnya, panas matahari yang diserap oleh bumi pada siang hari akan dilepaskan kembali ke atmosfer dengan sangat cepat pada malam hari (proses radiasi balik). Karena tidak ada awan yang menahan, panas tersebut hilang seketika dan memicu penurunan suhu yang drastis.
Faktor kedua, yaitu rendahnya kelembaban udara. Sehingga permukaan bumi tidak bisa menahan panas lebih lama setelah matahari terbenam. Alhasil, udara dingin dari lapisan atmosfer atas lebih mudah turun ke permukaan bumi.
2. Pengaruh Monsun Australia

Faktor ketiga, kata Nabilla, saat ini pergerakan angin di wilayah NTB sudah didominasi oleh angin Monsun Australia. Angin ini bertiup dari benua Australia membawa massa udara yang bersifat kering, sehingga sangat mendukung terciptanya cuaca dingin di NTB.
"Pergerakan angin di wilayah NTB sudah memasuki Monsun Australia yang membawa massa udara bersifat kering, sehingga mendukung kondisi cuaca tersebut," jelas Nabilla.
3. Cuaca dingin di NTB diprediksi hingga Agustus

BMKG memperkirakan kondisi cuaca dingin yang melanda wilayah NTB akan terus bertahan dalam beberapa bulan ke depan. Masyarakat NTB, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan diimbau untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh.
"Kondisi cuaca dingin ini diprediksi akan berlangsung hingga sekitar bulan Agustus," kata Nabilla.
Sebelumnya, BMKG Stasiun Klimatologi NTB memprediksi musim kemarau di NTB datang lebih awal pada dasarian I April 2026. Sebanyak 74 persen wilayah NTB mengalami kemarau, dengan sebagian kecil dimulai sejak Maret hingga awal Mei.
Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo menjelaskan dibandingkan periode normal 1991–2020, sebanyak 70 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih awal, 15 persen sama, dan 15 persen lebih lambat. Dengan sifat hujan didominasi bawah normal sebesar 93 persen yang menandakan kondisi lebih kering dari rata-rata.
Puncak musim kemarau di NTB diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan sebagian besar puncak musim kemaraunya sesuai dengan normalnya. Dari sisi durasi, 89 persen wilayah NTB diperkirakan mengalami kemarau lebih panjang dari biasanya, dengan rentang dominan 25-27 dasarian.
Berdasarkan luas Zona Musim (ZOM), prediksi awal musim kemarau di NTB menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah diperkirakan memasuki musim kemarau pada April 2026 dengan luasan 16.518,87 km² atau 84 persen dari total wilayah.
Selanjutnya, awal musim kemarau terjadi pada Maret 2026 seluas 1.646,43 km² atau 8 persen dari total wilayah dan Mei 2026 seluas 1.498,03 km² atau 8 persen dari total wilayah. Jika dibandingkan dengan periode normal, kata Nuga, prediksi awal musim kemarau didominasi kondisi maju dari normalnya dengan luasan 14.325,27 km² atau 73 persen dari total wilayah.
Sedangkan yang sama dengan normal seluas 2.731,57 km² atau 14 persen dan yang mundur seluas 2.606,48 km² atau 13 persen dari total wilayah. Prediksi sifat hujan pada musim kemarau 2026 didominasi bawah normal dengan luasan 18.777,91 km² atau 95 persen, sementara sifat hujan normal seluas 885,41 km² atau 5 persen dan tidak terdapat wilayah dengan sifat hujan atas normal.
Prediksi puncak musim kemarau 2026, wilayah NTB didominasi puncak kemarau pada Agustus dengan luasan 17.663,73 km² atau 90 persen, kemudian Juli 2026 seluas 1.330,86 km² atau 7 persen dan September 2026 seluas 668,73 km² atau 3 persen. Dibandingkan dengan kondisi normal, sebagian besar wilayah NTB yaitu 17.663,73 km² atau 90 persen mengalami puncak musim kemarau yang sama dengan normalnya. Sedangkan 1.330,86 km² atau 7 persen lebih maju dan 668,73 km² atau 3 persen mundur.
Dari sisi durasi, musim kemarau 2026 didominasi rentang 25–27 dasarian dengan luasan 14.944,92 km² atau 76 persen, diikuti 22– 24 dasarian seluas 2.510,09 km² atau 13 persen dan 19–21 dasarian seluas 2.208,32 km² atau 11 persen. Jika dibandingkan normalnya, sebanyak 18.284,31 km² atau 93 persen diprediksi mengalami durasi lebih panjang, dan 1.379,02 km² atau 7 persen lebih pendek dari biasanya.
Dia menjelaskan, kondisi iklim di NTB sangat dipengaruhi oleh fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation), Dipole Mode, sirkulasi Monsun Asia/Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergency Zone). Serta kondisi suhu permukaan air laut di sekitar Laut Indonesia, dan faktor topografi setempat mempengaruhi keberagaman iklim di daerah NTB.


















