Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Diduga Tertekan Biaya Nikah Anak, Plt Kepsek di Lembata Ditemukan Tewas

Diduga Tertekan Biaya Nikah Anak, Plt Kepsek di Lembata Ditemukan Tewas
Ilustrasi meninggal dunia. (IDN Times/Mardya Shakti)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Seorang Plt Kepala SD di Lembata berinisial SK ditemukan meninggal dunia, diduga karena tekanan biaya pernikahan anaknya yang menjadi beban berat secara emosional dan finansial.
  • Istri korban menemukan jasad SK di kebun sekitar 500 meter dari rumah dengan barang bukti berupa parang, buku, bolpoin, dan tali nilon tanpa tanda kekerasan di tubuhnya.
  • Keluarga menolak autopsi dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah, sementara polisi mengimbau masyarakat untuk mencari dukungan jika menghadapi tekanan psikologis serupa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kupang, IDN Times -Seorang pelaksana tugas (Plt) Kepala SD Inpres Lowoblolong berinisial SK (59) diduga mengakhiri hidupnya karena terbebani biaya pernikahan anaknya. Kapolres Lembata, AKBP Nanang Wahyudi membenarkan peristiwa tersebut dan menyebut hal itu diduga menjadi pemicu.

SK ditemukan meninggal dunia tergantung di sebuah pohon di area kebun kawasan Mitematapa pada Selasa (12/5/2026) pagi. Peristiwa itu menggegerkan warga Desa Lolong, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

"Kemungkinan terbebani urusan adat atau perkawinan anak perempuannya,” kata Nanang saat dikonfirmasi, Rabu (13/5/2026).

1. Ditemukan oleh istrinya

Ilustrasi meninggal dunia (IDN Times/istimewa)
Ilustrasi meninggal dunia (IDN Times/istimewa)

Jasad SK pertama kali ditemukan oleh istrinya, LLM (57) yang pada pagi itu tak mendapati suaminya di dalam rumah sekitar pukul 05.30 WITA. Anaknya pun tak mengetahui keberadaan sang ayah saat ia tanyai.

Wanita itu kemudian berupaya mencari-cari di dalam kampung namun suaminya tak ditemukan. Kemudian ia kembali ke rumah dan menyadari parang yang biasa dibawa suaminya ke kebun sudah tidak ada di tempat.

Ia langsung bergegas ke kebun sekitar 500 meter dari Desa Lolong dan ia melihat jaket korban di bawah pohon jambu mente. Ia sempat mengira suaminya sedang beristirahat. Namun ia beberapa kali memanggil namun suaminya tak menjawab hingga akhirnya ia menyadari suaminya tak lagi bernyawa dengan kondisi mengenaskan.

2. Barang bukti di lokasi kejadian

Petugas memegang buku catatan dengan tulisan tangan saat proses identifikasi di lokasi kematian seorang kepala sekolah di Lembata.
Proses identifikasi di TKP kematian seorang kepsek di Lembata. (Dok Polres Lembata)

Ia kembali ke kampung dengan berlari untuk meminta bantuan warga yang sedang bekerja di Koperasi Merah Putih hingga akhirnya sepupu korban, dan warga lainnya memutuskan untuk menurunkan tubuh korban.

"Sehingga jenazah almarhum dibawa pulang menggunakan mobil pikap. Sementara di lokasi petugas menemukan parang, buku, dan balpoin di dekat tubuh korban termasuk tali nilon," lanjut dia lagi.

Jenazah SK juga sempat diperiksa dokter dari Puskesmas Loang melalui pemeriksaan luar. Dokter menyatakan tidak ada tanda kekerasan di tubuh korban.

3. Keluarga tolak autopsi

ilustrasi autopsi (IDN Times/Esti Suryani)
ilustrasi autopsi (IDN Times/Esti Suryani)

Sementara pihak keluarga menolak autopsi dan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah keluarga. Penolakan autopsi ini dinyatakan juga dalam surat pernyataan resmi kepada pihak kepolisian.

"Korban memang tinggal bersama istri dan seorang anak di Desa Lolong. Ia juga baru sekitar satu tahun menjabat sebagai Plt kepala sekolah di SD Inpres Lowoblolong," jelas dia.

Kepolisian mengimbau masyarakat untuk jangan ragu mencari dukungan dari keluarga, sahabat, tenaga kesehatan, atau layanan konseling profesional jika membutuhkan bantuan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More