Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kronologi Pendaki Asal Jabar Meninggal saat Mendaki Gunung Rinjani

Kronologi Pendaki Asal Jabar Meninggal saat Mendaki Gunung Rinjani
Proses evakuasi pendaki asal Sukabumi Jawa Barat inisial ES yang meninggal saat mendaki Gunung Rinjani, Kamis (14/5/2026). (dok. BTNGR)

Mataram, IDN Times - Seorang pendaki asal Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) inisial ES (ES), meninggal saat mendaki Gunung Rinjani pada Kamis (14/5/2026). Berdasarkan Aplikasi eRinjani, korban teregistrasi mulai mendaki pada 14 Mei 2026 melalui pintu pendakian Sembalun, Lombok Timur.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Budhy Kurniawan menjelaskan petugas mendapatkan informasi tentang adanya kecelakaan terhadap satu pendaki yang berlokasi di Pos 4 Jalur Pendakian Sembalun pada Kamis (15/5/2026) sekitar pukul 16.30 WITA. Berdasarkan informasi dari Trek Organizer (TO), korban pingsan saat menuju Pelawangan Sembalun.

1. Korban mengalami gagal napas

1778826792579.jpg
Proses evakuasi jenazah pendaki asal Sukabumi Jawa Barat yang meninggal saat mendaki Gunung Rinjani, Kamis (14/5/2026). (dok. BTNGR)

Setelah menerima informasi tersebut, petugas melakukan koordinasi dengan Tim Evakuasi Edelweis Medical Help Center (EMHC) Rinjani. Selanjutnya Tim EMHC menghubungi guide yang bersama korban untuk melakukan asesmen terkait kondisi korban.

Dari hasil asesmen, kondisi korban mengalami gagal napas dan dilakukan proses resusitasi jantung paru (RJP) oleh petugas dengan arahan Tim Medis EMHC Rinjani. Tim Medis EMHC dan korban bertemu di Pos 2 Jalur Pendakian Sembalun, kemudian dilakukan pemeriksaan dan penanganan berikutnya.

2. Kronologi lengkap korban pingsan hingga dinyatakan meninggal dunia

1778826766404.jpg
Jenazah korban dibawa ke RSUD Selong, Lombok Timur. (dok. BTNGR)

Budhy menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa pendaki asal Jawa Barat tersebut berdasarkan infomasi guide yang mendampingi korban. Dari awal pendakian, korban sangat aktif memberikan semangat kepada rekan-rekannya. Saat tiba di Pos 4 Jalur Pendakian Sembalun, sebanyak 18 peserta pendakian termasuk korban istirahat karena cuaca hujan dengan didampingi 2 guide untuk berteduh.

Sekitar pukul 16.00 WITA, hujan reda, kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan Sembalun. Namun sekitar 15 menit jalan kaki, korban membuka jas hujannya dan melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah korban menunduk dan terjatuh pingsan di jalur pendakian.

Oleh guide yang mendampingi dilakukan penanganan awal, seperti menyadarkan korban dengan memanggil nama korban. Namun tidak ada respons, pada saat yang sama kebetulan di jalur tersebut ada seorang dokter yang melakukan pendakian. Kemudian atas arahan dokter tersebut diberikan RJP terhadap korban namun Dia masih belum sadar.

Sekitar pukul 16.30 WITA, petugas TNGR yang piket di Pelawangan Sembalun tiba di lokasi kejadian dengan membawa peralatan rescue dan mendapat arahan penanganan dari Tim medis EMHC dan tetap dilakukan RJP. Sekitar pukul 17.00 WITA, korban dibawa turun ke Pos 2 untuk mendapatkan penaganan lebih lanjut.

Kemudian pukul 19.35 WITA, korban tiba di Pos 2 dan langsung dilakukan pemeriksaan oleh dokter dan korban dinyatakan telah meninggal dunia. Selanjutnya, pada pukul 20.00 WIYA, korban dibawa ke RSUD Selong untuk dilakukan pemulasaran jenazah

3. Jadi pengingat bagi para pendaki

1778826746322.jpg
Jenazah korban dibawa ke RSUD Selong, Lombok Timur. (dok. BTNGR)

Budhy mengatakan peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pendaki bahwa persiapan fisik, mental, dan spiritual sebelum melakukan pendakian merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh dianggap sepele. Setiap pendaki diharapkan memastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat, memiliki stamina yang cukup, tidak memaksakan diri apabila merasa lelah, serta memahami kemampuan diri masing-masing.

"Selain kesiapan jasmani, kesiapan rohani dan mental juga menjadi bagian penting agar pendaki dapat tetap tenang, fokus, dan bijak dalam mengambil keputusan selama perjalanan," kata Budhy.

Dia menambahkan bahwa pendakian bukan ajang pembuktian diri, melainkan perjalanan menikmati alam dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. "Mari bersama-sama mencintai Gunung Rinjani dengan mendaki secara aman, tertib, dan penuh persiapan," ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More

Kronologi Pendaki Asal Jabar Meninggal saat Mendaki Gunung Rinjani

15 Mei 2026, 13:50 WIBNews